ei.unida.gontor.ac.id – Nilai-nilai falsafah kehidupan adalah suatu hal penting yang harus dimiliki bagi setiap manusia agar lebih memaknai arti kehidupan di dunia ini. Jika tanpa nilai (free value) sebagai pijakan dalam berbuat, maka ia tidak dapat memahami bagaimana arti kehidupan yang hakiki. Salah satu nilai falsafah kehidupan yang harus dimiliki setiap insan adalah larangan loba atau serakah dalam berbuat segala sesuatu, karena dengan kelobaan atau serakah dapat menciderai orang lain dan termasuk akhlak yang tidak terpuji, tidak bermoral atau bahkan tidak beradab. Seseorang dituntut untuk mengambil secukupnya dari apa yang mereka telah dapatkan, dan sisanya dianjurkan untuk didermakan agar dapat membantu orang lain dan membersihkan jiwa dari sifat bakhil. Setiap harta seseorang itu terdapat harta orang lain yang harus diberikan hak kepadanya.

Kelobaan adalah suatu perbuatan dzolim yang harus dihindari, karena serakah itu hendak selalu memiliki lebih dari apa yang ia miliki tamak dan rakus. Meskipun ia sudah kaya akan tetapi ia masih juga mengangkangi harta saudaranya. Mereka yang serakah merupakan termasuk golongan dari orang-orang materialistik yang mengatakan “mengapa kita sudah bersusah payah bekerja mengumpulkan harta toh akhirnya nanti diberikan kepada orang lain?”. Jika bagi yang berfikir materi pertanyaan diatas memang betul dan logis. Hal tersebut tidak dapat diterima karena orang tersebut berfikir dari sisi materi saja. Padahal memberi itu banyak manfaatnya, bahwa dengan memberi dapat melatih kita terhindar dari sifat loba, serakah, bakhil, tamak, rakus dan sifat hati lainnya.

Kita sebagai manusia dilarang untuk memiliki sifat loba atau serakah. Sebaliknya kita harus mengambil dari apa yang kita dapat sesuai kebutuhan saja atau secukupnya. Terdapat istilah yang sering disampaikan oleh Trimurti Kyai Gontor kepada para santrinya yaitu:

“hanya seceduk tangan”

Dimana seseorang tidak boleh berlebihan dalam segala sesuatu karena sesuatu yang berlebihan tidak baik. Istilah tersebut didapat dari kisah yang sangat menarik dalam Al Qur’an ketika Thalut akan berperang melawan Jalut.

Thalut menyampaikan kepada pasukannya bahwa peperangan ini memakan perjalanan yang sangat jauh dan tandus melewati padang pasir dan dipertengahan jalan Allah SWT akan menguji para pasukan dengan melewati sungai yang sangat jernih dan segar airnya. Sesampai di sungai tersebut Thalut menekankan kepada umatnya untuk tidak meminum air tersebut tidak lebih dari seceduk tangan walaupun haus sampai mencekik leher, ia berkata barang siapa yang meminum berlebihan maka akan tidak kuat dan lemah dalam peperangan. Tidak sedikit dari pasukan Thalut yang meminum berlebihan bahkan ada juga yang langsung menceburkan diri ke sungai yang jernih itu. Terbukti sesampai di medan perang mereka yang meminum berlebihan menjadi lemah, tak berdaya bahkan tidak memiliki nyali dalam mengikuti peperangan.

Sedangkan mereka yang meminum dengan seceduk tangan yang merupakan kelompok kecil tetap tegar dan gagah berani menghadapi musuh yang kuat dan bersenjata lengkap. Dari kisah diatas terdapat benang merah yang perlu kita ambil dan resapi, dalam berjuang kita dilarang untuk mengambil berlebihan dari apa yang telah kita dapatkan cukup dengan keikhlasan maka Allah akan membantu kita dalam kondisi apapun. Loba atau serakah merupakan sifat yang perlu kita hindari. Dalam berjuang kita harus selalu tirakat demi mencapai ridho Alllah SWT, dari sini semoga apa yang kita harapkan dapat tercapai sampai tujuan menggapai Jannah- Nya.

Dalam perilaku ekonomi, terdapat relevansi antara “seceduk tangan” dengan etika bisnis seorang produsen Muslim dalam berproduksi. Produksi dalam ekonomi konvensional senantiasa mengusung maksimalisasi keuntungan sebagai motif utama sekaligus sebagai tujuan dari keputusan ekonomi. Strategi, konsep, dan teknik produksi semua diarahkan untuk mencapai keuntungan maksimum, baik dalam jangka pendek, maupun jangka panjang. Produsen dalam sistem ini adalah profit seeker atau profit maximize. Upaya memaksimalkan keuntungan itu membuat sistem ini sangat memprioritaskan produtivitas dan efisiensi produksi. Motivasi keuntungan ini ditentukan sepenuhnya pada teori permintaan dan penawaran, sehingga kuantitas produksi juga dimaksimalkan (tanpa batas). Sebagaimana hadits Nabi Muhammad SAW:

“Tidaklah menimbun kecuali orang yang berbuat dosa.” (HR.Muslim)

Memaksimalkan keuntungan dalam Islam diperbolehkan selama mematuhi ketentuan-ketentuan hukum Islam, namun tetap membatasi jumlah produksi yang dihasilkan, yaitu:

Kuantitas produksi tidak boleh berlebihan, tetapi hanya sebatas kebutuhan yang wajar. Produksi barang dan jasa secara berlebihan tidak saja menimbulkan miss-alokasi sumber daya ekonomi dan kemubaziran (wastage), tetapi juga menyebabkan terkurasnya sumber daya ekonomi ini secara cepat. Semakin menipisnya persediaan sumber daya alam dan kerusakan lingkungan hidup merupakan salah satu masalah serius dalam pembangunan ekonomi modern saat ini.

Produsen hanya menghasilkan barang dan jasa yang menjadi kebutuhan (needs), meskipun belum tentu merupakan keinginan (wants) konsumen. Barang dan jasa yang dihasilkan harus memiliki manfaat riil bagi kehidupan yang Islami, bukan sekedar memberikan kepuasan maksimum bagi konsumen. (Wildan Ainun M.)

Leave a Comment