REVIEW KURIKULUM BERSAMA DR ALI SAKTI dan Dr Andi Alfian PENELITI BI (bagian 1)

Dr Andi Alfian (berdiri) dan Dr Ali sakti (duduk)

Salah satu peneliti senior BI Dr. Ali Sakti berkenan menjadi pembicara dalam review kurikulum prodi Ekonomi syariah universitas Darussalam Gontor tahun ini. Ada banyak hal yang disampaikan oleh beliau, khususnya yang redaksi cermati terkait islamisasi ilmu ekonomi modern, khususnya dilevel makro ekonomi.

Paparnya pembahan Ilmu Ekonomi mayoritas adalah dalam konteks makro. Dan didalam Ekonomi konvensional tidak ada hubungan antara ekonomi makro dan mikro. Menurutnya hal itu disebabkan oleh karena ilmuwan barat yang konsern di ekonomi makro tidak pernah membahas sama sekali tentang mikro. Sehingga bangunan ekonomi konvensional terkesan terpisah antara mikro dan mikro.

Disisi lain, bangunan ekonomi konvensional didirikan diatas asumsi asumsi yang itu tidak mungkin terjadi didunia nyata. Misalnya rumus kurva IS-LM yang menggambarkan hubungan antara sektor riil dan sektor keuangan. Kenyataannya dilapangan sektor riil selamanya tidak berhubungan dengan pasar uang. Uang yang berputar di pasar uang hampir 90% lebih dan sisanya hanya disektor riil. Hal ini menjadi sangat mustahil jika sektor riil berhubungan dengan sektor pasar uang. Bahkan hanya sedikit dari bank yang melemparkan uangnya di sektor kredit, bahkan kebanyakan di sektor moneter, seperti valas, asuransi, SBI dll.

Dalam masalah islamisasi ekonomi syariah, seharusnya kita kaitkan dengan prilaku sahabat dalam ekonomi. Ada seorang sahabat kenamaan bukan orang arab tapi jauh dari persia yaitu Salman Alfarisi. Sahabat ini menggunakan hartanya dengan membagi pada 3 hal yaitu sepertiga untuk konsumsi, sepertiga untuk sedekah dan sepertiga lagi untuk modal. Suatu saat ia mendapatkan hasil 3 dirham maka uang tersebut dibagi 3 yaitu untuk kebutuhan makan 1 dirham, dan dua dirham lainnya dibagi merata untuk modal dan sedekah. Yang menarik adalah saat menjadi gubernur, mendapatkan gaji 5000 dirham, taoi yang digunakan untuk konaumai tidak berubah, dan semua gajinya disedekahkan. Maka disinilah pola ekonomi menurut perspektif Islam yang tidak ada dalam konvensional.

Padahal menurut teori ekonominya 2,5 persen tersebut adalah cara untuk menjadikan orang orang miskin ikut andil dalam menggerakkan ekonomi dan masuk pasar. Lebih dari itu apabila semua orang adalah sholeh dan budaya sedekah sudah merebak dimana-mana tentunya akan lebih cepat putaran pendapatan dan ekonomi disektor riil. Untuk lebih lanjut dalam kajian ini akan penulis lanjutkan di bagian kedua. (Andi)

Leave a Comment