Surabaya -Selasa (07/12/2021)Pada hari pertama kunjungan kami, kami menetapkan destinasi utama yaitu Tiara Handicraft. Tiara Handicraft adalah salah satu perusahaan UMKM (Usaha Mikro Keci dan Menengah) yang menyediakan berbagai macam kerajinan atau hand made yang mana pegawai dari Tiara Handicraft sediri adalah orang-orang yang memiliki keterbatasan fisik maupun mental (Difabel). Tiara Handicraft bersama orang-orang difabel selama 24 jam membina dan melatih orang-orang difabel agar mereka dapat bersyukur dengan kenyataan pahit yang harus mereka terima dan menumbuhkan bakat-bakat terpendam para difabel.

Tiara Handricaft didirikan pada tahun 1995 di Surabaya Jawa Timur yang didirikan oleh seorang wanita yang sangat menginspirasi para kaum hawa untuk tetap eksis dalam berbisnis namun tidak dengan menghilangkan kewajiban wanita seagai Ibu rumah tangga dan seorang istri bagi suami nya.  Ialah Ibu Titik Winarti seorang ibu rumah tangga yang mengawali usahanya dengan bermula dari kerajinan barang bekas berupa tempat selai dan kaleng susu. Ia mendedikasikan benda tersebut sebagai barang tepat guna atau barang terapan yang dapat terpakai namun menimbulkan kesan artistik bagi siapa yang memandangnya.

Penjelasan Proses Pembuatan Sisa Kain Perca

Seiring berjalannya waktu, permintaan maki melunjak sehingga Ibu Titik tidak mampu memenuhi permintaan dari kerabat. Sehingga beliau memutuskan untuk belajar kerajinan dan mengembangkan potensi diri sampai seperti saat ini. Untuk sampai detik ini, diperkirakan karyawan difabel yang masih bekerja di Tiara Handicraft masih ada 29 orang. Dan beliau hanya menerima pekerja difabel demi menegakkan prinsip bisnis yang beliau terapkan yaitu bussiness 60%, social 40%. Disamping berbisnis, Ibu Titik juga membantu para difabel untuk terus bersyukur menghadapi kenyataan yang ada dan yakin bahwa semua yang Allah tetapkan merupakan rencana yang terindah. Alasan mengapa beliau memilih pekerja difbel yang memiliki banyak keterbatasan, karena para difabel banyak ditolak di berbagai lapangan pekerjaan dan tampak memiliki sedikit peluang untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Hal ini menimbulkan kesenjangan terhadap difabel padahal difabel juga manusia yang memiliki hak yang sama seperti manusia normal lainnya. Dari pengalaman itulah, beliau ingin menciptakan lapangan pekerjaan bagi para difabel. Agar mereka tidak terus terpuruk dengan keterbatasan yang dimiliki dan menemukan kelebihan diri dengan bergabung bersama Tiara Handicaft.

Dalam menerapkan bisnisnya, Ibu Titik mengolah bahan baku menjadi sebuah barang yang memiliki nilai seni dan nilai terapan. Beliau tidak pernah membiarkan barang terbuang sia-sia seperti contoh sisa kain perca, Ibu Titik bisa menyulap barang yang terlihat seperti sampah menjadi sebuah barang cantik lagi berguna. Prinsip beliau adalah tidak akan membeli barang baru dan mendaur ulang barang yang terbuang menjadi sesuatu yang memiliki nilai baik dari segi harta dan seni.

Penyerahan Cinderamata Oleh Aqiev Khilmia, S.E., M.Pd

Sampai saat ini, Tiara Handicraft telah memperluas produknya atau mengekspor sampai ke Virginia (USA), Islandia, Jepang, Finlandia, India. Dalam satu bulan Ibu Titik bisa mendapatkan omset hingga puluhan juta rupiah. Omset tersebut dibagi ke dalam dua bagian yang pertama guna mengembangkan kebutuhan sosial para pekerja difabel. Yang kedua, kembali untuk mengembangkan usaha beliau yaitu Tiara Handicraft. Berbagai penghargaan pernah diraih oleh Bu Titik yaitu kesempatan berpidato di Markas PBB, sebagai penerima penghargaan Micro Credit Award dari PBB pada tahun 2004. Selain itu masih banyak penghargaan-penghargaan yang beliau dapatkan berkat merintis usaha Tiara Handicraft ini. Bahkan beliau sudah berani mempromosikan produk buatan para difabel di pameran tingkat Internasional, sosial media, dan berbagai platform lainnya.

Berdasaran perjalanan beliau dalam merintis usaha tersebut yang mana telah berdiri sejak tahun 1995 banyak lika-liku yang beliau alami sebagai pengusaha. Pada tahun 1997, beliau mulai memasarkan kerajinan Tiara Hancraft ke daerah-daerah artistik seperti Bali. Pada tahun ini beliau memasarkan produk Tiara Handicraft lebih tepatnya k Kota Denpasar. Menuju ke tahun 1999 dimana Indonesia dihadapkan dengan masalah perekonomian yang cukup serius yaitu Krisis Moneter yang mana seluruh pengusaha di Indonesia terkena dampak dalam peristiwa ini termasuk Tiara Handicraft sendiri. Ibu Titik mengalami penurunan pemasukan sehingga terpaksa harus meminta para pekerja untuk pulang karena usaha tersebut hampir bankrut. Pada saat itu karyawan belum diekut dara para difabel. Sehingga seluruh karyawan diminta untuk pulang ke daerah asal oleh pihak keluarga masing-masing. Dalam menjalankan prinsip kehidupan, Ibu Titik akan terus mengikuti alur yang sudah ditetapkan oleh Sang Ilahi karena beliau percaya bahwa Allah swt.adalah sebaik-baik sutradara dalam kehidupan ini. “Ikuti alur agar selamat, rencana Allah lebih indah”ungkapnya saat meneima kunjungan kami. Kunci lainnya agar selalu membahagiakan orang lain terlebih dahulu jika ingin hidup yang bahagia. Dalam berbisnis, beliau tidak memikirkan saingan dan rugi. Menurut Ibu Titik, saingan adalah partner yang membantu jalannya bisnis. Dan rugi bukanlah kehilangan, bagi beliau rugi merupakan kekurangan keuntungan, bukan kehilangan.

Dalam menerima karyawan Ibu Titik memiliki beberapa syarat yang tidak pernah diterapkan oleh para wirausaha pada umumya, yaitu para pekerja yang ingin menjadi pekerja di Tiara Handicraft harus dari para difabel dari berbagai kalangan, baik yang belum memiiki skill ataupun yang sudah pernah belajar. Yang pasti syarat utama yang diminta adalah para difabel. Ibu Titik juga menerima para difabel sekelipun belum bisa mengurus diri sendiri akan beliau latih dengan sepenuh hati hingga para difabel menemukan kenyamanan di Tiara Handicraft. Dari hal inilah para pekerja di Tiara Handicraft merasa bahwa Tiara Handicraft adalah keluarga mereka selaku para difabel. (Pemi, Alya)