UNIDA GONTOR Presentasi Research Grant Bank Indonesia 2019, Siapa yang Lolos?

Bank Indonesia (BI) mendorong partisipasi peneliti eksternal melalui riset-riset berkualitas tinggi dalam rangka memperkaya perspektif formulasi kebijakan BI agar dapat tepat sasaran, optimal dan stabil. BI membuka kesempatan dalam pengajuan riset yang dilaksanakan dalam skema Research Grant Bank Indonesia (RGBI) tahun 2019. Tiga topik utama RGBI tahun ini ialah “Dampak Digital Ekonomi terhadap Pergeseran Struktur Industri dan Perdagangan”, “Mengoptimalkan Bonus Demografi sebagai Sumber Baru Pertumbuhan Ekonomi Indonesia”, dan “Integrasi Keuangan Sosial dan Komersial lslam untuk Mendorong Pertumbuhan Inklusif”.

Skema RGBI 2019

Aspek kepakaran peneliti, kompleksitas dan kedalaman riset, serta aspek kemanfaatan riset menjadi poin utama dalam penilaian proposal riset. Proposal riset terpilih dinilai oleh tim reviewer yang beranggotakan pakar dari eksternal dan internal BI, untuk mendapatkan proposal riset yang berkualitas dan menjaga objektivitas penilaian. Total dana RGBI yang disediakan maksimal sebesar Rp500.000.000,- (lima ratus juta rupiah), dengan durasi pelaksanaan riset adalah selama 9 (sembilan) bulan.

Tim EI Presentasi RGBI 2019

Beberapa pekan yang lalu, tim dosen program studi Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi dan Manajemen UNIDA Gontor diundang ke Jakarta untuk mempresentasikan proposal risetnya di depan tim reviewer BI. Terdapat 6 (enam) universitas yang lolos tahap akhir, yaitu Universitas Indonesia, Universitas Jember, Universitas Padjajaran, Universitas Sam Ratulangi, STEI Tazkia dan UNIDA Gontor. Dari 6 perguruan tinggi tersebut, hanya 3 diantaranya yang terpilih untuk didanai risetnya oleh BI.


Ada beberapa catatan yang mungkin dapat berguna saat terlibat dalam kompetisi penelitian seperti RGBI ini. Yang pertama tentu adalah ide risetnya sendiri. Jika kita mau sedikit berstrategi, ide riset itu bisa lebih mudah ditemukan. Tak perlu berpikir tinggi-tinggi, kadang ide yang brilian justru bisa kita temukan di sekitar.

Sebenarnya tidak ada yang benar-benar baru dalam penelitian, karena sejatinya penelitian berasal dari kata “research” yang terdiri dari kata re (mengulangi) dan search (pencarian, penelusuran, penyelidikan atau penelitian). Gambarkan atau ceritakan sesuatu yang sudah ada, dan temukan kemungkinan-kemungkinan inovasi terbaru dari yang sudah ada, bukan mencari sesuatu yang benar-benar baru, itulah hakikat dalam penelitian. Having a good sense of the current state of research, guys!

Yang kedua adalah hal yang sifatnya mendasar dan esensial dalam riset, mengumpulkan kepustakaan. Saking sibuknya dengan aktivitas ad hoc, membuat kita vacuum dari berita-berita terkini, wajar kalau kita tidak sempat mengumpulkan kepustakaan sebagai bahan baku sebuah penelitian.

Mengumpulkan kepustakaan sekarang relatif lebih mudah dilakukan. Google scholar mampu mengidentifikasi segala jenis artikel ilmiah yang relevan dan bisa dijadikan patokan, namun kita harus berhati-hati, jangan sampai malah mengutip dari artikel dari jurnal abal-abal yang akan menurunkan mutu tulisan dan riset secara drastis. Oleh karena itu gunakan database ilmiah yang besar seperti Scopus, maupun yang paling berkualitas seperti Web of Science (ISI), adalah hal yang wajib dilakukan untuk memetakan apa yang telah dilakukan oleh peneliti lain dalam bidang riset ini.

Yang ketiga adalah diskusi intens dalam metodologi ilmu sosial, apalagi ilmu ekonomi yang sifatnya selalu dinamis. Fakta ilmiah dalam dunia riset internasional adalah makin beragamnya metodologi riset yang digunakan. Di beberapa tempat di kita kadang hanya satu metoda saja yang paling dianggap ‘powerfull’, yaitu kuantitatif dengan alat analisis yang nyaris tidak banyak berubah setelah 30 atau 40 tahun yang lalu. Artinya selalu up-to-date dalam pemilihan pendekatan dan desain riset dan lihat berbagai alternatif yang ada secara tepat, karena tanpa metoda yang pas hasil analisis mungkin akan tetap ‘mengambang’, hambar-datar-tanpa getar.

Lanjut kepada inti artikel ini, dalam kompetisi RGBI tahun ini, UNIDA Gontor bersaing ketat dengan STEI Tazkia dalam memperebutkan hibah penelitian dengan tema Ekonomi Islam. Pemenang yang diumumkan lolos adalah UI, Unpad dan STEI Tazkia. Alhamdulillah UNIDA Gontor tahun ini diberi kesempatan untuk ikut bersaing walau hanya sampai tahap akhir presentasi di Jakarta. Semoga tahun depan, UNIDA Gontor diberikan kesempatan untuk mengikuti RGBI lagi.

Walau belum menang, Kita tetap semangat 🙂 Terimakasih Bapak Ibu Sekalian 🙂

Tulisan ini sekedar berbagi pengalaman terlibat dalam kegiatan kompetisi riset bertaraf internasional, yang sebetulnya berbagai peluangnya selalu ada, khususnya dalam bidang ekonomi. Maka, rajin-rajin lah mencari ide-ide riset segar, dan cari tahu kesempatan riset yang bertebaran, sekalian bisa nambah pengalaman dan network ke depan.

Satu lagi, untuk mahasiswa dan mahasiwi yang budiman, selain membuat skripsi secara mandiri, sekarang kamu juga bisa nebeng dosen. Caranya adalah dengan ikut proyek. Mungkin salah satu dosen di kampusmu sedang melakukan penelitian yang mendapatkan hibah dari pemerintah. Gak jarang beliau akan membuka kesempatan bagi mahasiswa ataupun mahasiswi untuk ikut serta mengerjakannya. Nah, kamu tak boleh ketinggalan untuk mendaftar jadi salah satu bagian riset itu ya!

Sembari membantu beliau, proyek ini juga bisa kamu jadikan sebagai judul skripsi atau bahkan tesis. Selain jadi lebih hemat dana, kamu juga tak perlu lagi pusing-pusing mencari tema. Menggiurkan bukan? Nah, sudah sedikit mendapatkan pencerahan untuk tema skripsi? Lulus kuliah cepat bukan hal yang mustahil, asal kamu bisa menyelesaikan skripsi sesegera mungkin. Tanpa hanya menunggu wangsit tentang ide skripsi fenomenal datang, contoh hal di atas ini bisa kamu lakukan agar kuliahmu cepat kelar. Semoga cepat sidang proposal ya! (ARMasrifah)

2 Comments

Leave a Comment