Mungkin kalian tahu bank sentral nya Indonesia? Tentu tahu, yaitu Bank Indonesia, di setiap negara pasti mempunyai suatu lembaga yang mengurusi perihal peredaran uang di negara tersebut. Tapi apakah kalian tahu, bahwa umat islam ketika di zaman Rasulullah, umat islam sudah mempunya bank sentral yang 100% syariah nya. yuk kepoin, kira-kira bagaimana ya “bank sentral” nya umat islam dahulu kala.

Baitul mal…, mungkin kalian akan berfikir Baitul mal adalah mall atau supermarket yang bernama Baitul, kalau kalian berfikir seperti itu artinya kalian semua perlu membaca lebih banyak artikel dan tulisan yang membahas tentang Baitul Mal

Baitul mal berasal dari Bahasa arab. Bait artinya rumah dan mal artinya harta. Secara istilah baitul mal adalah suatu tempat untuk menyimpan harta dengan ketentuan dan tujuan tertentu. Pada saat ini baitul mal mempunyai tugas yaitu menangani harta umat islam dalam bentuk pendapatan atau pengeluaran negara. Pada masa rasulullah harta yang didapat dari rampasan perang. Harta tersebut langsung dibagikan kepada umat islam yang memerlukan dan juga dipakai untuk pembiayaan perang dan pemerintahan kota.

Pada masa kehkalifahan Abu Bakar, harta yang didapatkan langsung dibawa ke masjid nabawi dan langsung pula dibagikan kepada orang orang yang berhak menerimanya. Abu Bakar juga dibantu oleh Abu Ubaidah bin Jarrah dalam kepengurusan baitul mal.

Lain lagi pada masa khalifah Umar bin Khattab. Baitul mal didirikan langsung olehnya dan menerima serta mendistribusikan sesuai dengan hukum dan syariat islam. Pada masa Utsman bin Affan banyak anggota dari baitul mal dari kerabat beliau sendiri. Maka timbulah perselisihan di antara umat islam karena muncul kecurigaan bahwa adanya penggelapan dana dan permasalahan lainnya.

Pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib, baitul mal ditempatkan lagi posisinya seperti semula. Ali bin Abi Thalib juga mendapat santunan dari masyarakat sekitar dan disanjungi, tetapi pada masa kepemimpinan khalifah pada era Bani Umayyah, baitul mal sepenuhnya dibawah kekuasaan khalifah tanpa adanya kritik oleh rakyat.

Zarel Saesatya
Mahasiswa Program Studi Ekonomi Islam
Universitas Darussalam Gontor

(ed: Rayhan)

Leave a Comment