Mantingan Bai’ najasy adalah rekayasa pasar dalam demand, yaitu apabila seorang produsen (pembeli) menciptakan permintaan palsu seolah-olah ada banyak permintaan terhadap suatu produk, sehingga harga jual produk itu naik.

Jual beli najasy dilarang oleh Rasulullah SAW seperti yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim:

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli najasy. “

(HR. Bukhari dan Muslim)

Untuk mengetahui contoh jual beli najasy akan kita ilustrasikan dengan satu transaksi berikut, misalnya pembeli “A” menawar barang di pasar dengan harga 50 ribu. “A” merupakan orang yang benar-benar membutuhkan barang ini. Kemudian datang pembeli “B”, yang merupakan orang yang berpura-pura menawar barang tersebut dengan harga 75 ribu. Karena pembeli “A” takut tidak mendapatkan barang dan benar-benar membutuhkan barang ini, maka pembeli “A” akan menaikkan penawaran menjadi 80 ribu dan pada akhirnya penjual akan menjualnya pada pembeli “A” dengan harga 80 ribu.

Jual Beli Dalam Pasar

Bai’ najasy hukumnya diharamkan dalam Islam sesuai dengan hadis dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Jangan melakukan talaqqi rukban, jangan membeli sesuatu yang sudah dibeli saudaranya, jangan melakukan jual beli najasy, jangan melakukan hadir li bad, jangan melakukan tashriyatul ghanam“.

(HR. Abi Hurairah RA.)

Transaksi najasy diharamkan karena si penjual menyuruh orang lain memuji barangnya atau menawar dengan harga lebih tinggi dari orang yang menawar sebelumnya, si penawar kedua tadi (yang lebih tinggi) tidak benar-benar membeli barang tersebut, agar orang lain tertarik untuk membeli. Si penawar sendiri tidak bermaksud untuk benar-benar membeli barang tersebut. Ia hanya ingin menipu orang lain yang benar-benar ingin membeli.

Dalam Fatwa DSN-MUI tentang Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas dijelaskan secara lebih detail. Dalam fatwa ini dijelaskan praktik-praktik bai’ najasy, yaitu sebagai berikut:

  •  Pump and dump, yaitu aktivitas transaksi suatu efek diawali oleh pergerakan harga uptrend, yang disebabkan oleh serangkaian transaksi inisiator beli yang membentuk harga naik hingga mencapai level harga tertinggi. Setelah harga mencapai level tertinggi, pihak-pihak yang berkepentingan terhadap kenaikan harga yang telah terjadi melakukan serangkaian transaksi inisiator jual dengan volume yang signifikan dan dapat mendorong penurunan harga. Tujuannya adalah menciptakan kesempatan untuk menjual dengan harga tinggi agar memperoleh keuntungan.
  • Creating fake demand/supply (permintaan/penawaran palsu), yaitu adanya satu atau lebih pihak tertentu melakukan pemasangan order beli/jual pada level harga terbaik, tetapi jika order beli/jual yang dipasang sudah mencapai harga terbaik maka order tersebut dihapus (delete) atau direvisi (amend) (baik dalam jumlahnya dan/atau diturunkan level harganya) secara berulang kali. Tujuannya untuk memberi kesan kepada pasar seolah-olah terdapat permintaan/penawaran yang tinggi, sehingga pasar terpengaruh untuk membeli/ menjual.

Demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa transaksi ba’i najasy itu jelas dilarang dan tidak diperbolehkan. Dasar pelarangan ini berdasarkan hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim serta hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA., kemudian juga ditetapkan dengan Fatwa DSN-MUI (Majelis Ulama Indonesia) tentang Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas dijelaskan secara lebih detail. Karena di dalamnya terdapat penipuan dan manipulasi seperti bertujuan untuk memberi kesan kepada pasar seolah-olah terdapat permintaan/penawaran yang tinggi, sehingga pasar terpengaruh untuk membeli/ menjual. (Wafi_Amalia)

Leave a Comment