LAZIS BERBASIS MASJID

Menurut CAF world Giving index 2018, Indonesia memasuki nomor wahid sedunia dalam hal memberi bantuan kepada sesame berupa sedekah uang maupun waktu. Dan yang menduduki peringkat kedua adalah Australia dan New Zealand yang ketiga. Hal ini menunjukkan sebuah bukti bahwa umat islam mempunyai jiwa sosial yang tinggi kepada sesame dibanding umat lain karena Indonesia mayoritas beragama Islam. Dan yang menarik adalah Intitusi yang memberikan urutan tersebut bukanlah lembaga yang berdomisili di Indonesia.

Melihat dari fakta diatas, yang paling akrab ditelinga kita setiap hari jum’at adalah pengumuman hasil infak dan sedekah masjid. Bahkan tidak sedikit dari ta’mir masjid di Indonesia yang bangga jika hasil saldonya banyak. Hal ini bertolak belakang saldo yang diumumkan oleh salah satu masjid percontohan di Indonesia yaitu masjid Jogokariyan, yang selalu mengumumkan saldo masjidnya dengan angka 0. Namun pembahasan dari tulisan ini bukanlah tentang saldo nol masjid jogokariyan yang telah mentasarufkan semua amal jama’ah tanpa tersisa. Lebih dari itu, penulis mencermati permasalahan bahwa infak dan sedekah yang ada di masjid hanya difungsikan pada perbaikan fasilitas masjid semata, sehingga ta’mir merasa tabu jika uang masjid digunakan untuk membantu umat islam.

Salah satu solusi untuk mengembangkan keuangan masjid, baik itu dalam segi pengumpulan dana atau pentasarufannya, dibutuhkan lembaga zakat, infak dan sedekah dibawah kepengurusan ta’mir masjid. Dosen di universitas Darussalam Gontor kampus mantingan telah melakukan penelitian ditahun 2019, mengenai permasalahan utama apa yang menyebabkan ta’mir masjid tidak mendayagunakan dana infak atau mendirikan sebuah lembaga zakat. Jawaban yang paling utama dari permasalahan tersebut adalah karena kurangnya pengetahuan ta’mir masjid tentang literasi sedekah, zakat ataupun wakaf. Maka dari sini, perlu diadakan sosialisasi bagaimanakah fikih ZISWAF dan manajemennya.

Beberapa bulan yang lalu, masjid Annur Dadung yang merupakan masjid binaan dosen Unida Gontor kampus mantingan telah mendirikan sebuah LAZIS. Lembaga ini mengajak para jama’ah masjid di dusun Dadung untuk bersedekah melalui “kencleng yang dibagikan kepada Jama’ah. Setiap awal bulan kencleng tersebut dikumpulkan oleh petugas lazis untuk kemudian ditasarufkan kepada fakir miskin yang membutuhkan.

Dari program tersebut LAZIS An Nur Dadung mampu mengumpulkan sekitar 2 – 3 juta perbulan. Rata-rata 20 fakir miskin, anak yatim dan mahasiswa mendapatkan santunan. Hal inilah yang kemudian menjadikan bukti bahwa orang Indonesia memang suka berderma. Banyak dari jama’ah masjid yang memiliki kepedulian sosial yang sangat tinggi. Dilain sisi, setiap masjid memiliki potensi yang sangat tinggi yang mengumpulkan dana sedekah namun amat disayangkan apabila pentasarufannya kurang maksimal. Lazis An Nur yang terbentuk tersebut dapat menjadi sebuah model percontohan bagi masjid lainnya. Dengan hal-hal yang sederhana, apabila digerakkan, maka potensi umat ini sungguh luar biasa. Semula fakir-miskin tidak ada yang menyantuni, namun karena ada lazis, mereka jadi terbantu.

Tulisan ini adalah tulisan pertama mengenai pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh dosen kampus mantingan dan akan diteruskan pada tulisan kedua mengenai pengembangan Lazis pada program warung makan gratis berbasis masjid.  Andi Triyawan

Leave a Comment