Pemikiran Ekonomi Shah Waliullah al Dahlawi dalam Membangun Peradaban Shah Waliullah

Shah Waliullah al Dahlawi mengeluarkan dua karya besar yang sangat terkenal yaitu Hujjatullah al-Balighah dan Budur al-Bazighah. Di dalam buku Hujjatullah al-Balighah, dia banyak menjelaskan rasionalitas dari aturan-aturan syariat bagi perilaku manusia dan serta pengembangan masyarakat. Menurutnya, manusia secara alamiah adalah makhluk sosial sehingga harus melakukan kerja sama antara yang satu dengan yang lainnya. Kerja sama yang dimaksud bisa kerja sama usaha (mudharabah, musyarakah), kerja sama pengelolaan pertanian, dll.

Islam melarang kegiatan-kegiatan yang merusak semangat untuk bekerja sama, misalnya perjudian dan riba. Kedua perbuatan ini mendasarkan pada transaksi yang tidak fair, cenderung eksploitatif dan mengandung unsure ketidakpastian yang tinggi, serta memiliki tingkat resiko yang tinggi oleh karena itu larangan tadi memberikan kontribusi positif bagi peradaban manusia.

Dia juga menekankan perlu adanya pembagian faktor-faktor ekonomi yang bersifat alamiah secara lebih merata dan menyeluruh, misalnya tanah, dia berpendapat “sesungguhnya, semua tanah sebagaimana masjid atau tempat-tempat peristirahatan diberikan kepada wayfarers”. Benda-benda tersebut tepatnya dibagi berdasarkan prinsip siapa yang pertama datang dapat memanfaatkannya (First come first served), kepemilikan terhadap tanah akan berarti jika orang itu lebih dapat memanfaatkannya daripada orang lain (Ulum, tt).

Berdasarkan pengamatannya terhadap perekonomian terhadap roda perekonomian di kerajaan India, Shah Waliullah mengemukakan dua faktor utama yang menyebabkan penurunan pertumbuhan ekonomi. Kedua faktor itu adalah: pertama, keuangan Negara dibebani dengan berbagai macam pengeluaran yang tidak produktif, kedua, pajak yang dibebankan kepada pelaku ekonomi terlalu memberatkan sehingga menghilangkan semangat untuk berekonomi. Menurutnya, perekonomian dapat tumbuh jika terdapat tingkat pajak yang ringan yang didukung oleh sistem administrasi yang efisien (Ulum, tt).

Dia juga telah menguraikan dalam bukunya Budur al-Bazighah mengenai konsep tatanan sosial yang dikenal dengan al-Irtifaqat. Irtifaq adalah kata arab berasal dari akar R.F.Q. yang berarti menjadi lembut, nyaman, baik hati, membantu atau memberi manfaat. Kata irtifaq mengacu pada mengadopsi cara yang nyaman, alat bantu, metode yang bermanfaat, teknologi yang bermanfaat, dan sopan santun dalam kehidupan seseorang. Dan dia menggunakannya dalam arti khusus yang menunjukkan berbagai tahap perkembangan sosial-ekonomi umat manusia.

Menurutnya, mulai dari kehidupan desa primitif sederhana hingga komunitas internasional, perkembangan sosial ekonomi masyarakat manusia dapat dibagi menjadi empat tahap. Tahap pertama, didominasi oleh perjuangan ekonomi sederhana, sementara tahap terakhir dikembangkan untuk mempertahankan tatanan politik yang adil di tingkat internasional, untuk melindungi kepentingan sosial ekonomi Negara-negara yang berbeda dan membangun perdamaian dan keadilan diantara mereka. Semua gagasan ekonomi Shah Waliullah terkait, dengan cara tertentu dengan konsepnya tentang irtifaqat atau tahapan perkembangan sosial ekonomi. (M. Ulul Azmi)

Leave a Comment