ei.unida.gontor.ac.id – Kemiskinan adalah masalah yang tidak ada habisnya dari generasi ke generasi. Apalagi pasca krisis moneter dan ekonomi yang meningkatkan jumlah penduduk miskin di Indonesia secara cukup drastis. Tulisan ini mencoba membahas masalah kemiskinan secara multidimensi, yang merupakan cara pandang yang digunakan dalam pendekatan pembangunan sosial, yaitu melihat permasalahan dari dimensi mikro, mezzo maupun makro. Di samping itu, artikel ini memberikan alternatif strategi jangka panjang yang dapat digunakan untuk memperbaiki kondisi yang ada melalui perubahan yang dilakukan dimensi tersebut.

Pengertian Kemiskinan

Kemiskinan adalah keadaan di mana terjadi kekurangan hal-hal yang biasa untuk dipunyai seperti makanan, pakaian, tempat berlindung dan air minum, hal-hal ini berhubungan erat dengan kualitas hidup. Kemiskinan kadang juga berarti tidak adanya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan yang mampu mengatasi masalah kemiskinan dan mendapatkan kehormatan yang layak sebagai warga negara.

Sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif dan komparatif, sementara yang lainnya melihat dari segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan. Istilah “negara berkembang” biasanya digunakan untuk merujuk kepada negara-negara yang “miskin”.

Beberapa Dimensi yang Terkait dengan Kemiskinan

Dimensi Makro; Kesenjangan Pembangunan “Desa – Kota”

Kesenjangan pembangunan antara desa dan kota merupakan salah satu faktor penyebab utama terciptanya migrasi desa kota yang tak terkendali, yang sering juga disebut sebagai urbanisasi. Pemusatan pembangunan pada kota besar membuat kota besar semakin menjulang sedangkan daerah pedesaan menjadi terpinggirkan

Dimensi Mezzo; Melemahnya Social Trust dalam Komunitas dan Organisasi

Social Trust sebagai unsur pengikat suatu interaksi sosial yang “sehat” dan menjadi bagian utama modal sosial, memainkan peranan penting dalam suatu upaya pembangunan. Pembangunan sulit dibayangkan akan berjalan mencapai hasil yang optimal bila tidak ada trust antar pelaku pembangunan.

Dimensi Mikro; Mentalitas, Materialistik dan Ingin Serba Cepat (Instant)

Dimensi ini menjadi salah satu akar masalah dalam pembangunan desa ini adalah berkembangnya mentalitas yang materialistik dan mental ingin serba cepat. Perkembangan mentalitas ini pada titik tertentu, menjadi sisi negatif yang akhirnya akan memunculkan mentalitas korup.

Penyebab Kemiskinan

Kemiskinan banyak dihubungkan dengan:

1 Penyebab individual, atau patologis, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari perilaku, pilihan, atau kemampuan dari si miskin.

2 Penyebab keluarga, yang menghubungkan kemiskinan dengan pendidikan keluarga.

3 Penyebab sub-budaya (subcultural), yang menghubungkan kemiskinan dengan kehidupan sehari-hari, dipelajari atau dijalankan dalam lingkungan sekitar.

4 Penyebab agensi, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari aksi orang lain, termasuk perang, pemerintah, dan ekonomi.

5 Penyebab struktural, yang memberikan alasan bahwa kemiskinan merupakan hasil dari struktur sosial.

6 Meskipun diterima luas bahwa kemiskinan dan pengangguran adalah sebagai akibat dari kemalasan, namun di Amerika Serikat (negara terkaya per-kapita di dunia) misalnya memiliki jutaan masyarakat yang diistilahkan sebagai pekerja miskin; yaitu, orang yang tidak sejahtera atau rencana bantuan publik, namun masih gagal melewati atas garis kemiskinan.

Langkah-langkah Mengatasi Kemiskinan

Beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengatasi kemiskinan di antaranya adalah:

1 Menciptakan lapangan kerja yang mampu menyerap banyak tenaga kerja sehingga mengurangi pengangguran. Karena pengangguran adalah salah satu penyebab terbesar terjadinya kemiskinan di Indonesia.

2 Memberikan subsidi pada kebutuhan pokok manusia, sehingga masyarakat bisa menikmati makanan yang berkualitas. Hal ini akan berdampak pada meningkatnya angka kesehatan masyarakat di Indonesia.

3 Menghapus korupsi, sebab korupsi adalah salah satu penyebab layanan masyarakat tidak berjalan semestinya. Hal inilah yang kemudian menjadikan kehidupan masyarakat tidak bisa menikmati hak mereka sebagai warga Negara yang semestinya.

4 Memaksimalkan dan mengoptimalkan program zakat. Di Indonesia Islam adalah agama mayoritas, dan dalam Islam zakat diperkenalkan sebagai media untuk menumbuhkan pemerataan kesejahteraan di antara masyarakat dan mengurangi kesenjangan kaya-miskin. Potensi zakat di Indonesia, ditengarai sebesar 1 triliun rupiah per tahunnya dan jika bisa dikelola dengan baik akan menjadi potensi besar bagi terciptanya kesejahteraan masyarakat.

Berdasarkan fenomena di atas, maka penanganan kemiskinan sebaiknya tidak dilepaskan dari program pembangunan secara keseluruhan. Karena yang menjadi akar masalah itu bukanlah kemiskinanan itu sendiri, tetapi kemiskinan merupakan gejala dari adanya kesenjangan pembangunan di berbagai bidang yang terjadi antara kota-kota besar dan daerah asal migrant tersebut. (a_mad)

Leave a Comment