Cover “Optimalisasi Pengelolaan Filantropi Islam Berbasis Masjid

ei.unida.gontor.ac.id – Artikel kali ini hadir mengulas dan me-review buku yang berjudul “Optimalisasi Pengelolaan Filantropi Islam Berbasis Masjid”. Buku ini merupakan karya Dosen-dosen Prodi Ekonomi Islam, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, UNIDA Gontor, yaitu Al-Ustadz Mufti Afif, Lc., M.A. (Kaprodi Ekonomi Islam), Al-Ustadz Andi Triyawan, M.A., Al-Ustadz Miftahul Huda, M.E., Al-Ustadz Arie Rachmat Sunjoto, M.A., dan Al-Ustadz Achmad Fajaruddin, M.A. Namun buku ini tidak hanya disajikan dalam bentuk review saja, selanjutnya akan dibedah pada momen acara “Pembukaan Kajian Monday Night” yang akan datang bersama dosen dan mahasiswa lintas semester Prodi Ekonomi Islam.

Begitu banyak umat Muslim yang minim akan literasi tentang masjid dan pengelolaannya. Buku ini mengulas tentang jenis-jenis filantropi Islam yang terangkum dalam kata ZISWAH (Zakat, Infak, Sedekah, Wakaf dan Hibah). Masih banyak di kalangan umat Muslim masih bingung dan bahkan tidak mengetahui perbedaan jenis filantropi Islam. Harapan penulis, selain kontribusi keilmuan juga pengenalan terhadap pengelolaan filantropi yang didukung dengan institusi masjid, InsyaAlah terhindar dan jauh dari transaksi syubhat maupun ribawi.

Dalam buku tersebut juga tidak hanya menjelaskan tentang masjid dan pengelolaan filantropi Islam saja, tapi lebih konkrit buku tersebut mengungkapkan langkah-langkah bagaimana secara gamblang metode memakmurkan masjid, yang disertai dengan teknik-tekniknya dengan kombinasi teori PAR (Participatory Action Research) hasil praktik pada masjid Jogokariyan, Yogyakarta.

I. Peran Masjid Sebagai Instrumen Optimalisasi ZIZWAH

Masjid adalah tempat sujud yang berarti patuh, taat serta tunduk dengan penuh hormat dan takzim. Karena asal kata masjid mengandung arti tunduk dan patuh, hakikat masjid adalah tempat melakukan segala aktivitas yang mengandung kepatuhan kepada Allah SWT semata. Secara istilah masjid dimaknai sebagai bangunan yang didirikan serta diyakini keutamaan-keutamaan tertentu, khusus untuk mendirikan shalat secara jama’ah dan shalat jum’at serta aktivitas keagamaan lain. Keutamaan masjid adalah hamparan bagian bumi yang paling utama, dan yang lebih utama di antara semua masjid yang ada adalah masjid al-Haram di Makkah, kemudian masjid Masjid Madinah (An-Nabawi) dan selanjutnya Masjid Al-Aqsha.

Nabi beserta para sahabat membangun masjid sebagai tempat berkumpul dan bertemunya umat Islam untuk mengkaji wahyu Allah dan berbagai perkara yang terjadi di masyarakat. Masjid Quba adalah masjid pertama yang dibangun. Pada masa itu masjid dijadikan pusat kegiatan kaum Muslimin. Kegiatan di bidang pemerintahan yang meliputi aspek ideologi, politik, ekonomi, sosial, pengembangan budaya Islam, peradilan dan kemiliteran dikaji, dibahas dan dipecahkan di dalam masjid.

Pada masa sekarang ini masjid memiliki fungsi dan peran yang semakin terasa penting dalam kehidupan umat Islam, di antara fungsinya adalah sebagai tempat ibadah, tempat menuntut ilmu, tempat pembinaan umat, pusat dakwah dan kebudayaan, pusat kaderisasi umat, basis kebangkitan umat Islam. Masjid dapat difungsikan, fungsi sebagai tempat ibadah, fungsi sosial kemasyarakatan, fungsi pendidikan, fungsi politik, fungsi ekonomi, fungsi seni budaya, dan fungsi keamanan.

II. Pengelolaan Pembendaharaan Masjid sebagai Pusat Kemakmuran Umat

Masjid adalah pusat dakwah, tempat penyejuk hati, pembersih perilaku maksiat dan pusat penyebaran Islam. Rasulullah SAW memfungsikan masjid sebagai tempat dakwah dan pengembangan sumber daya ekonomi umat Muslim. Misalnya adalah pengumpulan Zakat, Infak, dan Shadaqah yang dilakukan melalui masjid lalu menyalurkannya kepada para sahabat dan umat yang membutuhkannya.

Dalam hal pengelolaan dana masjid bahwa tak’mir masjid diharapkan punya program-program pemberdayaan ekonomi umat (jama’ah) yang mana bersinergi dengan kebijakan dan langkah pengentasan kemiskinan yang dilaksanakan oleh pemerintah. Di antara programnya adalah pemanfaatan dana ZIZWAH untuk mendorong jama’ah mampu memiliki usaha mandiri sehingga menjadi donatur yang bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat masjid.

Kemudian dalam hal fundrising dana ZISWAH lebih tepat jika disentralkan di masjid-masjid yang tersebar di wilayah Indonesia. Metode fundrising (penghimpunan dana) bisa dilakukan dengan berbagai metode; mengoptimakan kotak-kotak di lingkungan masjid, kotak parkir kendaraan berjamaah, dan mengoptimalkan pengambilan harta zakat maal atau wakaf dengan metode jemput bola. Pendistribusian ZISWAH pada institusi masjid bisa lebih fleksibel dan mengena sasaran. Jika setiap masjid dijadikan sarana untuk memakmurkan umat dalam bidang ekonomi, niscaya pemerataan ekonomi akan tercapai.

III. Zakat Produktif: Konsep dan Penerapannya

Zakat merupakan salah satu rukun Islam yang wajib ditunaikan oleh setiap umat Muslim. Menurut Bahasa berasal dari kata dasar (masdar) zakaa yang berarti suci, baik, tumbuh, dan berkembang. Dalam istilah syariah zakat adalah mengeluarkan harta yang telah mencapai nishab dan haul untuk diserahkan kepada yang berhak menerimanya.

Zakat produktif menurut Abdurrachman Qadir adalah zakat yang diberikan kepada mustahiq sebagai modal dalam rangka menjalankan kegiatan ekonomi sehingga dapat mengembangkan produktifitasnya. Penyaluran biasanya dilakukan dengan akad qard dan qardul hasan. Penyaluran zakat produktif kepada mustahiq yang bertujuan untuk memberdayakan sehingga mustahiq berubah menjadi muzakki. Impementasinya dilakukan oleh beberapa lembaga zakat dengan memberikan bantuan modal pada fakir miskin yang mempunyai usaha kecil mikro dan menengah.

IV. Infak Sebagai Filantropi Islam

Menurut terminologi syariat, infak berarti mengeluarkan sebagian dari harta atau pendapatan atau penghasilan untuk suatu kepentingan yang diperintahkan ajaran Islam. Infak juga dapat diartikan secara umum yaitu “distribusi kekayaan”, yaitu mengeluarkan harta yang mencakup harta benda yang dimiliki, tapi bukan bernama zakat.

Infak secara umum dapat diartikan sebagai distribusi harta, maksudnya adalah mendistribusikan harta baik untuk keperluan di jalan Allah maupun tidak. Secara umum infak meliputi sedekah harta, belanja dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup dan lain sebagainya, termasuk untuk konsumsi hal-hal yang diharamkan Allah SWT. Oleh karena itu, Allah SWT senantiasa mengingatkan kepada hamba-Nya untuk mendistribusikan hartanya hanya untuk urusan agama.

Infak dikeluarkan oleh setiap orang yang beriman baik berpenghasilan tinggi maupun rendah, baik di saat sempit ataupun lapang. Infak dikeluarkan oleh setiap orang yang beriman baik berpenghasilan tinggi maupun rendah, baik disaat sempit ataupun lapang. Dana infak didistribusikan kepada orang-orang terdekat kita. Allah SWT juga akan memberikan balasan yang sangat besar kepada orang-orang yang berinfak. Adapun secara hukum infak terbagi menjadi empat macam, yaitu infak mubah, infak wajib, infak haram, dan infak sunnah.

V. Peran Wakaf dalam Mensejahterakan Umat

Selama ini sudah terdapat beberapa instrument pendanaan seperti zakat, infak dan sedekah (ZIS) yang kita kenal sebagai sumber dana untuk membantu kaum dhuafa (fakir miskin) dan korban bencana. Selain instrument yang telah ada tersebut tentunya sangat mendesak dan krusial dibutuhkan suatu pendekatan baru dan inovatif dalam instrument keuangan sebagai pendamping untuk optimumnya mobilisasi dana umat.

Sebagai konsep sosial yang dimiliki dimensi ibadah, wakaf juga disebut amal shadaqah jariyah, di mana pahala yang didapatkan oleh wakif akan selalu mengalir selama harta tersebut masih ada dan bermanfaat. Cerita keberhasilan wakaf di negara-negara Muslim seharusnya menjadi cermin untuk menumbuhkan semangat pemberdayaan wakaf di Indonesia. Kalau dilihat dari jumlahnya harta wakaf diseluruh tanah air termasuk cukup besar. Jika wakaf dikelola dengan produktif akan sangat berdampak pada kesejahteraan masyarakat. Peningkatan taraf hidup masyarakat akan sangat dipengaruhi dengan salah satu instrument keuangan publik yaitu wakaf. Pengelolaan wakaf harus diperluas pemanfaatannya yang lebih dominan agar menyentuh pada pembangunan sektor usaha yang  produktif agar benefit yang dihasilkan menjadi lebih besar.

VI. Hibah dan Urgensinya dalam Ekonomi Islam

Hibah mempunyai akad pokok persoalan pemberian harta milik seseorang kepada orang lain di waktu dia hidup, tanpa adanya imbalan. Sedangkan menurut ulama ahli fikih adalah pemberian harta cuma-cuma yang dilakukan seseorang kepada pihak lain yang dilakukan ketika masih hidup sehat. Serah terima harta tersebut diberikan dan dilakukan pada waktu penghibah masih hidup. Hibah disyariatkan dan dihukumi mandub (segala sesuatu yang apabila dikerjakan akan mendapatkan pahala, jika ditinggalkan tidak mendapatkan dosa) dalam Islam.

Dari sisi telaah, hibah dalam perekonomian merupakan suatu pemberian yang bersifat sukarela. Dalam sejarah perekonomian, negara dengan kategori sedang berkembang seperti Indonesia perlu sekali mendapat dana bantuan, hibah, pinjaman dari pemerintah luar guna mendukung berkembangnya perekonomian negara. Oleh karenanya, hibah memiliki peran penting dalam menunjang perekonomian, sehingga penduduk miskin dan fakir miskin dapat terbantu dan dapat meringankan beban hidup dengan adanya hibah.

VII. Upaya Memakmurkan Masjid dengan Pendekatan PAR (Participatory Action Research)

Terdapat proses dan program-program besar guna mencapai masjid madani. Hal utama ditekankan dan dipahami bersama pengelola (takmir) masjid adalah status masjid itu sendiri. Apakah sebagai lembaga atau hanya sekedar tempat ibadah lima waktu. Jika sepakat masjid adalah institusi dakwah maka ada tahapan-tahapan yang harus direncanakan untuk eksistensi dakwah tersebut.

Salah satu strategi atau langkah berikutnya adalah program pembinaan yang tujuannya memahamkan mad’u tentang sistem Islam, meningkatkan peran jama’ah di masjid, membina keeratan ikatan persaudaran antara masyarakat hingga akhirnya tercipta masyarakat madani. Strategi pembinaan bisa diawali dari program yang paling sederhana, seperti; membina kebersamaan berbasis masjid melalui pemetaan warga dan sensus jama’ah mad’u. Untuk lebih lanjut disiapkan program dasar dengan kombinasi pendekatan PAR (Participatory Action Research), yaitu: Alur Sejarah, Trend and Change (Kecenderungan dan Perubahan), Penentuan Wilayah Dakwah Masjid, Badan Penghubung Kelembagaan (Diagram Venn).

Demikian review buku yang diberi judul “Optimalisasi Pengelolaan Filantropi Islam Berbasis Masjid” yang terdiri dari 9 BAB. Merupakan sebuah kesyukuran yang sangat besar bagi tim penyusun buku tersebut, karena telah bisa berbagi kontribusi keilmuan meskipun hanya sedikit dan harapan tim penyusun bisa dibaca langsung oleh segenap pembaca khususnya mahasiswa/i kampus UNIDA Gontor dan civitas akademika perguruan tinggi manapun serta masyarakat luas. Sehingga mampu dan mengenal serta menggali pengetahuan tentang masjid berikut pengelolaannya berbasis filantropi Islam guna mencapai kejayaan peradaban umat manusia yang berkarakter, berilmu dan menjunjung tinggi ke-Islaman. Amin.

Identitas Buku:

Judul buku :Optimalisasi Pengelolaan Filantropi Islam Berbasis Masjid
Penulis :Mufti Afif, Lc., M.A. Andi Triyawan, M.A. Miftahul Huda, M.E. Arie Rachmat Sunjoto, M,A, Achmad Fajaruddin, M.A.
Penerbit :UNIDA Gontor Press
ISBN:978-602-5620-59-1
Cetakan:Pertama
Halaman:256 hlm
Ukuran Buku:16 cm x 23 cm
Tahun terbit :2021

Leave a Comment