Mungkin kamu pernah melihat postingan teman atau saudara mu sedang memamerkan uang ataupun bukti transfer dibarengi dengan caption, “Masih muda sudah menghasilkan jutaan rupiah dalam seminggu!!! , kamu kapan? Kalau mau kaya bergabunglah Bersama kami!!”. Apakah kamu langsung berfikir, kok bisa ya? Gimana sih caranya? Atau mungkin kamu langsung berfikir “wah kayak nya bisnis ini sangat menguntungkan, langsung ikut ah..”. jika anda pernah berfikir seperti itu maka kamu telah termakan oleh sebuah taktik pemasaran yang dinamakan MLM atau Multi Level Marketing.

Emang ada apa sih dengan MLM? kok denger-denger MLM haram ya? Emang apa salahnya sih dengan MLM? Katanya ada ya MLM Syariah? Apa itu skema ponzi? Sabar bro sabar habis ini kita kupas tuntas segala sesuatu mengenai praktek bisnis MLM.

Sebelum itu kita akan membahas apa itu Skema Ponzi, skema ponzi merupakan konsep investasi yang digagas dan dikembangkan oleh seseorang berkebangsaan Italia, yakni Charles Ponzi pada tahun 1920. Skema ini merupakan penipuan investasi di mana klien dijanjikan untung besar tanpa risiko. Perusahaan yang terlibat dalam skema ponzi memusatkan seluruh energinya untuk menarik klien baru guna melakukan investasi.

Seperti yang dituangkan dalam laman Investopedia (17/7/2019), investasi dengan skema ponzi pada dasarnya murni perputaran uang dari anggotanya sendiri. Skema ponzi mengandalkan aliran investasi baru yang konstan untuk terus memberikan pengembalian kepada investor yang lebih dulu. Apabila aliran habis, skema tersebut akan berantakan.

Mekanismenya, pengelola atau owner perusahaan yang mempraktikan skema Ponzi ini membujuk investor baru dengan mewarkan keuntungan lebih tinggi dalam waktu singkat. Untuk memberikan kesan kredibel dan bonafide kepada para investor dan calon investornya, owner tak ragu menyiapkan fasilitas-fasilitas guna memperlancar bisnisnya, seperti kantor, event-event, dan lainnya.

Pada perkembangan zaman, perusahaan yang menganut sistem MLM atau skema Ponzi turut memasarkan beberapa produk. Tapi pada hakikatnya mereka tetap meraup keuntungan melalui sistem skema Ponzi tersebut bukan melalui produk yang mereka jual.

Fakta ini pun di dukung oleh beberapa ormas islam di Indonesia. Salah satunya pada – Munas Alim Ulama Nahdatul Ulama atau NU merekomendasikan bisnis multi level marketing atau MLM adalah haram. Hal ini berlaku untuk MLM dengan skema piramida, atau ponzi.

“Haram, karena terdapat gharar (penipuan), dan syarat yang menyalahi prinsip akad sekaligus motivasi dari bisnis tersebut adalah bonus bukan barang,” kata Asnawi dalam sidang pleno Munas Alim Ulama, di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar, Kota Banjar, Jawa Barat, Kamis malam, 27 Februari 2019.

Asnawi menuturkan para kiai NU menggunakan referensi dari kitab Az Zawajir juz 2 halaman 132, kitab Ihya Ulumuddin juz 2 halaman 76, dan kitab-kitab klasik lainnya.

Ia menjelaskan bisnis MLM baik dengan skema piramida atau skema Ponzi memiliki lima ketentuan seperti berikut:

  • Adanya uang pendaftaran atau dibarengi dengan pembelian produk yang menjadi syarat untuk mengikuti kegiatan bisnis nya serta dalam pencarian mitra
  • Adanya ketergantungan pada setoran dari member baru untuk survive dan untuk menguntungkan member lama
  • Rancangan pemasaranya menghasilkan bonus atau komusu dan penghargaan lain berdasarkan dari kegiatan tertentu
  • Produk yang diperdagngkan bisa didapatkan secara gratis atau lebih murah. Atau dalam kasus lain manfaat produk tidak sesuai dengan apa yang diiklankan
  • Dalam bisnis MLM piramida atau skema ponzi bonus merekrut anggota jauh lebih besar dibandingkan dengan bonus dari manfaat produk itu sendiri

Yang terjadi saat ini dalam perusahaan MLM adalah mereka sangat bergantung pada uang yang didapatkan dari hasil perekrutan member baru, bukan dari hasil penjualan produk. Fakta ini didasari oleh interview dengan seorang member suatu perusahaan MLM, dia mengakui telah meraup keuntungan sekitar 9 juta Rupiah, 9 juta tersebut adalah hasil dari perekrutan member baru. Sedangkan keuntungan dari penjualan produk itu sendiri sangat lah sedikit. Fakta ini mungkin tidaklah jauh berbeda dengan kasus lainnya.

Mari kita berfikir secara logika di dalam skema ponzi. Jika di suatu daerah terdapat populasi sekitar 20 orang, dari 20 orang tersebut terdapat 2 orang yang menjadi member perusahaan MLM, kemudian mereka dari setiap mereka berhasil merekrut 4 orang menjadi member baru. Maka terdapat lah 10 orang yang bergabung di perusahaan MLM tersebut dan tersisa 10 orang yg belum mengikuti perusahaan MLM. Andai kata dari 10 member tersebut berhasil merekrut dan meraup untung dari 10 orang yang tersisa. Jika mereka meraup untung dari hasil perekrutan maka 10 orang terakhir yang direkrut akan mendapat untung darimana? Kalaupun mereka menjual produk, kepada siapa produk tersebut akan dijual? Karena semua populasi di daerah tersebut sudah menjadi member dan memiliki produk yang sama untuk dijual. Yang terjadi adalah kekacauan dalam keuangan perusahaan tersebut dan akhirnya bangkrut karena tidak ada aliran uang masuk lagi, dan yang paling untung adalah member yang berada di posisi puncak, member yang baru bergabung hanyalah mengalami kerugian.

Inilah salah satu alasan logika mengapa MLM atau perusahaan yang menganut sistem skema Ponzi di haramkan.

Ilustrasi skema Ponzi atau skema piramida

Sekarang muncul suatu tren baru adalah MLM Syariah, mereka menggadang gadang bahwa semua sistem di dalam nya transparan, sistem bonus yang sebelum nya dipermasalahkan diganti dengan sistem reward. Sejatinya sistem tersebut sama saja hanya diperhalus agar terlihat lebih syariah dan lebih memikat hati masyarakat. Sama seperti suatu produk minuman ber alkohol dipasarkan dengan mengusung bahwa produk nya tidak mengandung alkohol agar memikat masyarakat, karena minuman yang mengandung alkohol tidak akan laku dijual di pasaran.

Oleh karena itu, kita sebagai muslim haruslah mempelajari banyak ilmu sebelum kita memutuskan untuk memulai atau mengikuti suatu bisnis, agar kita bisa mendapatkan keuntungan dengan ridho Allah SWT, dan juga tidak merugikan orang lain bahkan menjatuhkan orang lain.

Rayhan Ahmad Zaki
Mahasiswa Program Studi Ekonomi Islam
Universitas Darussalam Gontor

Leave a Comment