MUHARRAM; MOMENTUM MERAYAKAN JIWA BERBAGI

At Ta’akho adalah pondasi

dari jiwa berbagi sehingga

menjadi pribadi yang selalu dirahmati

dan dinanti oleh bidadari di Surga-Nya nanti.

Andi Triyawan

Beberapa tahun setelah Rasulullah wafat, Sayyidina Umar merasa cemas, saat korespondensi dari negeri seberang persia dan romawi mencantumkan tanggal dengan versi masing-masing. Umat Islam hampir menguasai sepertiga dunia, namun belum mempunyai tanggal sendiri. Yang beredar saat itu adalah tanggal dari tahun masehi. Maka sang khalifah Amirul mu’minin berkumpul bersama para sahabat untuk merundingkan, peristiwa apa yang harus dijadikan patokan dari penanggalan Islam.

Ada yang berpendapat, tahun kelahiran dari Baginda Rasulullah menjadi pondasi awal tahun Islam. Namun hal itu ditolak, karena saat itu terjadi penyerangan prajurit abrahah terhadap ka’bah. Akhirnya ditentukan peristiwa hijrah menjadi awal penganggalan Islam karena mengandung pelajaran besar bagi umat Islam. Rasulullah mengikrarkan secara tidak langsung tentang negara Madinah, adalah saat hijrah di madinah, dengan mengirimkan surat ke berbagai raja-raja sekitar jazirah arab.

Momentum hijrah tersebut menjadi dasar yang kokoh bangunan peradaban Islam. Diawali dengan jiwa pengorbanan para sahabat yang sangat luar biasa. Salah satu yang terekam baik adalah sahabat Abdurrahman bin Auf. Ia adalah saudagar kaya saat berada di mekkah. Namun, karena panggilan Allah dan Rasulnya untuk berhijrah ke Madinah, maka seluruh harta bendanya ditinggalkan di mekkah. Begitu besar pengorbanan para sahabat yang mungkin tidak bisa dicerna oleh akal kita saat ini.

Tidak hanya berhenti sampai disitu saja, perjalanan dari mekkah ke madinah ditempuh dengan jalan kaki, dengan kondisi jalan berbatu cadas. Pelajaran yang menarik dari peristiwa hijrah ini adalah penambahan jumlah penduduk di Madinah tidak menjadikan madinah kekurangan bahan makanan. Bahkan rasulullah melakukan ta’khoh mempersaudarakan kaum anshor dan muhajirin. Hubungan persaudaraan seagama inilah yang menjadikan para sahabat saling membantu satu sama lain. Karena begitu besarperasaan persaudaraan yang timbul, seorang sahabat yang bernama Sa’ad menawarkan bantuan kepada sahabat Abdurrahman bin Auf untuk membagi kekayaannya menjadi dua.

Dapat kita imajinasikan kehebatan dari jiwa para sahabat anshor, padahal mereka tidak mengenal sebelumnya sahabat Muhajirin, namun rela memberikan setengah harta kekayaan kepada orang lain. Bahkan dalam kisah, sahabat sa’ad juga menawarkan istrinya untuk dinikahi sahabat abdurrahman apabila berkeinginan. Namun sahabat Abdurrahman tidak lantas menerima begitu saja semua pemberian dari sa’ad, ia hanya meminta untuk ditunjukkan dimanakah pasar. Maka sahabat Sa’ad membantu permodalan dari semua perencanaan dagang yang dilakukan oleh sahabat Abdurrahman bin Auf. Setelah beberapa tahun, Abdurrahman bin Auf mencapai puncak kesuksesan dalam dunia bisnis, sehingga ia juga yang menjadi donatur besar dalam perjuangan Rasulullah dalam beberapa Gazwah. Maka melihat peristiwa ini, Muharram adalah momentum merayakan “jiwa berbagi” sesama makhluk insani, dengan doa yang selalu diiringi, menjadi rahmat yang tiada henti dilimpahkan sebagai kekasih-Nya nanti.

Leave a Comment