Pada ekonomi konvensional memaparkan bahwa kebutuhan manusia sifatnya tidak terbatas, maka kebutuhan-kebutuhan tersebut harus dipenuhi, akan tetapi Islam menolak hal ini karena dalam kebutuhan tertentu misalnya makan dan minum ketika perut sudah kenyang maka dia sudah merasa puas karena kebutuhannya telah terpenuhi, sehingga kesimpulannya kebutuhan manusia itu sifatnya terbatas. Adapun dari sini perbedaan persepsi antara kebutuhan dan keinginan, jika perilaku manusia disandarkan pada keinginan, maka persoalan ekonomi tidak akan pernah selesai karena keinginan lebih pada nafsu manusia yang selalu tidak akan pernah puas. Sebagaimana Hasan bin Ali cucu dari Rasulullah SAW pernah berkata, “semoga Allah merahmati hamba-Nya yang berhenti di saat berkeinginan. Jika karena Allah maka ia laksanakan dan jika karena selain Nya, maka ia tinggalkan”. (dikutip dari buku Manajemen Qalbu, Ibnu Qayyim al Jauziyah). Berhenti saat memiliki keinginan adalah salah satu cara yang baik untuk dapat menekan hawa nafsu yang ada di hati, sehingga akan membawa kepada kebaikan dan keridhaan Allah swt. Hasrat atau keinginan manusia tidak dapat dikatakan sebagai kebutuhan, hasrat yang memiliki nilai maslahah di dunia dan akhirat yang bisa dijadikan sebagai kebutuhan. Pemenuhan kebutuhan adalah tujuan dari aktifitas ekonomi dan pencarian terhadap tujuan ini adalah kewajiban agama. Aktifitas ekonomi yang mengandung makna bahwa aktifitas ekonomi yang harus didasarkan maslahah akan mendatangankan manfaat dan keberkahan bagi pelakunya.

Keharaman bunga dalam Islam banyak membawa konsekuensi adanya penghapusan bunga secara mutlak. Hal ini diperkuat bahwa system bunga yang cenderung tidak mencerminkan keadilan (injustice) karena memberikan deskriminasi pada risiko maupun maksimalisasi profit bagi pelaku ekonomi. Adapun prinsip dari Keuangan Islam  atau the principle of Islamic Finance  (Alsadek, 2006) dibangun atas dasar larangan riba, larangan gharar, tuntunan bisnis halal, risiko bisnis yang ditanggung berama dan transaksi ekonomi berlandaskan keadilan. Dalam Islam pembagian profit and loss sharing  yang berarti keuntungan dan kerugian yang muncul dari kegiatan ekonomi di tanggung bersama-sama oleh para pelaku ekonomi. Pada pembagian profit atau bagi hasil tidak terdapat fixed and certain return  sebagaimana bunga, tetapi profit and loss sharing di tentuan dengan produktifitas yang nyata dari pelaku ekonomi.

Dalam kontrak profit and loss sharing  yang disepakati adalah proporsi pembagian hasil (nisbah) dan ukuran prosentase atas kerugian yang terjadi. Berdasarkan nisbah yang biasanya dibagi dengan pertimbangan kontribusi kerja masing-masing pihak  yang bekerjasama. Kesepakatan suatu tingkat nisbah terlebih dahulu harus memperhatikan tiga faktor, antara lain; 1). Share on partnership atau yang disebut dengan sesuatu yang telah nyata dan terukur, 2). Expect return dan expect risk  yang memerlukan perhatian khusus, oleh karenanya kemampuan untuk memperkirakan keuntungan maupun risiko yang mungkin terjadi atas kerjasama yang berlangsung. Hal ini dikarenakan risiko memiliki dampak negatif bagi usaha, semakin besar risiko semakin mengurangi nilai keuntungan usaha, risiko memiliki sumber yang terkadang tidak bisa diperhitungkan secara cermat, dan perkiraan atas keuntungan biasanya memasukkan pada perhitungan variable risiko, pada dasarnya risiko terjadi karena adanya ketidakpastian di masa depan.

Pada kajian fiqih muamalah profit and loss sharing dikembangkan dalam model akad mudharabah dan musyarakah. Model mudharabah  adalah kerjasama usaha satu pihak memberikan kontribusi modal sedangkan pihak yang lainnya memberikan kontribusi ketrampilan guna berjalannya badan usaha. Pihak pertama disebut shahibul maal (financier) dan pihak kedua disebut mudharib  (entrepreneur). Pada skema permodalan 100% di lakukan oleh shohibul maal,  sedangkan manajemen sepenuhnya menjadi tanggung jawab mudharib.  Tingkat nisbah bagi hasil yang dihasilkan pada penentuan di awal akad, sedangkan risiko atau negative return  ditanggung seluruhnya oleh shahibul maal, sedangkan mudharib  menanggung kerugian immaterial  seperti tenaga, manajemen dan pikiran yang telah dicurahkan dalam bisnis tersebut. Pada model musyarakah menunjukkan masing-masing kontribusinya dalam permodalan. Mereka menyepakati pembagian  profit and loss sharing sebesar dari modal yang mereka keluarkan. Adanya instrument profit and loss sharing lebih mencerminkan konsep keadilan yang merata bagi pelaku ekonomi, dapat dilihat dari kemungkinan-kemungkinan positif atau negative return  yang akan terjadi pada kegiatan ekonomi tersebut.

Islam dalam melakukan transaksi ekonomi lebih mengusung nilai-nilai keadilan yang merata bagi pelakunya, maksudnya dari pembagian profit and loss sharing di bagi sesuai kontribusinya dalam bisnis ekonomi tersebut, berbeda dengan konsep ekonomi konvensional yang lebih memaksimalkan nilai keuntungan dan meminimalisir biaya produksi dan tingkat risiko, sehingga konsep ribawi, kedzaliman, dan spekulatif sudah biasa dipraktikkan dalam bisnisnya, sehingga konsep bisnis yang seperti ini hanya dapat dirasakan kepuasannya dan kesejahteraannya hanya satu pihak.  Oleh karena itu dalam Islam dalam melakukan transaksi bisnis ekonomi lebih mengutamakan kemaslahatan yang dapat dirasakan oleh para pihak yang bertransaksi. Islam dalam mewujudkan kemaslahatan untuk manusia yang disebut jabl al manafi’ (membawa manfaat). Kebaikan dan kesenangan ada yang dirasakan langsung oleh pihak yang melakukan kegiatan yang dilakukan, tetapi kebaikan dan kesenangan dirasakan setelah perbuatan itu dilakukan atau dirasakan pada kemudian hari dan dapat dirasakan pula kebaikannya (pahala) di akhirat. Oleh karena itu transaksi bisnis dalam Islam pasti ada perintah Allah SWT yang mengatur  sebagai rambu-rambu agar manusia dalam batasan-batasan syariah dalam bertindak dan guna tercapainya falah oriented yang merupakan dampak dari kegiatan tersebut.

Begitu pula pada keinginan manusia dalam menentukan keuntungan dalam kegiatan bisnis ekonomi, secara garis besar mereka menginginkan optimalisasi  keuntungan atau profit oriented. Banyak sekali cara yang dilakukan oleh manusia dalam memenuhi keinginan dalam profit oriented ini, baik dari cara yang halal ataupun haram. Dalam konsep bisnis Islam sudah dijelaskan diawal konsep yang diusung dalam pencapaian keuntungan harus memperhatikan beberapa hal, yakni; 1). Kejujuran, merupakan kunci dari keberhasilan suatu bisnis. Kejujuran dalam pelaksanaan bisnis merupakan suatu kontrol dari konsumen, partner kerja, dan sebagainya, 2). Prinsip keadilan, bahwa setiap manusia dalam berbisnis ketika menerima haknya harus sesuai dengan kewajibannya atau kontribusinya. 3) prinsip saling menguntungkan, 4) intergritas moral, hal ini merupakan dasar dalam berbisnis harus menjaga attitude atau tingkah laku yang baik sehingga tidak menimbulkan permusuhan dalam berbisnis, karena pada dasarnya bisnis merupakan langkah kerjasama yang berlatarkan tolong menolong, 4) bebas dari hal-hal ribawi, spekulatif, dan gharar yang dapat merugikan dirinya sendiri ataupun orang lain. Dari terpenuhinya prinsip-prinsip dalam mengambil profit oriented maka falah oriented akan tercapai yakni kebaikan dan keberkahan yang dapat dirasakan oleh pelaku ekonomi dan orang sekitar pelaku ekonomi yang dapat dirasakan pada kemudian hari dan dapat dirasakan pula di akhirat.(May Shinta Retnowati)

Leave a Comment