Jangan Menjadi Orang Bangkrut; “Sebuah Refleksi Amalan-amalan di Bulan Ramadhan.”

Share

(Ponorogo, 23 Mei 2020/30 Ramdhan 1441)

Sahabat ekonomi Islam yang berbahagia, mari kita saling mengajak dan menasehati dalam rangka meningkatkan iman serta kualitas ibadah satu sama lain guna tercapainya tujuan hidup yang selalu kita dambakan; yaitu meraih kebaikan di dunia dan kesejahteraan di akhirat.

Berbicara tentang untung-rugi dalam berbisnis tentu sangat digemari oleh para pedagang, pengusaha atau siapapun yang ingin memaksimalkan keuntungan. Apalagi yang diulas adalah kiat-kiat meraih keuntungan yang sangat besar atau kiat-kiat bebas dari resiko kerugian atau terhindar dari kebangkrutan.

Ketika mendengar kata bangkrut, pastinya langsung terbesit dalam benak kita adalah orang yang hancur dalam usahanya, tidak menyisahkan harta benda sedikitpun dan bahkan masih memiliki banyak tanggungan hutang. Kondisinya mengenaskan dan sangat berhak mendapatkan bantuan dari siapapun dan saudara-saudaranya.

Pembahasan bangkrut di dunia bisnis sangat berbeda dengan ulasan bangkrut dalam hal amal ibadah. Hakikat orang yang bangkrut dalam urusan ibadah adalah orang yang kelak dibangkitkan dari kuburnya dengan membawa segudang amalan sholatnya, amalan puasanya, amalan zakatnya bahkan amalan hajinya sekalipun, tapi di sisi lain ia juga membawa bermacam kedzaliman terhadap orang lain. Baik berupa merampas harta benda orang lain, menjatuhkan kehormatan orang lain, menciderai tubuh orang, membunuh orang lain tanpa alasan yang disyariatkan dan mencerca/ cacimaki orang lain.

Rasulullah Saw pernah bertanya kepada para sahabatnya dalam suatu majelis ilmu, beliau bersabda:

أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ؟ قَالُوا: الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ. قَالَ: إِنَّ الْمَفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي وَقَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَي مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طَرِحَ فِي النَّارِ

Artinya: “Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu?” Para sahabat menjawab, “Orang yang bangkrut di antara kita adalah orang yang tidak punya dirham (uang perak) dan tidak punya harta apapun.” Rasulullah Saw bersabda, “Orang yang bangkrut dari umatku adalah mereka yang datang di hari kiamat nanti dengan membawa banyak (amal) shalat, puasa, dan zakat, (namun) ia telah mencerca (orang) ini, menuduh (orang) ini, memakan harta orang, menumpahkan darah orang, dan memukul orang. Maka (dari setiap orang yang dianiaya tadi) diberi (pahala amal) “ini kebaikannya” dan “yang ini (diberi pahala amal) dari kebaikannya”. Apabila amal kebaikannya telah habis sebelum terbayar (semua) tanggungannya, dosa-dosa mereka (yang dizalimi tadi) diambil lalu dipindahkan kepadanya, (sehingga sekarang terbalik; yang pahala-pahala tadi hilang berubah menjadi dosa-dosa dari beberapa orang yang didzaliminya) kemudian dia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim)

Hadis tersebut menjelaskan bahwa orang yang sering berbuat dzalim atau aniaya kepada orang lain (selama di dunia) akan mendapat hukuman dari Allah Swt berupa hukuman yang sangat mengerikan. Bisa dibayangkan, betapa ruginya dan menyesalnya orang yang semena-mena tersebut. Yaitu pahala-pahala amal sholehnya dibagi-bagikan kepada setiap orang yang pernah didzaliminya, sedangkan dosa-dosa setiap orang yang terdzalimi tadi dipindahkan dan ditimpakan kepada yang berbuat dzalim padanya. Sehingga tersisa tumpukan dosa, meskipun dulu saat di dunia menjadi ahli ibadah yang tekun. Artinya menjadi sia-sia perbuatan ibadahnya dihadapan Allah jika tidak berimbang dengan ibadah sosial kemasyarakatannya. Begitulah nasib orang dzalim yang mudah menjelekkan orang lain dengan berbagai bentukmya, seluruh catatan amalannya berisi keburukan yang tidak mungkin lagi mampu menolongnya, oleh sebab itu ia dimasukkan ke dalam api neraka. Allah Swt berfirman:

إِنَّآ أَعۡتَدۡنَا لِلظَّٰلِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمۡ سُرَادِقُهَاۚ وَإِن يَسۡتَغِيثُواْ يُغَاثُواْ بِمَآءٖ كَٱلۡمُهۡلِ يَشۡوِي ٱلۡوُجُوهَۚ بِئۡسَ ٱلشَّرَابُ وَسَآءَتۡ مُرۡتَفَقًا

Artinya: “Sesungguhnya telah Kami sediakan bagi orang orang dzalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.” (al-Kahfi: 29)

Ayat tersebut jelas menerangkan bahwa balasan orang dzalim tidak ada lagi kecuali neraka dengan siksaan yang pedih. Wajahnya dibuat paling buruk, minumannya tidak ada kebaikannya sediktipun. Hal ini karena seringkali kedzalimannya berbentuk kata-kata, meskipun kadangkala juga dapat berbentuk perbuatan.

Rasulullah Saw menekankan kepada umatnya bahwa orang muslim yang baik adalah yang memiliki ketulusan sikap dalam beragama, punya kepribadian baik, menjaga lisan, dan selalu menghindari madharat terhadap orang lain, baik sengaja maupun tidak. Rasulullah saw bersabda:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

Artinya: “Seorang muslim (yang hakiki) adalah orang yang kaum muslimin terhindar dari (kejahatan) lisan dan tangannya.” (Muttafaqun ‘alaih)

Sahabat ekonomi Islam yang berbahagia, bulan ramadhan telah sampai pada masa purnanya, yang berarti segenap kaum mukmin telah banyak berbuat kebajikan dan bahkan sudah terampuni semua dosa-dosanya dengan tambahan bonus pahala dari aneka macam bentuk kebajikan yang telah dilipatgandakan Allah Swt. Setelah mereka letih menempuh ibadah yang banyak selama satu bulan penuh tersebut, tentunya mereka mengharapkan semua pahala yang didapatkan terus terjaga utuh dan terpelihara hingga ajal menjemputnya. Seandainya bulan ramadhan ini terus ada, kemungkinan besar umat mukmin masih akan berlomba-lomba meraih kemualiannya, namun disayangkan bulan penuh rahmat dan ampunan ini sangat terbatas dan sekarang justru telah berlalu.

Setelah masa bonus pahala habis, yang juga merupakan masa pendidikan akhlak bagi seluruh umat mukmin, kini yang tersisa dan yang akan dihadapi adalah masa-masa ujian selama 11 bulan. Dimana setiap individu (termasuk kita) akan dihadapkan dengan banyak permasalahan kehidupan; masalah dalam keluarga, pekerjaan, sosial kemasyarakatan dan masalah-masalah yang tidak akan ada habisnya. Pada setiap masalah yang ada, bisa jadi di antara kita terjerumus dalam kesalahan ucap dari lisan serta dari perbuatan yang kemudian berbuat dzalim lalu terjerumus dalam golongan orang-orang bangkrut sebagaimana disebutkan dalam hadis Rasullah saw dan Firman Allah Swt di atas (naudzubillah min dzalik).

Mari sahabat ekonomi Islam, kita saling menasehati dan mengoreksi kesalahan satu sama lain supaya selalu terjaga secara lisan maupun perbuatan sehingga tidak sampai berbuat dzalim kepada orang lain dan tidak menjadi orang yang bangkrut sebagaimana disebutkan dalam hadis Rasullah saw dan Firman Allah Swt di atas. Kita memperbanyak doa mengharap pertolongan Allah Swt, di samping itu juga mempersiapkan diri secara mental untuk mempertahanakan kualitas dan kuantitas ibadah selayaknya masa-masa bulan ramadhan kemarin. Semoga kita diberikan usia yang barokah, kemudahan urusan, dan dipertemukan kembali dengan bulan yang penuh berkah rahmat serta ampunan dari Allah Swt di tahun yang akan datang, aamiin. Taqobbalallah minnaa wa minkum, taqobbal Yaa Kariim

(Mufti Afif)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*