Kapitalisasi atau Ekonomika Qurban ?

Segala puji bagi Allah yang setiap perintah-Nya mengandung berkah ke-ekonomi-an. Ketentuan ibadah dalam Islam ternyata memiliki peran masing-masing yang signifikan dalam dimensi perekonomian.

Contohnya sholat, Allah mewajibkan seluruh Muslim untuk mendirikan sholat. Sementara sholat tidak sah jika aurat tidak tertutup. Dengan demikian pengadaan sarana penutup aurat menjadi sangat penting bahkan wajib. Berdirilah industri mukena, sarung, dan industri lainnya yang mendukung pengadaan sarana sholat tersebut. Berapakah nilai kapitalisasi dari satu ketentuan pertama agama Islam ini, keberkahan ekonomi dalam sholat.

Suasana Sholat Ied di Gontor

Bahkan dalam ibadah puasa Ramadhan. Walaupun konteksnya adalah menahan hawa nafsu, makan dan minum, justru nilai kapitasisasinya bisa jauh lebih tinggi. Sebelum bulan Ramadhan, biasanya ibu-ibu sudah menumpuk bahan makanan untuk persediaan sahur dan berbuka, belum lagi rumah makan dan restoran yang menyediakan menu berbuka selama 30 hari, dan rata-rata warung atau tempat makan penuh selama Ramadhan. Belum lagi nilai ekonomi dari mudik lebaran yang berasal dari perintah sholat sunnah Idul Fitri dan silaturrahim.

Lalu, berapakah nilai kapitalisasi dari ibadah haji? Kini menjamur industri transportasi, akomodasi, catering, bahkan pakaian atau gamis ibu ibu yang gemar belanja baju untuk kebutuhan di tanah suci. Berapa banyak biaya yang dikeluarkan masing-masing jamaah haji atau bahkan hanya ibadah sunnah, umrah, yang berangkat ke tanah suci? Belum lagi ditambah jutaan calon jamaah haji waiting list yang telah setor dananya 25 juta rupiah untuk booking seat? Suatu nilai yang besar bukan?

Bagaimana dengan zakat? Walaupun konteksnya ialah memotong sebagian harta kekayaan muzakki, namun di sisi real demand atau permintaan barang kebutuhan pokok para mustahik akan menunjukkan lonjakan yang sangat tinggi. Adanya zakat ternyata memastikan berlangsungnya kegiatan ekonomi pada tingkat yang minimum. Zakat menjadi penentu purchasing power para mustahik yang berasal dari para muzakki. Sehingga, dengan adanya zakat, perekonomian tidak akan kehilangan daya serapnya yang minimal.

Penyembelihan Hewan Qurban di UNIDA Gontor

Dalam waktu dekat ini, umat Islam akan merayakan hari raya qurban, Idul Adha, dimana ritual ibadah yang dilakukan ialah dengan menyisihkan sebagian hartanya dalam bentuk hewab qurban untuk disembelih dan dibagikan dagingnya kepada masyarakat miskin, dan ini termasuk ibadah sunnah bagi yang mampu melaksanakan. Lalu, bagaimana fungsi ketentuan ibadah ini dalam dimensi perekonomian?

Dari aspek ekonomi, qurban menjadi salah satu event penting. Ibadah qurban kembali memastikan interaksi para pelaku ekonomi. Artinya, masyarakat kaya akan membuat permintaan (demand) terhadap hewan qurban, adanya demand ini tentu akan menciptakan supply atau penawaran hewan qurban. Sehingga keberadaan ibadah qurban akan memastikan sektor peternakan hewan qurban selalu memiliki pasarnya sendiri walaupun secara musiman. Uniknya, volume ekonomi yang tercermin dari besar kecilnya tingkat demand dan supply sangat bergantung pada tingakt keimanan orang-orang kaya.

Hukumnya yang sunnah, atau sifatnya yang sukarela, merefleksikan bahwa iman memiliki peran yang vital dalam mendorong volume transaksi ekonomi. Dengan berlandaskan asumsi bahwa orang kaya tersebut memiliki harta yang cukup untuk berqurban, tetapi iman-lah yang akan memastikan apakah orang kaya mau berqurban atau tidak, dan iman akan menentukan apakah ia akan berqurban kambing atau sapi, satu atau dua hewan qurban.

Dari contoh di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa sudah sepantasnya jika tingkat keimanan menjadi parameter keberhasilan sektor perekonomian. Dan, qurban menjadi salah satu instrumen ekonomi yang menunjukkan korelasi keimanan dengan berputarnya sektor ekonomi.

Ada yang berani menghitung berapa nilai ekonomi semua perintah Allah? Apalagi Indonesia memiliki populasi Muslim yang terbesar di dunia, ibadah sholat, puasa, haji umrah, zakat dan bahkan ibadah qurban memiliki potensi yang baik dalam menjaga perekonomian domestik, khususnya dalam kondisi krisis keuangan saat ini.

Nah, UNIDA Gontor, dengan Tabungan Qurban-nya, Tamanna UNIDA, sudah dikelola dengan lebih profesional. Mahasiswa dan seluruh civitas UNIDA Gontor telah diperkenalkan dan perlahan-lahan diarahkan agar mampu berqurban setiap tahunnya. Bagaimana caranya? Konsep Tamanna adalah tabungan qurban, jadi mahasiswa dan dosen UNIDA Gontor secara sengaja menyisihkan pendapatannya untuk jangka waktu satu tahun supaya saat Idul Adha tiba, mereka akan mampu membeli hewan qurban.

Ayo, mari ramai-ramai berqurban 🙂 [Rukmi]  

Leave a Comment