PEMUDA SEBAGAI TONGGAK KEBANGKITAN UMAT

Musyawarah Besar Himpunan Mahasiswa Program Studi Ekonomi Islam (HMP-EKIS) Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor telah terlaksana pada hari Senin, 7 September 2020 di Hall Center of Islamic and Occidental Studies (CIOS) UNIDA Gontor. Acara yang dihadiri oleh Dekan Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM), al-Ustadz Dr. Khoirul Umam, M.Ec ini dimulai pukul 08.45 WIB. Selain itu, hadir pula sebagai peserta kehormatan Ketua Program Studi Ekonomi Islam, al-Ustadz Mufti Afif, Lc., M.A, serta beberapa dosen Prodi Ekonomi Islam.

Acara Musyawarah Besar ini merupakan rentetan dari “Pekan Mahasiswa Hawari” yang diawali dengan Leadership Camp pada tanggal 5-6 September 2020 lalu. Bertindak sebagai Pimpinan Sidang I adalah Atha Mahdi Muhammad dengan didampingi oleh Pimpinan Sidang II, Muhammad Alfin Hasan, serta Pimpinan Sidang III, Mohammad Ali Ramadhan. Dalam Musyawarah Besar ini, ada beberapa agenda yang disidangkan diantaranya Pembahasan Tata Tertib Persidangan, Pembahasan AD/ART HMP EKIS, Pembahasan Garis-Garis Besar Haluan Kerja (GBHK) Periode 2020-2021, serta penetapan Koalisi Calon Ketua HMP EKIS Periode 2020-2021.

Pada pengujung agenda sidang, secara resmi ditetapkan kedua koalisi calon ketua HMP EKIS Periode 2020/2021 yang akan bertarung pada pemilihan 10 September 2020. Adapun yang tergabung dalam Koalisi I adalah Reynald, Hifni, dan Baso. Sedangkan Nur Rosyid, Maulid, dan Habib Azhar tergabung dalam Koalisi II.

Yang perlu di-highlight dalam Musyawarah Besar kali ini adalah kata sambutan yang disampaikan oleh al-Ustadz Dr. Khoirul Umam, M.Ec saat Pembukaan Musyawarah Besar ini. Beliau berbicara tentang “Pemuda”.

Ketika kita berbicara tentang pemuda, maka yang terlintas di pikiran sebagian besar orang adalah fase labil, galau, dan belum siapnya mental dalam menghadapi berbagai permasalahan. Akan tetapi, dalam Islam pendapat seperti itu sangat tidak relevan. Justru masa muda adalah maa terkuat manusia. Di tangan pemuda lah tonggak kebangkitan umat dalam menciptakan peradaban yang lebih maju.

Tak lupa, Dr. Khoirul Umam mengisahkan kegemilangan perjuangan seorang Pemimpin pasukan tempur yang telah diramalkan jauh-jauh hari oleh Rasulullah SAW dalam pembebasan Konstantinopel. Dia adalah Muhammad Al-Fatih, Sultan  ke tujuh Kekhalifahan Utsmani. Saat usianya baru menginjak 21 Tahun, beliau mampu menaklukkan Konstantinopel yang menjadi titik balik kebangkitan kesultanan Islam kala itu. Hal ini dapat terjadi karena memang pemuda merupakan usia emas dalam perspektif Islam. Keberhasilan seorang Muhammad al-Fatih dalam membebaskan Konstantinopel merupakan proses yang tidak instan. Sejak usia 12 tahun beliau naik tahta menggantikan sang ayah yang meninggal dunia, sehingga terbiasa menghadapi banyak persoalan sejak usia belia.

“Maka, pemuda harus banyak disuguhkan beragam permasalahan agar kelak terbiasa menyelesaikan banyak permasalahan umat” Tutur beliau.

Di akhir, Dr. Khoirul Umam menggarisbawahi permasalahan umat yang sedang di hadapai saat ini. Di antaranya adalah system moneter yang belum sepenuhnya merdeka dari system ribawi. “Apakah sekarang kita sudah merdeka? Siapa yang mengatur sistem moneter kita saat ini? Itulah tugas yang harus kita emban sebagai khalifah, menciptakan sistem yang penuh keadilan” pungkas beliau.

Leave a Comment