ei.unida.gontor.ac.id – Artikel ini ditulis oleh Atha Mahdi Muhammad merupakan Mahasiswa Prodi Ekonomi Islam – UNIDA Gontor Semester 7. Sebelum membaca keseluruhan isi artikel, penulis menyampaikan bahwa substansi dari tulisan ini antara lain hasil review makalah Prof. Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.Phil. yang berjudul “Worldview Islam dan Kapitalisme Barat”, beberapa perenggan dari kitab Risalah untuk Kaum Muslimin yang dikaji oleh penulis setiap Sabtu pagi di Masjid Jami’ UNIDA Gontor bersama al-Ustadz Yongki Sutoyo, catatan perkuliahan penulis pada matkul Islamisasi Ilmu Pengetahuan, serta dibumbui dengan sedikit opini penulis yang serba keterbatasan baik secara otoritatif, maupun keilmuan. Tidak ketinggalan, Koran Republika edisi 21 Mei 2015 bertajuk Ilmu dan Peradaban yang ditulis oleh Dr. Budi Handrianto sebagai referensi tambahan.

Definisi Worldview

Sebelum jauh membahas mengenai pentingnya Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer, ada baiknya kita mengulik definisi mengenai worldview yang mendasari urgensinya islamisasi tersebut. Banyak tokoh baik muslim maupun non-muslim yang mencoba untuk meng-address pengertian worldview. Hamid Fahmy Zarkasyi dalam makalahnya yang berjudul “Worldview Islam dan Kapitalisme Barat” banyak memaparkan pendapat dari beberapa tokoh. Thomas F. Wall misalnya, ia mendefinisikan worldview sebagai ‘An integrated system of basic beliefs about the nature of yourself, reality, and the meaning of existence’. Definisi yang hampir serupa diungkapkan oleh Ninian Smart yang mengemukakan bahwa worldview adalah kepercayaan, perasaan dan apa-apa yang terdapat dalam pikiran orang yang befungsi sebagai motor bagi keberlangsungan dan perubahan sosial dan moral. Selain memaparkan pendapat dari dua tokoh di atas, Hamid Fahmy juga mencantumkan definisi worldview yang cakupannya lebih luas. Adalah Prof. Alparslan yang mengartikan worldview sebagai ‘the foundation of all human conduct, including scientific and technological activities. Every human activity is ultimately traceable to its worldview, and as such it is reducible to that worldview’. Dari ketiga pengertian di atas, Hamid Fahmy menarik benang merah bahwa worldview adalah motor bagi perubahan sosial, asas bagi pemahaman realitas dan asas bagi aktivitas ilmiah.

Khusus mengenai aktivitas ilmiah yang erat kaitannya dengan sains, Hamid Fahmy mengaitkan worldview dengan konsep Paradigm Shift-nya Thomas S. Kuhn yang menyatakan bahwa penelitian ilmiah diarahkan kepada artikulasi fenomena-fenomena dan teori-teori yang paradigmanya telah tersedia. Secara ringkas dapat dipahami bahwa paradigma merupakan worldview dan framework konseptual yang diperlukan untuk kajian sains. Sebagaimana yang disampaikan Hamid Fahmy, hal ini semakin memperjelas bahwa worldview melibatkan aktivitas epistimologis manusia karena ia merupakan faktor terpenting dalam proses penalaran manusia.

Worldview Islam

Definisi worldview sebagaimana dikemukakan beberapa tokoh di atas, pada dasarnya berlaku untuk seluruh agama atau peradaban secara umum. Maka, apabila disematkan kata Islam di belakangnya, worldview Islam memiliki pengertian etimologis yang ekslusif. Dalam hal ini, terdapat banyak pendapat dari para tokoh ulama kontemporer yang menonjolkan ruang lingkup worldview Islam itu sendiri. Seperti yang disampaikan Hamid Fahmy, al-Mawdudi misalnya lebih mengarahkan kepada kekuasaan Tuhan yang mewarnai segala aktivitas kehidupan manusia, yang berimplikasi politik. Sedangkan, Sheykh Atif al-Zayn dan Sayyid Qutb menurut Hamid Fahmy lebih cenderung mamahaminya sebagai seperangkat doktrin kepercayaan yang rasional yang implikasnya adalah ideologi. Lebih dari itu, Naquib al-Attas dengan tegas memaknai worldview secara metafisis dan epistemologis sehingga menjadi cara pandang.

Adapun Naquib al-Attas mengganti istilah worldview Islam dengan Ru’yah al-Islâm li al- wujûd yang berarti pandangan Islam mengenai realitas dan kebenaran yang tampak oleh mata hati dan yang menjelaskan hakikat wujud; oleh karena apa yang dipancarkan Islam adalah wujud yang total, maka mudahnya worldview Islam berarti pandangan Islam tentang wujud.

Untuk melihat sisi lain yang lebih detail mengenai hal itu, Hamid Fahmy memaparkan gambaran al-Attas tentang elemen penting yang menjadi karakter utama pandangan hidup Islam. Pertama, dalam pandangan hidup Islam realitas dan kebenaran dimaknai berdasarkan pada kajian metafisika terhadap dunia yang nampak (visible world) dan yang tidak nampak (invisible world). Kedua, pandangan hidup Islam bercirikan pada metode berpikir yang tawhîdî (integral). Ketiga, pandangan hidup Islam bersumber pada wahyu yang diperkuat oleh agama (dîn) dan didukung oleh prinsip akal dan intuisi. Keempat, elemen-elemen pandangan hidup Islam terdiri utamanya dari konsep Tuhan dan diikuti oleh elemen lain yang berpusat pada konsep Tuhan tersebut.

Worldview Barat dan Perbedaannya dengan Islam

Berbeda dengan worldview Islam, Barat memiliki cara pandang tersendiri dalam memandang realitas. Bila dalam pandangan hidup Islam realitas dan kebenaran dimaknai berdasarkan pada kajian metafisika terhadap dunia yang nampak (visible world) dan yang tidak nampak (invisible world), maka Barat hanya membatasi diri terhadap hal-hal yang materialistik (visible).

Sebagai contoh yang sering disampaikan Dr. Khoirul Umam dalam kelas Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer, bahwa munculnya teori evolusi yang dicetuskan oleh Darwin, ditengarai karena ia mengesampingkan nilai metafisik di balik realita tersebut. Tatkala menemukan sebuah fosil (realita) maka orang yang tidak berbekal informasi langit akan menduga-duga fenomena yang terjadi sesungguhnya. Inilah yang menurut Naquib al-Attas disebut sebagai “dugaan” (zann) atau “tanggapan” dan “pendapat” atau “rekaan sendiri” (hawā) dan hasil pendapat yang mencoba untuk menafikan kebenaran sesuatu sehingga menimbulkan shak’ (mirā). Bagi Barat yang worldviewnya berkutat pada hal empiris saja menganggap zann, hawā, dan mirā itulah sebagai satu kesatuan dengan epistemē (al-‘ilm) yang semuanya itu terangkum dalam istilah-istilah methōdos dan theorīa. Singkatnya, cukuplah keabsahan teori evolusi itu setelah melalui beberapa tahap yang syarat akan empiristis dan positivistis tersebut.

Berkebalikan dari itu semua, Islam dalam memandang realitas (penemuan fosil misalnya) akan mencari informasi dari khabar shodiq yang merupakan salah satu unsur terkuat dalam epistimologi Islam selain empirisisme. Ilmuwan muslim tidak serta merta mengamini apa yang disampaikan Darwin mengenai teori evolusi tersebut. Sebab, berdasarkan ilmu yang diberikan Allah SWT, sejak awal penciptaannya, manusia telah di-design sebagai makhluk yang paling sempurna (QS. Al-Tīn: 4) dengan kata lain tidak memerlukan proses evolusi untuk mencapai pada titik kesempurnaan bentuk fisik maupun akal pikiran seperti saat ini.

Berbekal dari sedikit informasi saja, ternyata dapat menciptakan disparitas yang curam antara worldview Barat dan Islam. Hal ini disebabkan setiap kali memandang realitas, Barat selalu mengebiri terhadap hal-hal yang metafisik (Dzat Tuhan, dsb). Sedangkan Islam selalu berlandaskan pada kajian visible world dan invisible world; menganut metode berpikir yang tawhîdî (integral); bersumber pada wahyu yang diperkuat oleh agama (dîn) dan didukung oleh prinsip akal dan intuisi; serta elemen-elemen pandangan hidup Islam terdiri utamanya dari konsep Tuhan dan diikuti oleh elemen lain yang berpusat pada konsep Tuhan tersebut. (Atha MM)

Leave a Comment