Siap Menyerukan Hijrah Ekonomi?

Mufti Afif, Lc., M.A.

Berbicara ekonomi berarti mengulas perilaku orang atau sekelompok orang dalam memenuhi kebutuhan hidup, yaitu menuju keadaan hidup yang berkecukupan, terjamin kesehatan dan pendidikan (cermin ekonomi mapan). Banyak cara untuk memperoleh tujuan ekonomi mapan tersebut; ada yang menjadi pegawai, pedangan, petani, investor dalam usaha, berkarya kerajinan dan berproduksi. Pada hakikatnya jerih payah berupa tenaga atau/dan pikiran pelaku ekonomi dikerahkan untuk memperoleh nilai kesejahteraan ekonomi yang mapan.

Jalan menuju kemapanan ekonomi tidak semudah orang membalikkan tangan, karena harus melalui proses dan guncangan berat. Kesabaran dan kegigihan pelaku ekonomi harus dikuatkan oleh jiwa ketaatan kepada Sang Pencipta sepanjang masa, tidak boleh habis meski diterpa oleh suatu musibah atau ujian berupa kemiskinan atau kebangkrutan.

Dari kebanyakan kasus yang terjadi, munculnya musibah dan kebangkrutan menjadi hal utama hilangnya kesabaran dan ketataan. Banyak manusia berhati baik berubah sikap yang bertolak belakang dengan hati kecilnya ketika merasa sempit karena cobaan, contoh; awalnya dikenal sebagai pedagang yang jujur namun kemudian berbuat curang karena ingin keuntungan lebih. Atau awalnya berkomitken akan bekerja di tempat yang halal dan diridhai Allah, tapi karena alasan gaji kecil lalu memutuskan pindah kerja karena dapat panggilan di perusahaan yang 3 kali lipat gajinya lebih besar (tapi tempat maksiat). Atau alasan ikuti pesan orang tua agar bekerja di perusahaan Asing biar cepat kaya, tapi harus melepas hijab, dan contoh-contoh lain proses menuju ekonomi mapan yang tidak dibenarkan. Naudzubillah semoga penulis dan pembaca terhindar dari MurkaNya, aamiin.

Komitmen pada ketaaatan terhadap perintah dan larangan Allah adalah wajib, bagaimanapun keadaannya. Akhirat adalah urusan yang berat, sedangkan dunia adalah urusan yang ringan. Allah memerintahkan kepada umat manusia untuk meraih akhirat lebih dahulu, dan meraih dunia berikutnya karena saat ini manusia menjadi penduduk alam dunia. Jangan seperti Qarun yang mendahulukan dunia, lantas akhiratnya terlenakan (QS. Al-Qashas: 76-77). Allah Maha sayang kepada segenap mahluknya termasuk manusia. Setiap kali ada yang tersesat karena hawa nafsunya pastilah Allah akan mengingatkan dan tidak bosan-bosan mengingatkan melalui sinyal petunjukNya yaitu hati kecil sampai habis masanya di dunia (dijemput ajal). Bila hati kecil itu sudah dikunci mati oleh orangnya, maka Allah pun menguncinya selamanya (QS. Al-Baqarah: 7). Jemput petunjuk Allah yang ada saat ia hadir (QS. Az-Zumar: 54) sebelum Allah memutuskan untuk menguncinya.

Seorang yang wafat dalam keadaan maksiat, atau kerja di tempat perusahaan maksiat, dan usaha berunsur syubhat telah digambarkan nasibnya oleh Allah dalam firmanNya QS. AN-Nisa: 97 yang artinya: Sesungguhnya orang-orang yang dicabut nyawanya oleh malaikat dalam keadaan menzalimi sendiri, mereka (para malaikat) bertanya, “Bagaimana kamu ini?” Mereka menjawab, “Kami orang-orang yang tertindas di bumi.” Mereka bertanya, “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah (berpindah-pindah) di bumi itu?” Maka orang-orang itu tempatnya di neraka Jahanam, dan (Jahanam) itu seburuk-buruk tempat kembali. Maksud ayat tersebut adalah kisah orang-orang muslim Mekah dahulu yang tidak mau hijrah ke Madinah karena enggan melakukan tuntunan agama (hijrah) padahal mereka mempunyai kesanggupan atas hal itu, sehingga mereka dianiaya oleh orang kafir (sulit beribadah) sampai akhirnya malaikat pencabut nyawa tiba. Lalu malaikat bertanya kepada mereka, dalam keadaan bagaimana kamu dahulu ketika hidup sehingga tidak melakukan tuntunan agama, tidak berjihad dan tidak pula berhijrah? Mereka menjawab, Kami dulu adalah orang-orang yang tertindas dan tak berdaya di bumi Mekah. Para malaikat berkata bentuk penolakan alasan mereka, “bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah atau berpindah di bumi itu dari daerah dzalim menuju daerah lain di mana kalian dapat melakukan tuntunan agama?” Maka Allah menyatakan bahwa mereka yang dimatikan dalam keadaan menzalimi diri sendiri dan tempatnya adalah di neraka Jahanam. Kecuali mereka yang tertindas, yang sangat lemah, baik laki-laki atau perempuan dan anak-anak yang karenanya mereka tidak berdaya dan tidak pula mengetahui jalan untuk berhijrah, maka mereka itu adalah orang-orang yang mudah-mudahan Allah memaafkan mereka karena ketidakmampuan mereka Allah senantiasa Maha Pemaaf atas segala kesalahan mereka, dan Maha Pengampun atas segala dosa.

Demikian pula kondisi lingkungan kerja yang kurang kondusif dengan aspek akhirat ekonom muslim, harus segera hijrah selagi ada kemampuan berhijrah. Bumi Allah luas dan ladang rezeki-Nya terbentang di lini pekerjaan. Secara umum setiap muslim wajib hijrah dari negeri/aturan yang memberlakukan kekufuran tanpa ada jaminan kebebasan melakukan ibadah dan memelihara ajaran agama. Tetapi bilamana ada jaminan bebas beribadah serta tidak ada celah syubhat atau maksiat dalam perusahaan non-muslim sekalipun, maka ia tidak diwajibkan hijrah.

wallahu a’lam

Leave a Comment