WARUNG MAKAN GRATIS BERBASIS MASJID

Salah satu program Lazis Annur Dadung terbaru adalah warung makan gratis. Pada era pandemic covid 19 ini, banyak dari masyarakat kita yang terkena dampaknya. Sudah marak masjid di Indonesia mengadakan pembagian makan gratis setelah shalat jum’at. Namun sangat jarang sekali, mengadakan makan gratis setiap hari. Diawal program ini, memang dirasa akan mustahil dilakukan karena keterbatasan dana tentunya.

Namun ada hal yang berbeda di Masjid Annur Dadung, karena Lazis yang didirikan mulai berkembang. Maka dibuatlah stimulus pendirian warung makan gratis setiap ba’da sholat dhuhur. Setelah berjalan seminggu, dan banyak dari jama’ah yang mengetahui adanya warung makan gratis di Masjid. Maka diumumkanlah kepada para jama’ah yang berkeinginan untuk membantu sesama dalam penyediaan makan siang. Seperti yang penulis sampaikan pada artikel sebelumnya yang berjudul Lazis berbasis masjid, bahwa orang Indonesia mempunyai kepedulian tinggi pada sisi sedekah. Tidak sampai satu minggu, ada jama’ah yang memberikan beras sebanyak 1 kwintal kepada PIC Warung gratis.

Dalam hal manajemen warung gratis ini sebenarnya tidaklah terlalu rumit, karena warung dibuka hanya untuk makan siang saja. Target awal hanya 30 porsi yang dihidangkan. Dengan rincian 100 ribu bisa untuk makan 30 orang. Maka bisa diumumkan kepada para jama’ah yang berkeinginan untuk bersedekah satu hari bisa menyetorkan uangnya kepada penanggung jawab Lazis.

Manfaat dari warung gratis ini, selain sebagai wasilah da’wah juga dapat membantu sesama dalam hal pangan yang menjadi kebutuhan dasar manusia.  Karena salah satu faktor yang menjadikan manusia masuk surga adalah memberikan makan. Rasulullah bersabda: wahai manusia, tebarkanlah salam, berilah makan (kepada fakir miskin), sambungkan tali silaturahim dan sholat malamlah saat manusia sedang tidur, maka engkau akan masuk surge dengan selamat (HR. Muslim).

Dalam hadits lainnya Rasulullah pernah ditanya oleh sahabat, perbuatan apa yang terbaik didalam Islam?, maka nabi menjawab “kamu memberi makan kepada orang lain.”  Bahkan Syeikh Nawawi Al Bantani menceritakan ulang didalam karya Nashaihul Ibad tentang rahasia Nabi Ibrahim hingga menjadi Khalilullah (kekasih Allah). Bahwasannya nabi Ibrahim tidak pernah makan kecuali ada tamu yang menemaninya. Beliau rela berjalan satu hingga dua mil untuk mencari tamu agar dapat makan bersamanya. Beliau juga diberi julukan “abu ad duyuf” atau bapaknya para tamu. Wallahua’lam bissowaf. Andi Triyawan.

Leave a Comment