Ketika PDB Diragukan, Salahkah Outlook Perekonomian Kita?

Perekonomian tidak seperti labu raksasa yang tumbuh hingga jatuh tempo dan yang ukurannya dapat ditentukan pada setiap tahap dan dibandingkan dari satu musim ke musim berikutnya.

Untuk menjaga  stabilitas perekonomian Pemerintah menyusun outlook perekonomian yang di dalamnya terdapat perkiraan perekonomian di masa datang dan laporan kinerja ekonomi di tahun yang lalu. Dengan outlook tersebut pemerintah dapat melihat  kinerja yang seperti apa yang harus dilakukan pemerintah setelah mengevaluasi dalam laporan kinerja tahun sebelumnya dalam mencapai kesejahteraan yang merupakan tujuan utama kegiatan ekonomi.

Yang dijadikan ukuran dalam outlook tersebut adalah pengukuran pengeluaran domestik atau biasa disebut PDB atau GDP. GDP yang merupakan fungsi dari variable konsumsi (C), Investasi  (I), belanja pemerintah (G) dan Net Export (NX). Maka secara tidak langsung outlook yang merupakan deskripsi dari kegiatan ekonomi dalam mencapai kesejahteraan yang dihitung dari variable-variable GDP. Dapat diambil kesimpulan bahwa GDP merupakan indikator untuk menghitung tingkat kesejahteraan.

PDB Sebagai Indikator Kemakmuran Suatu Negara

Outlook = GDP = sejehtera

Jika kita menilik sejarah, bahwa ekonomi berhutang budi pada perang dingin, dimana perang dingin melahirkan paradigma bahwa pertumbuhan ekonomi diukur dari bagaimana negara dapat memenuhi kebutuhan perang saat itu, dari sana terbentuklah sebuah isu baru bahwa kualitas manusia diukur dari tingkat outputnya. Maka kesejahteraan suatu negara diliat dari fungsi C, I dan G yang bersifat kualitatif.

Suatu negara dikatakan sejahtera saat contohnya Indonesia boleh berbanggga dengan naiknya predikat “Layak Investasi” dari BB+ menjadi BBB-, namun bagaimana dengan tingkat pengangguran yang ada, apakah dengan tingginya angka investasi mengeluarkan indonesia dari tingginya angka pengagguran?. Dalam Outlook Ekonomi Indonesia tahun 2018 disebutkan bahwa tingkat pengangguran Indonesia masih tinggi di tengah tingginya investasi Indonesia, setelah diamati hal itu dapat terjadi karena jenis investasi di Indonesia merupakan investasi sekunder yang kurang menyerap tenaga kerja. Kita juga dapat melihat bagaimana Amerika dengan GDP-nya yang tinggi sementara rasio hutangnya mencapai 99% dari GDP.

Di sisi lain Iran yang memiliki tingkat GDP lebih rendah dibandingkan dengan Amerika yang menempati urutan pertama GDP. Namun Sience-MetrXII dalam laporan hasil penelitiannya di Motreal Kanada menyebutkan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan di Negara Iran sebelas kali lebih cepat dibandingkan negara-nagara lainnya di dunia. Jadi apakah GDP bisa dijadikan indikator kesejahteraan?

GDP yang Bias

Dari kasus Amerika dan Iran di atas kita dapat melihat bahwa GDP tidak dapat dijadikan satu-satunya indikator kesejahteraan, mengapa? Karena GDP mungkin dapat dikatakan berhasil menghitung kegiatan ekonomi yang kuantitatif, namun GDP tidak dapat meng-counter indeks kesejahteraan yang bersifat kualitatif.

GDP yang memasukan kegiatan ekonomi yang bersifat kuantitatif sebagai tingkat kesuksesaanya, dalam arti bahwa kesejahteraan tercapai saat GDP suatu negara tinggi mendorong individu-individu dalam berekonomi bersifat tamak, semua hal harus dipenuhi tanpa memperhatikan aspek manfaat dari kegiatannya tersebut, apapun dilakukan untuk mencapai kepuasannya atau dalam bahasa ekonomi self-interest. Kita dapat melihat bagaimana negara Afghanistan mendorong pertumbuhan ekonomi negaranya dengan perdagangan opium tanpa memperhatikan aspek sosial lingkungan negara tersebut? Apa yang terjadi dengan mental pemudanya? Inilah yang dikatakan Umer Chapra bahwa akan selalu ada gap antara makro dan mikro, saat negara yang dalam hal ini mengatur mekanisme makro dengan aturan-aturan yang ideal bertemu dengan mekanisme mikro yang bebas.

Kesejahteraan dalam Islam

Dalam pandangan Islam idealnya ekonomi makro dapat mengcounter ekonomi mikro, jika kita menjadikan kesejahteraan dalam aspek makro, maka di dalamnya diiatur bagaimana tujuan makro ini dapat mewakili aspek-aspek yang mikro. Imam syatiibi ilmuwan muslim yang konsen terhadap hal ini membahasnya dalam maqasid syariah (tujuan-tujuan syariah), beliau menyebutkan bahwa tujuan kehidupan ini adalah mencapai kesejahteraan, hal ini dicapai dengan lima index maqasid yang mengcounter aspek-aspek mirko.

Suatu kegiatan ekonomi dikatakan mencapai kesejahteraan menurut Syatibi adalah saat sutau kegiatan tersebut  dalam mencapai target kegiatannya tidak meninggalkan satu index maqasidpun, yakni menjaga agama (hifdzu ad-din), menjaga jiwa (hifdzu an-nafs), menjaga akal (hifdzu akl), menjaga keturunan (hifdzu an-nashl), dan yang terakhir menjaga harta (hifdzu al-mal).Contoh kecilnya saat sebuah perusahaan akan beroprasi ia melihat apakah produk yang akan diproduksi diperbolehkan oleh agama?, apakah produknya baik bagi kesehatan?, apakah produknya dapat mempercepat daya fikir atau mungkin malah menghambat proses berfikir atau bahkan kehilanngan kesadaran?, apakah produk yang akan dipasarkan baik bagi keberlangsunga ekosistem yang juga disiapkan untuk keturunan kita di masa yang akan datang? Dan apakah produk tersebut tidak menguras habis harta konsumen?. Begitu pula saat pemerintah dalam hal ini departemen perekonomian menyusun outlook perkembangan ekonomi 2020, sudahkah ia meng-counter hal-hal tersebut sehingga dapat menghapus distorsi yang terjadi pada GDP?

Begitulah Islam mengajarkan kita bahwa dalam setiap kegiatan kepuasan pribadi bukanlah satu-satunya tujuan, kita juga harus memikirkan bagaimana sekitar kita, keberlangsungan alam, keserasian sosial dan budaya, akselerasinya bagi kualitas diri dan sekitar, karena kejehtaraan artinya bukan kita bahagia atas apa yang kita capai, namun bahagia karena sekitar kita ikut merasakan kebahagiaan tersebut. [arm]

2 Comments

    1. contohnya ust? mungkin bisa 3 SKS sama Ust Andi Triyawan dengan mata kuliah ekonomika Internasional membahas tentang GDP 🙂

Leave a Comment