Wakaf kemerdekaan

Banyak ungkapan yang dapat memaknai sebuah kemerdekaan. Salah satunya adalah wakaf kemerdekaan yang akan diuraikan secara singkat dalam tulisan ini.

Di antara wakaf kemerdekaan yang paling signifikan adalah wakaf diri. Para pejuang dan pahlawan kemerdekaan mempersembahkan atau mewakafkan dirinya untuk kepentingan bangsa dan negara yang pada waktu itu masih terjajah. Artinya, mereka mengesampingkan kepentingan pribadi dan mengutamakan kepentingan rakyat untuk dibantu dan diperjuangkan. Dengan kata lain, mereka tidak menjadikan perjuangan dan pengabdian kepada negara sebagai pekerjaan ataupun sumber pendapatan, bahkan sebagian besar pendapatannya digunakan untuk kepentingan perjuangan. Inilah yang disebut dengan penyerahaan diri secara total untuk kepentingan bangsa dan negara fisabilillah. 

Selain itu, wakaf ide para pejuang yang manfaatnya masih, dan akan terus terasa sampai saat ini. Wakaf ide berupa gagasan tentang persatuan, bahasa Indonesia, Sumpah Pemuda, Piagam Jakarta, Pancasila, UUD 45, bahkan penggunaan nama Indonesia dipelopori oleh seorang pejuang kemerdekaan Dr. Soekirman Wirjosandjojo yang juga sebagai aktivis dari Partai Syarikat Islam Indonesia. Ide yang lahir dari pemikiran para pejuang yang ikhlas tersebut, secara cepat diterima oleh seluruh rakyat Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa kontribusi para penjuang kemerdekaan dalam bentuk ide telah berhasil membantu dan menghantarkan bangsa Indonesia meraih kemerdekaan.

Dalam konteks pasca kemerdekaan, apa yang seharusnya kita persembahkan untuk membangun Indonesia yang telah merdeka? Kalaulah para pejuang kemerdekaan telah melakukan wakaf diri dan wakaf ide, lalu apakah kita telah, sedang atau akan memberikan seperti apa yang telah mereka korbankan? Apakah generasi kita telah memberikan wakaf diri? Yaitu memperjuangkan kepentingan umat dan bangsa yang berarti pula mengesampingkan urusan pribadi ataupun keuntungan materil dalam membangun masyarakat. Atau, apakah kita sudah, sedang atau akan memberikan ide yang bermanfaat dan mencerdaskan seluruh bangsa Indonesia? Jangan sedih kalau kita belum ber-wakaf diri dan ide untuk bangsa karena masih ada kesempatan, tapi bersedihlah jika hal itu belum terfikir dalam kepala kita! Wallahu’alam bishawab.

(Royyan Ramdhani Djayusman)

ed. Akmal Fauzan

Leave a Comment