ei.unida.gontor.ac.id – Monday Night merupakan kajian pekanan dari HMP Prodi Ekonomi Islam sebagai program rutin dan unggulan di bidang peningkatan mutu akademik mahasiswa dan berorganisasi. Monday Night Discussion kali ini mengusung tema “Financial Technology: Opportunities and Its Challenges for Digitalization of Islamic Philanthropy”.  Acara dilaksanakan hari Senin, 6 September 2021, mulai pukul 20.00 WIB, bertempat di Aula Gedung CIES (Centre for Islamic Economic Studies) lantai 2, yang dihadiri oleh mahasiswa Prodi Ekonomi Islam lintas semester.

Tema tersebut dipilih oleh HMP untuk membuka wacana dan memperdalam wawasan mahasiswa Prodi EI di bidang Financial Technology (Fintech), kemudian memproyeksikan ke agenda Prodi Ekonomi Islam mendatang, seperti “UNIDA IS ME” dan “FEMFEST 5.0 2022” yang juga mengusung tema Financial Technology (Fintech).

Secara umum pemateri menyampaikan bahwa pergerakan start up di Indonesia dapat dikatakan terus mengalami pergerakan dan perkembangan yang signifikan. Jenis start up dibedakan menjadi dua, yaitu e-commerce dan Financial Technology (Fintech). E-commerce merupakan perusahaan yang menyediakan platform jual beli online, sementara istilah Fintech lebih berpusat pada perusahaan yang melakukan inovasi di bidang jasa keuangan dengan sentuhan teknologi modern. Fintech merupakan penggabungan atau integrasi antara financial (layanan keuangan) dengan technology, atau layanan keuangan berbasis teknologi.

Dilansir dari ojk.go.id bahwa start up adalah perusahaan yang baru berdiri atau masih dalam tahap merintis, yang umumnya bergerak di bidang teknologi dan informasi di dunia maya atau internet. Dengan demikian istilah start up tidak berlaku untuk semua bidang usaha. Pergerakan start up ini sangat berimplikasi terhadap munculnya layanan dan jasa keuangan di Indonesia seperti perusahan financial technology atau yang sering disebut dengan fintech. 

Jenis-jenis Fintech yang sedang berkembang, dilansir dari ojk.go.id:

1. Crowd-funding

Crowdfunding atau penggalangan dana merupakan salah satu model Fintech yang sedang populer di berbagai negara, termasuk Indonesia. Dengan adanya teknologi ini, masyarakat dapat menggalang dana atau berdonasi untuk suatu inisiatif atau program sosial yang mereka pedulikan. Salah satu contohya start-up FinTech dengan model crowdfunding yang kini tengah populer di Indonesia adalah KitaBisa.com

2. Microf-inancing

Microfinancing adalah salah satu layanan Fintech yang menyediakan layanan keuangan bagi masyarakat kelas menengah ke bawah untuk membantu kehidupan dan keuangan mereka sehari-hari. Karena masyarakat dari golongan ekonomi ini kebanyakan tidak memiliki akses ke institusi perbankan, maka mereka pun mengalami kesulitan untuk memperoleh modal usaha guna mengembangkan usaha atau mata pencaharian mereka. Salah satu start up yang bergerak dalam bidang microfinancing ini adalah Amartha yang menghubungkan pengusaha mikro di pedesaan dengan pemodal secara online.

3. P2P Lending Service

Jenis ini lebih dikenal sebagai Fintech untuk peminjaman uang. Fintech ini membantu masyarakat yang membutuhkan akses keuangan untuk memenuhi kebutuhan. Dengan Fintech ini, konsumen dapat meminjam uang dengan lebih mudah untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidup tanpa harus melalui proses berbelit-belit yang sering ditemui di bank konvensional. Salah satu contoh dari Fintech yang bergerak dalam bidang peminjaman uang ini adalah AwanTunai, sebuah start up yang memberikan fasilitas cicilan digital dengan aman dan mudah. 

4. Market Comparison 

Dengan Fintech ini, Sobat Sikapi dapat membandingkan macam-macam produk keuangan dari berbagai penyedia jasa keuangan. Fintech juga dapat berfungsi sebagai perencana finansial. Dengan bantuan Fintech, penggunanya dapat mendapatkan beberapa pilihan investasi untuk kebutuhan di masa depan.

5. Digital Payment System 

Fintech ini bergerak di bidang penyediaan layanan berupa pembayaran semua tagihan seperti pulsa & pascabayar, kartu kredit, atau token listrik PLN. Salah satu contoh Fintech yang bergerak dalam digital payment system ini adalah Payfazz yang berbasis keagenan untuk membantu masyarakat Indonesia, terutama mereka yang tidak memiliki akses ke bank, untuk melakukan pembayaran berbagai macam tagihan setiap bulannya.

Apa manfaat fintech bagi masyarakat?

Terdapat beberapa manfaat adanya fintech di lingkungan masyarakat, manfaat pertama yaitu, fintech dapat membantu perkembangan baru di bidang start up teknologi yang tengah menjamur. Hal ini dapat membantu perluasan lapangan kerja dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi tersebut mendatangkan manfaat kedua yaitu peningkatan taraf hidup masyarakat. fintech dapat menjangkau masyarakat yang tidak dapat dijangkau oleh perbankan dan atau lembaga keuangan sekalipun. Selain itu, fintech juga dapat meningkatkan ekonomi secara makro seperti perputaran uang di masyarakat yang tinggi. Kemudahan yang ditawarkan oleh fintech juga dapat meningkatkan penjualan e-commerce. 

Islamic Financial Technology (Fintech)

Fintech yang diterapkan berdasarkan ekonomi Islam harus sesuai dengan ketentuan sistem keuangan Islam misalnya dengan tidak mengandung bunga, riba, gharar, maysir ataupun manipulasi. Perkembangan Islamic Fintech yang begitu cepat juga harus diiringi dengan regulasi yang menaungi agar perlindungan konsumen terjamin.

Berdasarkan Fatwa MUI, Islamic Fintech syariah adalah penyelenggaraan jasa keuangan berdasarkan prinsip syariah. Tentunya penerapan ini berbeda dengan Fintech konvensional yang sudah hadir terlebih dahulu, dikarenakan transaksi yang dilakukan oleh Islamic Fintech harus sesuai dengan aturan syariah dan juga mengacu pada Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN MUI) Nomor 117/2018 tentang Layanan Pembiayaan Berbasis Teknologi Informasi Berdasarkan Prinsip Syariah.

Perbedaan Islamic Fintech dengan Fintech Konvensional

Secara garis besar, Fintech konvensional dan Islamic Fintech memiliki fungsi yang mirip dalam layanan keuangan. Namun, perbedaan yang paling terlihat adalah penerapan akad dalam pembiayaan yaitu penggunaan uang yang jelas dan tidak merugikan salah satu pihak berdasarkan hukum Islam. Dalam Islam ada istilah riba atau penambahan uang di atas jumlah uang pokok yang dipinjamkan atau istilah umumnya adalah bunga atau interest. 

Islamic Fintech sebagai solusi halal ketimpangan ekonomi; peluang dan tantangan untuk lembaga filantropi Islam

Dalam rangka menegakkan amar makruf nahi mungkar atas maraknya praktek riba baik oleh Lembaga Keuangan Konvensional ataupun oleh fintech konvensional, maka lahirlah Islamic Fintech sebagai alternatif solusi pembiayaan halal kepada masyarakat. 

Selain berperan dalam peningkatan inklusi keuangan, Islamic Fintech dengan segala keterbatasannya, juga berperan dalam membantu pemerintah untuk mengatasi kemiskinan dan ketimpangan sosial ekonomi dengan memberikan akses pembiayaan dan permodalan yang halal kepada UMKM atau kepada masyarakat yang berpenghasilan rendah serta melakukan terobosan dalam hal digitalisasi pengumpulan dan penyaluran Zakat Infaq Sedekah Wakaf (ZISWAF). 

Sehingga fintech ini memberikan kemudahan akses dan layanan jasa keuangan secara digital kepada masyarakat dalam semua kegiatan keuangan seperti transfer dana, pembayaran digital, pengumpulan dana, pinjaman dana, pembiayaan proyek, sarana investasi dan lain sebagainya. (Rofi_Muzaki)

Leave a Comment