ei.unida.gontor.ac.id – Islam sebagai agama yang universal tidak hanya mengatur urusan manusia dalam hubungan ibadah kepada Allah SWT (hablu minallah) tetapi juga mengatur sekaligus hubungan terhadap sesama manusia lainnya (hablu minannas). Aktivitas kegiatan ekonomi merupakan salah satu bagian dari hubungan yang dijalankan antara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya, yang dikategorikan dalam kegiatan mu’amalah.

Meneladani akhlak ekonomi Baginda Rasulullah SAW adalah salah satu cara mendekatkan diri kepada Allah SWT dari sisi mu’amalah. Yang dimaksud dengan ekonomi Rasulullah SAW adalah perilaku atau kegiatan ekonomi yang meliputi jual beli, kongsi, cocok tanam, ternak dan bentuk-bentuk transaksi mu’amalah maaliyah seorang Nabi akhir zaman dengan individu atau kelompok orang secara langsung atau tidak langsung yang ditujukan untuk memperoleh berkah.

Yang dimaksud dengan berekonomi untuk memperoleh berkah adalah transaksi ekonomi yang menghadirkan Dzat Allah SWT sebagai Pencipta dan yang meliputi segala aspek pengetahuannya terhadap perilaku manusia. Dengan ekonomi berlandaskan raih berkah ini, akan terbesit niat ikhlas seseorang karena Allah ta’ala yang disertai implementasi ibadah harta (seperti zakat, sedekah, nadzar, Qurban, dsb.) dan pelaksanaan denda akibat halangan syar’i (seperti fidyah bagi yang tidak mampu berpuasa atau kafarat sumpah yang berupa memberi makan fakir miskin dan lain sebagainya) serta menghindari perilaku riba atau curang dalam berbagai transaksi muamalah maaliyah.

Yang dimaksud dengan muamalah maaliyah adalah:

  1. Semua jenis transaksi pertukaran antar individu maupun kelompok manusia yang sah, seperti jual beli, hibah, pinjam, sewa, dan lain sebagainya.
  2. Semua jenis transaksi curang, seperti penipuan, pencurian, perampokan, transaksi riba dan lain sebagainya.
  3. Mahar dan nafkah harta, yang disunnahkan Rasulullah SAW untuk istri-istri beliau, anak-anak beliau dan kadang untuk sahabat-sahabat beliau.
  4. Jaminan solidaritas Nabi dan para sahabat untuk golongan muallaf.

Mempelajari ekonomi Rasulullah SAW sangat penting bagi kehidupan manusia keran beberapa alasan; pertama, beliau tercipta memiliki sifat jujur yang tinggi, bahkan orang-orang kafir yang merupakan musuh beliau mengakui kejujuran beliau tersebut sehingga dikenal dengan julukan al-amin. Kedua, kualitas kebaikan beliau kepada orang lain tanpa memperhitungkan resiko kerugian, bila ada orang yang datang kepada beliau dengan menampakkan wajah butuh pertolongan maka beliau menolongnya dengan mengerahkan segala kemampuannya; kadang berupa hidangan makanan, pakaian atau pertolongan lainnya dalam bentuk kebijakan yang dibutuhkan banyak orang. Ketiga, beliau selalu mengulurkan tangan untuk sedekah; kadang berbentuk hibah, kadang sedekah harta, kadang hadiah, kadang membeli dengan harga yang melebihi tawaran penjual, dan kadang membeli semua produk  yang ditawarkan penjual untuk memberikan pertolongan. Keempat, bila meminjam suatu barang, mengembalikannya jauh lebih baik.

Sedekah adalah implementasi perilaku ekonomi Rasulullah SAW

Rasulullah SAW memiliki kebiasaan berbuat baik kepada orang-orang sekitarnya, kepada saudara sesama Muslim maupun non-Muslim. Dan kebiasaan beliau jika menerima pemberian dari seseorang, beliau bertanya lebih dahulu apakah pemberian tersebut merupakan sedekah atau hadiah; bila dijawab oleh si pemberi ‘sedekah’, maka beliau membagikan pemberian itu kepada sahabat-sahabatnya dan beliau tidak turut memanfaatkan atau memakannya. Tapi apabila dijawab oleh si pemberi dengan ‘hadiah’, maka beliau memanfaatkannya atau memakannya bersama-sama dengan para sahabat sekitarnya. Artinya di sini Rasulullah SAW tidak menikmati sendiri hasil pemberian orang lain. Ini merupakan salah satu cirri bagaimana Rasulullah SAW menanamkan budaya berbagi rezeki kepada sesama saudara. Dengan budaya berbagi rezeki ini membentuk perilaku ekonomi sosial yang saling mencukupi kebutuhan orang lain. (Mufti_Afif)

Leave a Comment