Principle of Islamic Finance

ei.unida.gontor.ac.id – Dalam artikel kali ini akan mengulas dan mengenalkan kepada publik jenis jasa keuangan Islami dan perkembangannya di bank syariah. Sebagai gambaran umum kepada masyarakat bahwa Islam tidak mengizinkan keuntungan tambahan atau riba dari apa yang dipinjamkan dan dalam bentuk transaksi apapun, namun keuntungan tambahan yang didapat melalui hasil usaha, bisnis dan perdagangan yang Islami diperbolehkan dan didukung sebagai bentuk produktifitas. keterlibatan riba dalam sebuah bisnis akan berakibat bisnis tersebut tidak sah (batil), dan potensial menimbulkan masalah karena ketidakjelasan makna sesungguhnya yang dikehendaki.

Tulisan ini merupakan hasil review buku Principle of Islamic Finance, Bab 6, Karya Prof. Dr. H. Veithzal Rivai, SE., MM., MBA., dkk. Penulis merupakan pemilik VR Business Consulting Management, Cendikiawan Muslim dan Ekonom Islam. Lahir di Sungai Penuh, Jambi, merupakan seorang Guru Besar Program Pascasarjana Universitas Trisakti, IAIN Sumatera Utara, IAIN Sumatera Barat dan Program Doktor Ekonomi Islam Universitas Airlangga. Dalam bab 6 ini fokus membahas “Jenis Jasa Keuangan Islami” dan perkembangannya di bank syariah, yang pada bab-bab sebelumnya telah dibahas: Prinsip Keuangan Islam, Sistem Keuangan Islam, Riba dan Bisnis Islam, dll.

Mudharabah (Profit Sharing atau Trust Financing)

Merupakan sebuah persetujuan antara dua pihak, di mana pihak pertama adalah pemilik modal yang mempercayakan seluruh modalnya untuk bisnis, dan pihak kedua, pengusaha (mudharib), mengelola dana tersebut menggunakan kemampuan dan tenaganya. Adapun kontrak mudharabah tidak dapat menyediakan sebuah jaminan sebagai kompensasi untuk pemilik modal atas penggunaan modalnya. Mudharib dilihat sebagai pemegang modal yang disediakan oleh pemilik modal untuk mengerahkan usaha terbaiknya untuk kesuksesan bisnisnya.

Segala kerugian yang terjadi karena resiko bisnis harus dibebankan terhadap keuntungan sebelum dibebankan terhadap modal yang dimiliki oleh sahib al-mal. Prinsip umum adalah bahwa sahib al-mal hanya menanggung resiko modalnya sementara resiko mudharib hanyalah usaha dan waktunya. Hal ini menjadi penyebab mengapa mudharabah seringkali disebut dengan kerjasama yang saling menguntungkan.

Kewajiban sahib al-mal dalam perjanjian mudharabah terbatas pada kontribusi modalnya. Hal ini merupakan point penting dalam akad mudharabah karena tidak tepat apabila sahib al-mal sebagai partner pasif. Mudharib tidak diperkenankan untuk melakukan bisnis lebih dari modal yang disetorkan oleh sahib al-mal. Jika dia melakukannya atas kehendak sendiri, dia berhak atas keuntungan tersebut dan juga bertanggung jawab terhadap kerugian yang terjadi.

Implementasi Mudharabah dalam Bisnis Islam

Mudharabah adalah bentuk kerjasama di mana salah satu pihak disebut sahib al-mal atau rabb al-mal (pemilik dana), berperan sebagai partner yang tidak aktif. Dan di sisi lain adalah pihak yang disebut dengan mudharib (pengelola dana), menyediakan tenaga untuk me-manage dana dengan tujuan mendapatkan keuntungan. Mudharib diharapkan untuk bersikap hati-hati, dapat dipercaya, dan bertanggung jawab atas kerugian yang muncul atas kelalaian yang dilakukan.

Pada praktiknya perbankan syariah menggunakan konsep mudharabah ketika menerima simpanan dari nasabahnya, yang membuka rekening dengan tujuan mendapatkan keuntungan. Dalam kasus ini, maka depositor adalah pemilik modal sedangkan bank adalah mudharib-nya (manajer). Dalam kontrak mudharabah ini ada batasan-batasan dalam kewenangan bank dalam hal kemampuan mereka untuk menyimpan simpanan berdasarkan keuntungan, bagi hasil dan kerugian bersama. Selain sektor mudharabah, bank syariah juga bisa menggunakan opsi simpanan dalam bentuk sektor resmi lain, seperti musharakah, murabahah dan ijarah. Pengalaman bank syariah dengan mudharabah tidak banyak terjadi dikarenakan kontrak tersebut rentan resiko. Mudharabah lebih banyak digunakan dalam bisnis komersil jangka pendek di mana bank dapat mengurangi resiko sampai ke level terendah dan pengembaliannya benar-benar terjamin. Dikarenakan resiko tinggi, bank syariah tidak sering menggunakan keuangan mudharabah.

Musharakah (Partnership Financing)

Sebuah kerjasama yang dibentuk untuk melakukan proyek tertentu, biasanya dalam waktu yang terbatas. Hal tersebut mirip dengan usaha gabungan. Semua pihak terlibat dalam keuangan bisnis. Keuntungan dibagi berdasarkan rasio yang disetujui dan kerugian dibagi berdasarkan besarnya kontribusi modal. Merupakan salah satu jenis keuangan Islam yang terbaik, di mana mendukung pihak-pihak untuk melakukan usaha terbaik mereka untuk mendapatkan keuntungan karena mengetahui resiko pembagian kerugian yang ada. Dikarenakan adanya resiko, bank syariah dapat menggunakan musharakah baik dalam skala yang dibatasi atau dalam jangka waktu yang singkat di mana hasilnya sudah pasti. Dalam prinsip musharakah ini, bank syariah dapat berperan dalam usaha bisnis dengan klien di mana mereka berdua berbagi modal dan pengelolaannya, dan keduanya juga berbagi keuntungan dan kerugian berdasarkan besaran modalnya.

Murabahah (Mark-Up Financing)

Murabahah merupakan suatu produk pembiayaan yang popular, yang memiliki margin tinggi dan resikonya mudah dikelola. Institusi keuangan menyediakan keuangan untuk akuisisi barang dan asset lewat pedagang dan pembeli umum. Bank membeli barang dari pihak ketiga berdasarkan permintaan dari kliennya dan menjual kembali barang tersebut kepada klien dengan syarat pembayaran yang ditunda. Syarat pembayaran dibuat antara tiga sampai dua belas bulan, tergantung dari jenis barangnya. Keuntungan murabahah disetujui ketika bank membeli barang dan diwujudkan lewat syarat murabahah. Institusi keuangan atau agennya, mendapatkan hak atas barang tersebut sebelum memberikan kepada klien. Institusi keuangan menanggung resiko bahwa klien akan memenuhi kewajibannya untuk membeli barang tersebut seperti yang telah disetujui. Murabahah biasanya digunakan untuk mengerjakan persyaratan permodalan.

Murabahah digunakan untuk membantu pedagang membeli barang dagangannya. Di dalam prinsip murabahah, bank membeli barang atas nama klien (nasabah) kemudian menjualnya kembali dengan harga yang lebih tinggi untuk menutup biaya pembelian dan resiko kepemilikan pada saat periode transisi. Nasabah membayar harga yang lebih tinggi dalam cicilan bulanan. Mark-up dipertimbangkan sebagai margin keuntungan yang pasti.

Dalam prinsip murabahah, pembiayaan selalu berdasarkan asset. Hal tersebut juga dijelaskan sebagai pembiayaan “cost plus” untuk menyediakan keuangan perdagangan yang di mana melibatkan penjualan komoditi pada harga yang mencakup keuntungan yang diketahui oleh penjual dan pembeli.

Ijarah (Leasing)

Ijarah serupa dengan penyewaan yang dilakukan di dunia komersial sekarang ini, yang berarti memberikan sesuatu untuk disewakan. Nasabah memilih asset apa yang akan dibiayai oleh institusi keungan Islam dan kemudian institusi tersebut membeli asset tersebut dari produsen dan kemudian menyewakannya kepada pelanggan dalam jangka waktu tertentu. Hal ini merupakan perjanjian di mana peminjam menyewakan perlengkapan, gedung, atau fasilitas lain kepada nasabah dengan penyewaan yang disetujui.

Ijarah biasanya digunakan untuk fasilitas kredit dengan jangka waktu yang lebih panjang untuk perlengkapan modal. Bank syariah membeli atau memiliki asset kemudian menyewakannya kepada nasabah. Bank syariah tetap menjadi pemilik asset tersebut. Hal ini mengizinkan nasabah untuk membeli barang yang disewakan pada harga yang telah ditentukan. Bisa juga disebut sebagai kontrak pembelian sewa di mana peminjam dapat membeli asset yang disewakan.

Istisna’

Istisna’ digunakan ketika meminta produsen untuk membuat barang tertentu bagi pembeli. Jika produsen setuju untuk embuat barang tersebut, maka transaksi istisna’ menjadi nyata. Untuk validitas istisna’, harga perlu ditentukan dengan persetujuan dari seluruh pihak dan spesifikasi dari produk yang akan dibuat. Dalam istisna’, pembayaran tidak ditetapkan untuk dilakukan di muka maupun pada saat pemberian barang, namun dilakukan tergantung dari persetujuan yang ada. Pembayarannya juga bisa dilakukan dalam cicilan. Berbeda dengan penjualan salam, pembayaran penuh tidak diperlukan namun cukup dengan pembayaran uang muka.

Kontrak istisna’ membuka luas apikasi bagi bank-bank syariah untuk membiayai kebutuhan umum dan kepentingan masyarakat untuk mengembangkan ekonomi. Kontrak istisna’ digunakan dalam industri teknologi tinggi seperti industri pesawat terbang, pembuatan kereta api, kapal laut dan produksi-produksi manufaktur dan jenis-jenis kontruksi lainnya.

Ar-Rahn

Ar-rahn (Pegadaian Syariah) adalah perjanjian di mana asset berharga digunakan sebagai jaminan atas utang. Jaminan tersebut dapat dihapuskan jika tidak dapat membayar. Ar-rahn adalah salah satu instrument kredit mikro yang tersedia bagi masyarakat dengan pendapatan lebih rendah untuk mendapatkan uang lebih cepat dan mudah. Berbeda dengan pegadaian konvensional, periode pembayaran kembali pada ar-rahn lebih longgar dan jika tidak bisa membayar yang berakhir dengan barang tersebut kemudian dijual, maka uang hasil penjualan akan diberikan kepada pemiliknya.

Qard Hasan (Benevolent Loan)

Qard hasan yang berarti pinjaman baik telah disebut-sebut dalam al-Qur’an berkali-kali. Merupakan pinjaman bebas bunga untuk membiayai proyek kesejahteraan atau kebutuhan jangka pendek. Peminjam diharuskan membayar uang yang dipinjam, namun dia dapat membayar lebih sebagai penghargaan.

Identitas Buku:

Judul buku :Principle of Islamic Finance (Dasar-dasar Keuangan Islam); saatnya hijrah ke Sistem Keuangan Islam yang Telah Teruji Keampuhannya.
Review:Bab 6
Penulis :Prof. Dr. H. Veithzal Rivai, SE., MM., MBA., Dr. Abdul Hadi Sirat, SE., MSI., Dr. Tatik Mariyanti, SE., MSI., dan Hanan Wihasto, SE., MM.
Penerbit :BPFE – Yogyakarta
ISBN:979-503-570-3
Edisi:Pertama, Cetakan Kedua
Halaman:256 hlm
Tahun terbit :2014

Prodi Ekonomi Islam (EI)

Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM)

Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor

Leave a Comment