Mahasiswi EI 2 Mengikuti Acara Pesan dan Nasehat bersama Al Ustadz Akrim Mariyat

Diawal, beliau menjelaskan dahulu pendidikan Gontor berbeda dengan pondok pondok pesantren disekitarnya. Dahulu memakai celana panjang itu haram karena menyerupai penjajah, namun Gontor menerapkannya. Kemudian sepak bola juga diharamkan karena dianggap menendang kepala hasan dan husein cucu rasul. Namun Gontor tetap membolehkan sepak bola karena yang dilihat adalah sisi tarbiyahnya yaitu kebersamaan, team building, dan ukhuwah.

Maka pendidikan di Gontor ini sangat luar biasa. Alumni Gontor pun sangat bermacam-macam profesinya. Hampir diseluruh lini ada anak-anak gontor. Dalam organisasi masyarakat yang menjadi pimpinan pusat NU tahun sebelumnya adalah KH Hasyim Muzadi yang mana beliau adalah alumni Gontor. Begitu juga Prof Dr Din Syamsudin adalah pimpinan pusat Muhammadiyah. Yang menjadi menteri agama juga ada, pengusaha juga tidak sedikit, kyai-kyai diberbagai daerah juga luar biasa dan lain sebagainya.

Pada tahun ’63 Gontor mendirikan perguruan tinggi Darussalam yang disebut PTD, kemudian berubah menjadi IPD, berkembang menjadi ISID dan ditahun 2014 melesat menjadi Universitas Darussalam. Semua itu merupakan cita cita Trimurti yang jauh sudah dirumuskan sejak sebelum kemerdekaan.

Gontor adalah tempat beramal sehingga tidak ada istilah gaji. Semua guru-gurunya berada didalam kampus dan mendapatkan keberkahan didalamnya. Di Gontor ada istilah sederhana, sederhana dalam pandangan Gontor adalah sesuai dengan kebutuhan. Kenapa di Gontor ada Menara tinggi yang nilainya milyaran. Begitu juga dengan stadion, gedung-gedung tinggi dan lain sebagainya, itu semua karena sudah menjadi kebutuhan bagi kita.

Di sela-sela acara beliau juga menjelaskan bahwa janganlah mahasiswi mempunyai angan-angan yang terlalu tinggi namun tidak mengerjakan apa yang ada didepannya. Menariknya beliau mengkiaskan seperti orang yang memegang telur ayam kemudian ia berangan-angan bahwa telur tersebut akan dierami oleh ayam betina, sehingga menetas menjadi ayam. Maka kemudian ayam tersebut bertelur, sehingga telurnya juga menetas dan mempunyai ayam yang sangat banyak sekali.

Dari penghasilan yang banyak sekali kemudian membeli sapi, dan juga sapinya berkembang sampai ribuan. Karena sudah kaya terus pingin menikah dan punya anak banyak. Dan kalau punya anak yang tidak mau dididik sehingga marah-marah dan tidak terasa telur yang ditangannya tadi dilempar, Sehingga menjadi pecah. Itulah hasil dari orang yang suka berangan-angan tidak jelas.

Maka sebaiknya mahasiswi meneruskan kuliahnya di UNIDA, jangan sampai berangan-angan kalau kuliah di luar itu lebih baik. Disisi lain mahasiswi tidak tahu bagaimana hidup diluar baik dari segi kebutuhan, keuangan,pergaulan dan lain sebagainya. Maka harus benar-benar dicermati. (Andi Triyawan)

Leave a Comment