KONSEP KELANGKAAN SUMBER DAYA EKONOMI; BENARKAH SUDAH BAKU?

Share

Diyakini oleh kebanyakan ekonom dan bahkan sudah menjadi teori dasar dari ilmu ekonomi bahwa sebab terjadinya perekonomian dan pertukaran barang adalah kelangkaan sumber daya. Melimpahnya sumber daya yang dimiliki suatu tempat akan mendorong sekelompok manusia akan berduyun-duyun menempati daerah tersebut guna memenuhi hajatnya, baik dengan cara tukar menukar (jual beli, barter, dll) atau dengan cara perampasan paksa. Secara teori sementara memang tidak dapat disalahkan hasil pemikiran ini. karena memang manusia cenderung ingin selelu memenuhi hajatnya dan tentu itu berdampak bagi eksistensi kehidupannya. Namun teori ini masih subjektif, perlu dikaji lagi secara mendalam.

Teori kelangkaan SDM dalam ilmu ekonomi dibilang masih subjektif memang benar adanya. Ide pemikiran ini bersumber pada naluri hewani manusia yang selalu ingin menguasai dan mendominasi atas sumber daya. Manusia sangat cinta kepada harta, cinta kepada kemegahan, kedudukan, wania-wanita, anak-anak dan semua yang dianggapnya baik secara subjektif. Kelangkaan ini membuat manusia saling berebut, menindas dan mengekploitasi sumber daya yang ada. Wal akhir teori kapitalis yang dituduh sebagai sumber masalah perekonomian; yang punya modal lebih besar akan menang dalam kancah perekonomian atau siapa yang kuat akan menundukkan mereka yang lemah.

Teori kelangkaan sumber daya mendorong adanya ekspansi militer untuk perang, menjajah, menganiaya dan bahkan pengusiran penjaga asli sumber daya. Karena masing-masing eklompok merasa punya hak untuk menguasai sumber daya tersebut dan penguasaan itu bisa diperoleh dengan kemenangan. Lalu teori sosialis mengemukakan solusi berupa pentingnya pemerataan dan menikmati sumber daya secara bersama. Allah menciptakan bumi beserta isinya ini semata-mata untuk manusia, dalam firmanNya (QS.2:29): “Dialah Allah yang menjadikan segala yang ada di bumi ini untuk kamu (manusia)” yang berarti bahwa semua manusia sudah dibekali semua yang dibutuhkan berupa; sandang, pangan dan papan yang cukup. Apapun yang diperlukan dan dibutuhkan manusia sudah tersedia, inilah konsep Kepemilikan yang hakiki, Allah berfirman: “Dan kepunyaan Allah-lah semua apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi” (disebutkan 18 kali dalam al-Quran) . Maka pemilik dan penguasa kekayaan alam ini adalah Allah Swt semata. Sedangkan manusia hanya pengelola aset yang Allah titipkan, inilah konsep istikhlaf atau khalifah, Allah berfirman (Qs. 2:30): “Sesungguhnya Aku akan menjadikan (khalifah) di muka bumi”. Maksudnya adalah manusia diciptakan hanya sebagai penerima titipan atau pinjaman berupa aset yang kelak akan diminta kembali oleh pemiliknya, dan diminta pertanggung jawaban atas penggunaannya tersebut. Hal ini seperti seseorang yang mengamanatkan suatu barang kepada orang lain, lalu sipemberi amanat akan minta laporan atas penggunaan barang tersebut.

Kembali pada bahasan kelangkaan. Dalam konsep Allah Yang Maha Adil tidak ada kelangkaan sumber daya. Perekonomian terjadi semata-mata memang Allah Swt sengaja menciptakan keunggulan di tiap-tiap kaum. Setiap individu diberikan keunggulan yang berbeda-beda yang satu sama lain tidak boleh iri terhadapnya. Allah berfirman (Qs. 16:71): “Dan Allah melebihkan sebagaian kamu dari sebagian yang lain dalam hal rezeki, tetapi orang-orang yang dilebihkan (rezekinya itu) tidak mau membagi rezeki mereka kepada budak-budak yang mereka kuasai agar mereka sama (merasakan ) rezeki itu”. Lalu dalam firman yang lain disebutkan (Qs.4:32); “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita ada bagian yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karuniaNya. Sesungguhnya Allah Maha Mengeahui segala sesuatu”.

Jelas sudah, bahwa kelangkaan itu hanya makna majazi yang hakikatnya adalah tetap dikaruniai keunggulan tertentu. Maka adil jika kelompok tertentu diberikan keunggulan
berupa sumber daya alam, namun lemah dalam hal teknologi. Sementara kelompok yang lain unggul di bidang industri dan teknologi, namun lemah dalam hal sumber daya alam.
Berkat perbedaan keunggulan inilah antar kelompok saling memenuhi kebutuhannya dengan cara bertransaksi yang adil dan damai.

*Bersyukurlah atas apa yang kita miliki, belum tentu dimiliki orang lain*

(Mufti Afif)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*