Mahasiswa vs Smartphone: Menang Telak!

Banyak orang menilai smartphone telah menjadi lifestyle pada abad ini, tak terlepas dalam kehidupan mahasiswa. Namun, sebagian menganalisa produk telepon seluler ini telah berhasil membius aktivitas mahasiswa. Tulisan ini mencoba untuk mengungkapkan realita mahasiswa berinteraksi dengan dengan gadget populer abad ini.

Inti dari struktur kata “smartphone” adalah kata “smart” yang menjadikan tipe alat komunikasi ini sangat spesial. Dalam kamus Oxford, di antara arti kata “smart” adalah (of device) programmed so as to be capable of some independent action. Dengan kata lain smartphone merupakan sebuah alat komunikasi yang dapat diprogram untuk bekerja secara mandiri. Salah satu contohnya, aplikasi google map yang dapat menunjukkan berbagai rute perjalanan mulai bagi pejalan kaki sampai dengan transportasi umum. Berdasarkan salah satu contoh di atas, dapat disimpulkan bahwa smartphone sangat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.

Smartphone sudah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari.

Akan tetapi, di samping aspek positif di atas, terdapat pula aplikasi pada tipe mobile phone ini yang berpotensi kurang bermanfaat bahkan merugikan seperti game dan poker. Kedua aplikasi dan yang serupa dapat merugikan karena terbukti membuat mahasiswa terlena pada tanggungjawab dan waktu mereka. Artinya, seorang mahasiswa dapat saja terlena tidak mengerjakan tugas dan menghadiri kegiatan kampus dikarenakan “khusyuk” dengan gadget-nya. Sehingga “smartphone syndrome” ini mengakibatkan kegagalan dalam kuliah bahwa pelanggaran disiplin.

Oleh karena itu, mahasiswa tipe ini dapat disimpulkan sebagai mahasiswa yang kalah karena terlena oleh sebuah benda mati sejenis smart device ini. Tampaknya kesimpulan inilah yang mendominasi pemikiran sebagian orang, termasuk penulis.

Namun, kesimpulan di atas akan terimbangi bahkan tereduksi dengan melihat dinamika kegiatan mahasiswa pada Jumat pagi kemarin. Sebagian mereka terlihat aktif di berbagai jenis aktivitas mulai dari yang bersifat individu sampai dengan komunitas, seperti lari pagi, sepak bola, basket, futsal, panahan, beladiri, menwa, kerja bakti pembersihan di masjid dan asrama, sampai kompetisi futsal.

Penulis terfokus pada kompetisi futsal prodi ini karena terlihat spesial karena dilaksanakan dengan mandiri tanpa harus dengan anggaran. Hadiahnya pun sederhana, karena intinya adalah mengisi pagi dengan olahraga. Bagian menarik justru di akhir kompetisi yang ditutup dengan makan dan doa bersama. Hidangannya pun sederhana, diambil dari dapur masing-masing mahasiswa, meskipun  lauk apa adanya, suasana tetap penuh dengan canda tawa, pertanda mereka semua bahagia.

Hal ini menunjukkan mahasiswa tidak hanya mampu menjalankan aktivitas yang telah diprogram oleh universitas (olah-raga, olah-pikir, olah-dzikir, olah-rasa), namun mampu melakukan inovasi dan kreasi dalam aktivitas. Inilah yang kemudian menjadikan mahasiswa layak disebut sebagai pemenang atas smartphone.

HMP Ekonomi Islam mengadakan pertandingan futsal antar semester bagi mahasiswa program studi ekonomi islam

Fakta lain yang lebih mengejutkan dan membanggakan adalah pertemuan penulis pada awal tahun 2019 dengan sosok mahasiswa spesial yang mampu memberikan gambaran lebih berbeda terkait pertempuran mahasiswa melawan smartphone. Meskipun singkat, namun isi percakapan begitu memikat, di mana sang mahasiswa menceritakan program liburan akhir tahunnya.

Singkat cerita, pada liburan akhir semester empat, ia mengisi liburan dengan tahfidz di salah satu pondok tahfidz di Malang. Kisah yang membuat penulis seakan “angkat topi” adalah target yang ia tentukan yaitu menghafal dua juz yang menjadi hafalan wajib pada semester enam sampai delapan. Hal ini dilakukan tanpa paksaan, artinya mahasiswa tersebut dapat merancang dan menjalankan aktifitas positifnya secara mandiri. Kemampuan untuk mempersiapkan tahfidz yang dibutuhkan pada tahun berikutnya adalah langkah yang “super smart” atau para Londoners akan mengatakan “super fantastic”.

Kesimpulan dari kedua fakta singkat di atas adalah bahwa mahasiswa tipe ini memiliki daya tahan terhadap dampak negatif yang berupa “smartphone addiction” atau “nomophobia”, bahkan mampu mengalahkannya. Pada hakikatnya mereka telah menang melawan dirinya sendiri, inilah yang disebut jihad akbar. Wallahu A’lam.

Al-Ghazali Permai, 15 Jumadil Awal 1441/11 Januari 2020

Royyan R. Djayusman

Leave a Comment