Tidak ada kekuasaan kecuali ada tokohnya

Tidak ada ketokohan kecuali dengan Harta

Tidak ada harta kecuali dengan adanya Pembangunan

Tidak ada pembangunan kecuali ada keadilan

Amru bin Ash

            Islam menguasai dunia sekitar 1335 tahun dari zaman rasulullah SAW sampai jatuhnya ottoman empire tahun 1924. Hampir tidak ada disejarah dunia, negara yang mempunyai daerah kekuasaan sepertiga dunia, dari ujung asia sampai ujung eropa dan afrika kecuali kepemimpinan Islam. Namun Allah pergilirkan kepemimpinan itu, sehingga hari ini umat Islam tidak lagi menjadi pemimpin dunia. Baru sekitar 91 tahun, umat Islam tidak memiliki pemimpin. Terbukti saat muslim Rohingya dan penduduk palestina terusir dari negaranya, tidak ada satu negarapun didunia ini yang melindunginya, padahal banyak pemimpin bangsa yang beragama Islam namun mereka tidak mau membela saudara sesama muslim karena terkotak-kotak oleh batas negara dan jiwa nasionalisme buta.

            Dalam tulisan ini, penulis berusaha untuk mengungkap kembali kehebatan Islam melalui kesultanan turki ustmani yang pernah menjadi panutan peradaban bagi seluruh bangsa-bangsa didunia. Kekuasaan yang dimiliki oleh umat Islam dibangun dengan asas keadilan. Nilai-nilai keadilan diterapkan untuk semua orang, bukan hanya terhadap penduduk muslim saja, namun adalat Kulesi (menara keadilan) Ottoman empire menjulang tinggi menaungi seluruh penganut agama, bahkan terhadap negeri-negeri yang baru dibebaskan. Salah satu contohnya adalah sultan Suleyman al Qonuni telah mengangkat Janos Zapolya sebagai Gubernur Hongaria, ia tidak menjadikan orang turki sebagai pemimpin disana. Hal ini berbeda dengan kolonisasi yang dilakukan oleh Belanda saat menjajah tanah jawa. Pemerintah Belanda menunjuk Jendral Dendeles sebagai gubernur di jawa saat itu.

            Keadilan turki utsmani terukir jelas dalam bidang ekonomi saat Sultan Orhan Ghazi memimpin. The Osmani devlet observed the Islamic principles of justice to such an extent that there were usually no needy Muslims to receive the zakat during era of Orhan (1326-1362). Pada masa kepemimpinan Orhan hampir tidak ditemukan mustahik zakat dari masyarkat. Hal ini sama dengan masa kepemimpinan Harun Ar Rasyid, juga tidak ditemukan mustahik zakat dizamannya, sehingga harta zakat harus diekpor kenegara lain. Hal tersebut senada dengan kesaksian seorang De Villamont berkebangsaan perancis yang pernah singgah di rumah orang utsmani di Kervansaray. Ia menceritakan kekagumannya bahwa selama tiga hari, adalah kebiasaan masyarakat utsmani untuk memberikan makan dan minum gratis kepada tamunya. Dan yang mengagumkan adalah tidak hanya tamu muslim saja yang mendapatkan pelayanan tersebut namun juga tamu non muslim juga.

            Sesuai dengan tagline dari Amr bin Ash diatas, bahwa seluruh pemimpin dari Turki Ustmani adalah orang yang benar-benar dipersiapkan untuk menjadi pemimpin. Tidak seperti negara-negara dunia ketiga hari ini, yang pemilihan pemimpinnya saja melalui transaksi jual beli kekuasaan melalui partai. Berilmu sebelum memimpin adalah hal yang sudah biasa dilakukan dalam oleh seorang sultan kepada calon pemimpin yang akan menggantikannya yaitu putra mahkota. Contohnya Sultan Muhammad Al Fatih, sudah dipersiapkan oleh ayahnya untuk menjadi seorang Sultan dikemudian hari. Saat berumur 17 tahun, Al Fatih sudah diberikan tugas menjadi gubernur di salah satu provinsi. Sehingga saat umur 21 tahun dapat menaklukkan Konstatinopel bukanlah suatu hal yang aneh. Bahkan syekh yang mengajarinya dipilihkan oleh ayahnya, seorang syekh yang lluar biasa keimanan dan keilmuannya. Turki Utsmani menguasai dunia ratusan tahun tidak mungkin tidak memiliki sistem keuangan atau perwakafan yang memadai.

            Sultan Mehmet II yang terkenal dengan Muhammad Al Fatih, setelah menaklukkan konstantinopel, ia membentuk yayasan amal dalam rangka mengembangkan Masjid Aya Sofia. Dari pengembangan yayasan wakaf Aya Sofia tersebut, sejak 1478 yayasan ini memiliki 2.360 toko, 1360 rumah, 4 Karavansarai, 30 toko Boza (minuman musim dingin tradisional turki, fermentasi dari gula dan gandum ditaburi kacang arab, rasanya mirip tape) dan 23 toko domba.  

            Lain halnya dengan Suleyman Al Qonuni, salah satu sultan terkenal pada era ottoman empire. Aset yang ia wakafkan berupa tanah setengah desa bernama “Khayal”, Mosul. Sedangkan setengahnya lagi telah diwakafkan untuk keperlun zawiyah (pondok) yang ada di desa Syeikh Abdul Qodir Jailani. Sultan yang satu ini, dijuluki dengan Al Qonuni, karena banyak sekali aturan-aturan yang telah dibuatnya dalam rangka pengembangan negara.

            Ketentuan wakaf Daruzziyafe yang ditetapkan oleh Al Qonuni adalah Manager administrasi wakaf harus tsiqoh, teguh agamanya, istiqomah, memiliki skill manajerial yang bagus, wara’, taqwa dan ikhlash dalam menjalankan pekerjaan. Bahkan seorang manager saat itu mendapatkan gaji sebesar 5 dirham/ hari. Teradapat beberapa gaji yang ditentukan dalam wakaf diantarnya Farrasy (unskilled labour seperti tukang kebersihan) harus takut kepada Allah, mengetahui syariah dan tidak tamak. Gaji yang diberikan adalah sebesar 3 dirham per hari. Disisi lain seorang juru masak harus membuat anggaran dapur sebesar 49 dirham per hari untuk keperluan dapur diantaranya 24 dirham untuk gandum dan daging selebihnya untuk butter, kayu bakar dan garam. Dan juga ditambah anggaran 5 dirham perhari untuk keju dan madu sebagai persediaan tamu. Begitu detailnya pembahasan tentang aturan dalam managerial pengurusan harta wakaf pada era turki ustmani. Andi Triyawan

Leave a Comment