PERADABAN GIVE VERSUS PERADABAN KAPITALISME

Peradaban give yang penulis maksud dalam judul adalah peradaban saling memberi dan berbagi antar sesama. Kebiasaan memberi adalah murni berasal dari ajaran Islam. Hal ini kemudian mengakar sampai para sahabat, generasi tabi’in dan kebiasaan orang jawa pada umumnya.

Tiga puluh tahun yang lalu, di kampung-kampung Surabaya masih penulis temukan adanya gentong atau kendi yang berisi air siap minum. Ternyata dirunut dalam sejarah Islam, hal itu berasal dari perintah nabi kepada Utsman bin Affan untuk membeli sumur ruma milik orang yahudi, yang kemudian diwakafkan untuk umat Islam. Jaminan yang diberikan oleh Rasulullah SAW kepada Utsman adalah Surga. Maka hal itu menjadi uswah bagi masyarakat jawa untuk menyediakan air siap minum bagi siapa saja di depan rumah.

Seiring bergilirnya waktu, kapitalisme lahir seolah meracuni dan menjadikan semua manusia untuk mencari keuntungan materi semata. Sehingga air minum itu sudah tidak gratis lagi hari ini, namun sudah berlabel dan dijual. Memang sudah tidak kita temukan lagi, tempat-tempat minum gratis seperti dahulu kala.

Peradaban kapitalisme memaksa manusia untuk memberikan bandrol harga dari setiap barang atau jasa yang diberikan. Bahkan ada program yang bernama CSR (corporate social responsibility) masih mengandung unsur promosi, sehingga program yang semula gratis pada hakekatnya tidak gratis atau dalam bahasa inggrisnya “no free lunch”. Semua hal memiliki maksud dan tujuan yang ujung-ujungnya meningkatkan profit perusahaan.

Fatalnya, kepitalisme itu merambah tidak hanya kedalam dunia bisnis saja, namun dunia pendidikanpun yang bukan habitatnya, menjadi tempat berkembangnya kapitalisme yang palig subur. Pendidikan maju selalu berbanding lurus dengan biaya tinggi, dan sebaliknya pendidikan gratis dianggap tidak professional dan terkesan asal-asalan. Sehingga dari rahim kepitalisme pendidikan melahirkan generasi-generasi kapitalisme masa depan.

Fitrah manusia itu adalah saling memberi, namun jika diracuni menjadi berbayar, akan menjadi rusak. Dalam Islam, setiap muslim adalah keluarga dan bersaudara dalam rahim Islam. Jika jiwa keluarga itu tumbuh dalam diri setiap muslim, maka hidup ini akan lebih indah. Akhir-akhir ini, banyak masjid-masjid yang mulai menggagas program Jum’at berkah, berbagi makanan selepas sholat jum’at. Ini adalah wujud untuk melanggengkan peradaban give sehingga menggeser peradaban kapitalisme yang mulai masive. Andi Triyawan

Leave a Comment