UNDA Gontor – Demikian pentingnya etika produksi dalam sistem ekonomi, bisnis dan perdagangan, maka tidak hanya sekedar patuh terhadap perintah dan larangan Allah SWT dan Rasul-Nya, tetapi dengan mempelajari etika, manusia akan paham, mengapa sesuatu itu dilarang dan mengapa sesuatu itu diperbolehkan.

Berikut ini lanjutan tentang etika kegiatan berproduksi:

4. Batasan Kuantitas Produksi Barang dan Jasa

Produksi dalam ekonomi konvensional senantiasa mengusung maksimalisasi keuntungan sebagai motif utama sekaligus sebagai tujuan dari keputusan ekonomi. Strategi, konsep, dan teknik produksi semua diarahkan untuk mencapai keuntungan maksimum, baik dalam jangka pendek, maupun jangka panjang. Produsen dalam sistem ini adalah profit seeker atau profit maximize. Upaya memaksimalkan keuntungan itu membuat sistem ini sangat memprioritaskan produtivitas dan efisiensi produksi. Motivasi keuntungan ini ditentukan sepenuhnya pada teori permintaan dan penawaran, sehingga kuantitas produksi juga dimaksimalkan (tanpa batas).

Terkait seberapa seharusnya barang dan jasa diproduksi, dalam hal ini penulis menganalogikan dengan sabda Nabi Muhammad SAW:

“Tidaklah menimbun kecuali orang yang berbuat dosa.” (HR.Muslim)

Kemudian hadits riwayat Ahmad dan Hakim tentang larangan penimbunan bahan makanan dalam kurun waktu tertentu sebagai berikut:

“Barangsiapa yang menimbun bahan makanan selama empat puluh hari maka sungguh ia berlepas dari Allah dan Allah berlepas darinya.” (HR. Ahmad dan Hakim).

Memaksimalkan keuntungan dalam Islam diperbolehkan selama mematuhi ketentuan-ketentuan hukum Islam, namun tetap membatasi jumlah produksi yang dihasilkan, yaitu:

Pertama, Kuantitas produksi tidak boleh berlebihan, tetapi hanya sebatas kebutuhan yang wajar. Produksi barang dan jasa secara berlebihan tidak saja menimbulkan miss-alokasi sumber daya ekonomi dan kemubaziran (wastage), tetapi juga menyebabkan terkurasnya sumber daya ekonomi ini secara cepat. Semakin menipisnya persediaan sumber daya alam dan kerusakan lingkungan hidup merupakan salah satu masalah serius dalam pembangunan ekonomi modern saat ini.

Kedua, produsen hanya menghasilkan barang dan jasa yang menjadi kebutuhan (needs), meskipun belum tentu merupakan keinginan (wants) konsumen. Barang dan jasa yang dihasilkan harus memiliki manfaat riil bagi kehidupan yang Islami, bukan sekedar memberikan kepuasan maksimum bagi konsumen.

5. Urgensi Etika Produksi dalam Sistem Ekonomi dan Perdagangan

Rasulullah SAW sendiri lebih mengutamakan produktivitas daripada hanya sekedar pemilikan. Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah ra. bahwasannya Nabi Muhammad SAW pernah bersabda:

“Barang siapa memiliki tanah, maka tanamilah atau supaya ditanami oleh saudaranya dan janganlah dia menyewakannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Demikian pentingnya produksi dalam sistem ekonomi dan perdagangan, sehingga perlu etika dalam pelaksanaannya. Para ulama sepakat bahwa siapapun yang bermaksud mengadakan jual-beli atau perdagangan hendaknya mengetahui hukum-hukum dan etika dalam perdagangan. Termasuk dalam mekanisme ekonomi yaitu produksi, distribusi dan konsumsi. Dalam berbagai riwayat terdapat etika atau sifat seorang pedagang. Dalam riwayat al-Ashbahani dan Baihaqi, Rasulullah Saw. bersabda tentang keutamaan pedagang yang mempunyai sifat-sifat mulia, yaitu:

“Sesungguhnya mata pencaharian terbaik adalah berdagang yang apabila berbicara tidak dusta, apabila diberi amanat tidak khianat, apabila berjanji tidak mengingkari, apabila membeli mereka tidak mencela barang dibelinya, apabila menjual tidak memuji barang yang dijualnya….” (HR. al-Ashbahani dan Baihaqi dari Muadz bin Jabbal)

Tidak hanya sekedar patuh terhadap perintah dan larangan Allah SWT dan Rasul-Nya, tetapi dengan mempelajari etika, manusia akan paham, mengapa sesuatu itu dilarang dan mengapa sesuatu itu diperbolehkan. Dengan demikian, produsen Muslim harus memperhatikan betul kualitas barang yang diproduksi. Sebab seluruh kegiatan produksi terikat pada tataran nilai moral dan teknikal yang Islami. Sejak dari kegiatan mengorganisir faktor produksi, memilih barang produksi, proses produksi, penjaminan mutu (kualitas), hingga pemasaran dan pelayanan kepada konsumen semuanya harus mengikuti etika dan moralitas Islam. (Ahmad_Suminto)

Leave a Comment