Periode pertama merupakan fase abad awal sampai abad ke-5 Hijriyah atau abad ke-11 Masehi yang dikenal dengan fase dasar-dasar ekonomi Islam yang dirintis oleh para fuqaha diikuti oleh sufi kemudian filosof.

Fokus fiqh adalah apa yang diturunkan oleh syariah dan dalam konteks ini para fuqaha mendiskusikan tentang fenomena ekonomi. Tujuan mereka tidak terbatas pada penggambaran dan penjelasan fenomena ini, namun demikian dengan mengacu pada al-Qur’an dan hadits nabi mereka mengeksplorasi konsep mashlahah (utility) dan mafsadah (dis-utility) yang terkait dengan aktivitas ekonomi.

Pada periode ini banyak sarjana Muslim yang pernah hidup bersama para sahabat Rasulullah SAW dan para tabi’in sehingga dapat memperoleh referensi ajaran Islam yang akurat.

Berikut 5 Ekonom Muslim; Periode Pertama (Masa Awal Islam 450 H / 1058 M):

Zayd bin Ali (80-120H / 699-738M)

Zayd bin Ali, cucu Imam Husein bin Ali bin Abi Thalib adalah salah satu ahli fiqh yang terkenal di Madinah. Zayd bin Ali merupakan penggagas awal penjualan suatu komoditi secara kredit dengan harga yang lebih tinggi dari harga tunai.

Beberapa pandangan dan pengetahuannya tentang isu-isu ekonomi dipaparkan oleh Abu Zahra. Zayd bin Ali memperbolehkan penjualan suatu komoditi secara kredit dengan harga yang lebih tinggi dari harga tunai. Zayd tidak membolehkan harga yang ditangguhkan pembayarannya lebih tinggi dari pembayaran tunai, sebagaimana halnya penambahan terhadap penundaan pembayaran adalah riba.

Abu Hanifa (80-150H / 699-767M)

Abu Hanifah al-Nu’man ibn Sabit bin Zauti, ahli hukum agama Islam dilahirkan di Kufa pada 699 M semasa pemerintahan Abdul Malik bin Marwan.

Abu Hanifa menyumbangkan beberapa konsep ekonomi, salah satunya adalah salam, yaitu suatu bentuk transaksi di mana antara pihak penjual dan pembeli sepakat bila barang yang dibeli dikirimkan setelah dibayar secara tunai pada waktu kontrak disepakati. Abu Hanifa mengkritik prosedur kontrak tersebut yang cenderung mengarah kepada perselisihan antara yang memesan barang dengan cara membayar lebih dulu, dengan orang yang membeli barang.

Salah satu kebijakan Abu Hanifa adalah menghilangkan ambiguitas dan perselisihan dalam masalah transaksi, hal ini merupakan salah satu tujuan syari’ah dalam hubungannya dengan jual beli. Abu Hanifa sangat perhatian pada orang-orang lemah. Abu Hanifa tidak membebaskan perhiasan dari zakat dan akan membebaskan kewajiban membayar zakat bagi pemilik harta yang terlilit hutang.

Al-Awza’i (88-157 H / 707-774 M)

Nama lengkapnya Abdurrahman al-Awza’i yang berasal dari Beirut, Lebanon dan hidup satu zaman dengan Abu Hanifa. Beliau juga pendiri sekolah hukum walaupun tidak bertahan lama.

Ajaran-ajaran dan metodologi hukumnya dijadikan subjek studi oleh Sobhi Mohmassani. Awza’i cenderung membenarkan kebebasan dalam kontrak dan memfasilitasi orang-orang dalam transaksi mereka. Al-Awza’i adalah penggagas orisinal dalam Ilmu Ekonomi Syariah. Gagasan-gagasannya antara lain, kebolehan dan kesahihan system muzara’ah sebagai bagian dari bentuk murabahah dan membolehkan peminjaman modal, baik dalam bentuk tunai atau sejenis.

Imam Malik bin Anas (93-179 H / 712-796 M)

Dalam buku biografi yang ditulis Abu Zahra dijelaskan bahwa Malik bin Anas adalah pendiri sekolah hukum Islam dan ia pakar tradisi kehidupan kota Madinah.

Meskipun Imam Malik bin Anas tidak memberikan perhatian khusus kepada masalah perekonomian. Tetapi ada dua pemikirannya yang menonjol yang bisa kita pelajari.

Pertama, Malik menganggap raja atau penguasa harus bertanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyatnya. Beliau mendorong para penguasa agar berperilaku seperti Umar bin Khatab. Kedua, yang peduli terhadap kebutuhan rakyatnya. Pemikiran lainnya yang relevan dengan ilmu ekonomi ialah mengenai mashlahah (nilai kegunaan, apakah untuk individu atau sosial) yang merupakan akar syariah. Imam Malik selalu menggunakan konsep mashlahah dalam membahas permasalahan yang tidak ter-cover teks al-Qur’an dan sunnah.

Abu Yusuf (112-182 H / 731-798 M)

Abu Yusuf lahir pada tahun 113 H, ia pernah tinggal di Kufah dan di Baghdad, kemudian ia meninggal pada tahun 182 H. Nama lengkapnya adalah Ya’qup bin Ibrahim bin Habib al-Ansari lahir di Kufah tahun 113 H.

Abu Yusuf merupakan ahli fiqh pertama yang mencurahkan perhatiannya pada permasalahan ekonomi, utamanya pada kebijakan fiskal. Tema yang kerap menjadi sorotan dalam kitabnya terletak pada tanggung jawab ekonomi penguasa terhadap pemenuhan kebutuhan masyarakat, pentingnya keadilan, pemerataan dalam pajak serta kewajiban penguasa untuk menghargai uang publik sebagai amanah yang harus digunakan sebaik-baiknya.

Abu Yusuf banyak menganalisis permasalahan-permasalahan fiskal dan menganjurkan beberapa kebijakan bagi pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat Abu Yusuf senantiasa menggunakan ayat-ayat dan hadits-hadits yang relevan untuk mendukung pilihan kebijakan yang diadopsi. Sebuah studi perbandingan menunjukkan bahwa beberapa abad sebelum keuangan publik dipelajari secara sistematis di barat, Abu Yusuf telah banyak bicara tentang kemampuan untuk membayar pajak dan kenyamanan dalam membayar pajak.

Sumber: Chamid, Nur. Jejak Langkah dan Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam. Yogyakarta: Pustaka pelajar, 2010.

Leave a Comment