Mantingan – Abu yusuf merupakan seorang qodi yang dilahirkan di Kota Shufah 113 H dan kemudian meninggal pada tahun 120 H. Abu Yusuf terlahir dengan keadaan yang sederhana, namun beliau merupakan seorang yang cerdas dalam bidang pendidikan kemudian menjadi guru besar. Ketika pemerintahan Harun Ar-Rasyid beliau diperintahkan untuk menulis buku yang kelak bisa menjadi pedoman. Buku tersebut berisi tentang perpajakan dan anggaran negara, yang mana didalamnya juga menjelaskan mengenai mekanisme pasar.

Pajak telah ada pada zaman Rasulullah SAW hanya saja berbeda sistem. Pajak menurut Abu Yusuf harus adil dan tidak membebani masyarakat melainkan bermanfaat bagi masyarakat dalam berbagai hal. Pajak apabila tereralisasi dengan baik, pasti hutang-hutang negara akan terpenuhi tentu saja dengan bantuan zakat. Indonesia sedang terbebani hutang negara yang sebesar 9 ribu triliyun, yang dikhawatirkan tidak terbayarkan sampai hari kiamat.

Korupsi merupakan salah satu faktor negara terbelit hutang

Dinas perpajakan apabila memegang amanat dan kewajiban dengan baik tanpa tergoda dengan triliyunan harta dan sogok, mungkin pajak negara akan mampu memenuhi segala kebutuhan negara dengan baik. Seharusnya, sekolah, pendidikan negara adalah GRATIS. Karena para penjahat berdasi dengan harta yang meluap mampu memanipulasi petugas dinas pajak, maka terjadilah negoisasi. Dengan negoisasi tersebut, koruptor tidak perlu membayar pajak melainkan hanya perlu menyogok para petugas tak berakal panjang. Hal ini menjadikan bukannya menambal utang negara melainkan bertambah dan semakin bertambah ke negara lain.

(Nanda Aulia)

Leave a Comment