Mengenal Ekonomi Islam Lebih Dekat Melalui “Trees Growing Finance”

Mantingan – Diklat Ekonomi Islam (DEI) Part 2 merupakan rentetan acara yang terdapat didalam Kelompok Studi Ekonomi Islam (KSEI). Acara kali ini diselenggarakan di kelas terbuka yang akan membahas tentang Mengenal Ekonomi Islam melalui “Trees Growing Finance” dipaparkan oleh Miftahul Huda, M.E., selaku pembimbing KSEI di UNIDA Putri. (12/10/2020). Pada Umumnya masyarakat Indonesia mengenal Ekonomi Islam terbagi menjadi 2 yaitu Ekonomi Makro dan Ekonomi Mikro. Apabila ekonomi makro merupakan kajian tentang aktivitas ekonomi suatu negara. Sedangkan, ekonomi mikro merupakan kajian tentang tingkah laku  individual dalam ekonomi. Kedua jenis ekonomi tersebut dapat menentukan sikap pemikiran setiap individu. Maka,jati diri seseorang harus bisa mensesuaikan antar keduanya. Adapun beberapa masalah yang mempengaruhi ekonomi makro, yaitu uang, pasar, kebijakan moneter serta terjadinya inflasi.

Miftahul Huda, M.E. Dalam Shariah Economic Training KSEI UNIDA Putri

Berapasih tingkat hutang Indonesia ke negara lain? Negara apasih yang dikenal sebagai negara kreditor terbesar bagi Indonesia? Seperti yang kita ketahui, Negara China lah yang terkenal sebagai negara kreditor terbesar bagi Indonesia. Namun pada kenyataannya, menurut CNBC Indonesia & Warta Ekonomi, data per 17 Juli 2020, Negara yang dikenal sebagai kresitor terbesar bagi Indonesia adalah Singapura. Karena, nilai hutang Singapura mencapai US$ 72,4 milliar sebanyak 99% , dari total Utang Luar Negeri (ULN) Republik Indonesia (RI) ke Singapura merupakan ULN milik swasta. Sedangkan Jepang sebanyak US$ 28,9 milliar, dengan rincian pemerintah US$ 12,1 milliar dan swasta US$ 16,8 miliar. ULN Indonesia terhadap Amerika Serikat mencapai US$ 26,6 miliar hampir disumbang pihak swasta 97% dari total. Dan terakhir China mencapai US$ 1,78 milliar dan ULN pihak swasta US$ 18,3 milliar sehingga total ULN Indonesia US$ 20,1 milliar. Utang Luar Negeri Indonesia tercatat sebesar US$ 409,7 milliar pada Juli 2020. Nilai itu setara dengan Rp. 6.003 trilliun dengan asumsi kurs JISDOR pada akhir periode yang sama Rp. 14.603 per dolar AS. Rinciannya hutang pemerintah dank bank sentral sebanyak US$ 201,8 milliar serta hutang swasta US$ 207,9 milliar. Pertumbuhan tahunan (yoy) ULN swasta juga lebih besar (6,1%) dibandingkan pemerintah dan bank (2,2%).

Menurut berita resmi statistik (2020), Pertumbuhan Ekonomi Indonesia mengenai Produk Domestik Bruto (PDB) turun hingga -5,32%. Tingginya angka hutang Indonesia terhadap negara lain dikarenakan semakin meningkatnya kegiatan importir di Indonesia dari barang luar negeri, yang mana hal ini disebabkan karena minimnya komoditas di Indonesia.“Ketika dia mempunyai barang yang langka maka dia akan menghimpunnya. Ketika suatu saat barang tersebut akan dibutuhkan maka dia akan mengeluarkan barang tersebut dan menjualnya dengan harga yang tinggi . Maka, akan terjadinya Economic Bubble.” ujar Miftahul Huda .

Foto Bersama Anggota KSEI UNIDA Putri

Tingkat literasi tentang keuangan syariah inilah menjadi penyebab selanjutnya yang akan menjadi acuan bagi penerepan Islamic Prespektiv dalam ranah ekonomi. dan hasil survei yang dilakukan oleh Bank Indonesia menunjukkan masih 16,5% dikategori well literate. Harapan besar dari adanya literasi ini, kita sebagai penerus generasi bangsa agar mampu berperan aktif untuk menyelamatkan perekonomian Indonesia nantinya agar Negara Indonesia terbebas dari tumpukan hutang serta dapat menjadi negara maju. (Fitra/ed. M.Huda)

Leave a Comment