Melihat Jurus Rahasia untuk “Mahasisa”

Mahasiswa “Sisa” (Mahasisa) merupakan mahasiswa lanjut yang menjadi problematika tersendiri bagi program studi. Berikut resep rahasia beberapa prodi dalam menyelesaikan dilema ini. Tulisan ini dirangkum berdasarkan pengalaman sukses para kaprodi yang terlibat diskusi dengan penulis.

  1. Multi Level Motivation (MLM)
    Motivasi berlevel diberikan kepada mahasiswa dengan tingkatan semangat yang berbeda-beda. Perbedaan ini juga disebabkan oleh permasalahan yang mereka hadapi juga dengan berbagai macam tingkatannya. Artinya, mahasiswa lanjut membutuhkan motivasi yang sesuai dengan kondisi mental yang dialami. Misalkan mahasiswa yang terkendala urusan internal keluarga, tentunya perlu motivasi khusus agar dia tetap semangat menyelesaikan studinya dalam rangka mengurangi beban keluarga bahkan dapat membantu keluarganya setelah wisuda. Konsekuensi dari memilih motivasi yang tepat adalah mengidentifikasi para mahasiswa tersebut berada pada level apa dan apa yang menjadi kebutuhan mereka. Untuk itu, diperlukan gaya komunikasi personal yang nyaman sehingga seorang mahasiswa dapat mengungkapkan problemnya dengan terus terang.

Salah satu contoh menyediakan komunikasi yang nyaman adalah mendekatkan jarak usia lawan bicara mahasiswa, seperti teman dekat/se-kelas/se-angkatan/se-konsulat atau dosen muda. Seorang dosen harus ada perwakilannya yang dapat menurunkan level komunikasinya dari gaya “teacher to student” menjadi “friend to friend” atau “brother to brother”. Hal ini terbukti berhasil sebagaimana kaprodi PM menumpas mahasiswa guru kategori “expired soon”. Sebaliknya, pengalaman penulis menggunakan motivasi yang tidak pas, menyebabkan mahasiswa guru, yang masih memiliki pinjaman wibawa, tidak kembali lagi untuk konsultasi, karena mungkin wibawanya sebagai guru, wali kelas dan senior bagian di pondok tidak berarti dihadapan dosennya. Oleh karena itu, perlu komunikasi dengan level yang setara agar lawan bicara menjadi nyaman dan percaya.

Bisa jadi motivasi yang diberikan selama ini tidak masuk atau tidak mengena atau belum menyentuh hati mahasiswa, sehingga isi dari nasihat belum diikuti. Dengan motivasi berbagai level, diharapkan ada pesan yang dapat dicerna dan dipahami, sehingga dapat diterima.

2. Pengawal Khusus
Mahasiswa semester lanjut memiliki kebutuhan khusus karena mereka punya masalah secara individual sehingga tidak dapat menyelesaikan studi tepat waktu. Mahasiswa berkebutuhan khusus ini memerlukan pengawal khusus yang memahami masalah mereka sehingga solusi dan terapi yang diberikan dapat dimonitor secara khusus dan fokus. Pembimbing khusus untuk semester lanjut ini idealnya adalah dosen yang masih single (belum berkeluarga) atau dosen yang dengan rela me-single-kan diri dengan tinggal di asrama jauh dari anak istri. Kriteria ini penting karena bimbingan dan pengawalan akan lebih maksimal, dan mahasiswa akan merasa lebih terkawal.

Selain itu, dosen putera akan lebih baik menjadi pengawal mahasiswa, namun tidak menutup kemungkinan bagi dosen putri dengan syarat dapat menjaga batasan. Begitu pula sebaliknya di kampus putri. Selanjutnya, dosen pengawal tentunya harus diberi arahan oleh program studi terkait target waktu penyelesaian studi mahasisa yang ditangani. Karantina Skripsi
Tempat khusus untuk konsentrasi skripsi diperlukan untuk membuat miliu dan semangat penulisan sampai penyelesaian. Banyak manfaat dari sistem ini yaitu tumbuhnya rasa saling membantu dan saling memotivasi antara sesama semester lanjut yang akan terbentuk “group feeling”. Perasaan ini sangat penting sebagai sebuah kekuatan penyemangat dan “group control”. Selain itu, hal ini juga memudahkan dosen atau pembimbing dalam melakukan pengawasan. Artinya, pengawasan dapat dilakukan dengan mengunjungi satu tempat, sehingga tidak perlu berkeliling kamar di beberapa asrama.

3. Memberi obat yang tepat
Pada umumnya masalah yang dihadapi oleh mahasiswa semester lanjut terdiri atas persoalan akademik dan non-akademik. Apabila kendala yang dihadapi terkait proses akademik, prodi perlu merancang program khusus untuk memberikan solusi akademis. Sebagai contoh, apabila mahasiswa terkendala materi tertentu pada semester tertentu, maka prodi dapat memberikan treatment khusus bagi mahasiswa lanjut ini, tentunya dengan syarat dan ketentuan yang berlaku. Apabila kendala yang dihadapi merupakan masalah non-akademik, maka diperlukan kebijakan yang khusus juga agar hal tersebut dapat diatasi dan tidak menyebabkan keterlambatan dalam penyelesaian studi.

Sebagai contoh, mahasiswa yang mengalami kendala komunikasi dengan dosen pembimbing, maka perlu dibantu komunikasi dengan pembimbingnya. Jika ia tidak/belum berani menghadap dosen tertentu, maka perlu motivasi agar berani untuk menghadap. Apabila “bola panas” berada di pihak dosen pembimbing, sehingga bimbingan tidak efektif, maka perlu dipertimbangkan untuk penyegaran tim pembimbing.

Pada akhirnya, tidak ada tips yang paling benar atau baik, yang ada adalah cara yang tepat dan cocok sesuai dengan problematika mahasiswa yang dihadapi. Kesungguhan terus berikhtiar dan berdoa akan ikut serta membuka pintu langit dalam memberikan jalan-jalan petunjuk-Nya untuk membina dan mendidik para anak didik. Wallau A’lam.

Al-Ghazali Permai, 15 Jumadil Awal 1441/11 Januari 2020
Royyan R. Djayusman

Leave a Comment