3 Upaya Stabilitas Sistem Keuangan Menurut Ekonomi Islam

Jakarta-Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah BI, (19/03/2019). “Hidup adalah dinamika. Hal ini pasti terjadi karena keniscayaan adanya ujian dari Allah Swt. Oleh karenanya kestabilan adalah impian, karena dinamika kestabilan adalah keniscayaan”, ujar Bambang Himawan sebagai Deputi Direktur DEKS Bank Indoensia dalam kegiatan program DCS (DEKS Considerable Studies)

Stabilitas Sistem Keuangan adalah suatu kondisi yang memungkinkan sistem keuangan nasional berfungsi secara efektif dan efisien serta mampu bertahan terhadap guncangan internal dan eksternal. Kerentanan (vulnerability) sistem keuangan mengacu pada suatu kondisi ketidakseimbangan dalam sistem keuangan (financial imbalances) yang terjadi karena perilaku pengambilan resiko (risk taking behaviour) dari agen perekonomian dalam memaksimalkan keuntungan atau konsumsinya. Allah Swt telah menjelaskan dalam firman-Nya al-Quran surat Al Anbiyaa ayat 35, yang artinya: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). dan hanya kepada kamilah kamu dikembalikan”.

Bahwasannya Allah Swt akan menguji setiap hamba-Nya dengan keburukan dan kebaikan baginya. Maka bisa dikatakan bahwa ujian merupakan sebuah keniscayaan dalam bentuk ketidakpastian yang Allah berikan atau sebuah ‘resiko’ dalam kehidupan dan dari sini dilihat bahwa kestabilan tidak akan tercapai, tetapi pada ayat yang lain Allah berfirman dalam al-Quran surat Al Mulk ayat 3, yang artinya: “Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, Adakah kamu Lihat sesuatu yang tidak seimbang?”. Disini akan dijelaskan bagaimana upaya penstabilan perekonomian menurut pandangan Islam:

Pertama, Merasa Cukup atau Qona’ah. “Bila manusia ingin merasa lebih dari sesamanya diposisi yang lebih tinggi dari standar biasanya, maka ia sedang memposisikan saudaranya dalam posisi yang jauh lebih rendah dari standar minimal seharusnya. Berbeda dengan jika manusia merasa cukup (qana’ah) dengan posisi seharusnya (Allah berikan) maka ia sedang membantu saudaranya untuk kehidupan yang lebih baik atau memposisikan saudaranya untuk tidak menjadi miskin (dibawah standar minimal seharusnya)”, ujar Bambang Himawan.

Kedua, Profit and Loss Sharing. Permasalahan yang sering hadapi dalam perekomian adalah timbulnya resiko, jika resiko yang akan dihadapi dapat diterima dengan lapang dada, maka resiko tersebut tidak perlu tempat lain untuk menjadi tampungan. Berbeda halnya dengan resiko yang tidak ingin diterima, maka resiko tersebut akan mencari tempat lain sebagai tampungan dengan kata lain menimbulkan masalah baru. “Maka jika dalam perekonomian khususnya berbagi resiko dapat diterapkan akan merendahkan volatilitas resiko”. papar Bambang Himawan.

Ketiga, Penyesuaian (Adjustment). Zakat merupakan fungsi dana untuk didistribusikan atau bisa disebut dengan dana sosial sebesar 2,5% untuk disalurkan kepada pihak yang defisit. Hal ini merupakan upaya terakhir yang dapat dilakukan untuk menstabilkan perekonomian, maka diharapkan dengan zakat dapat menjadi upaya penyesuaian guna memperkecil gap perekonomian. Allah Swt berfirman dalam al-Quran surat Ibrahim ayat 7, yang artinya; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”

Maka suatu keseimbangan bukan dilihat dengan satu sudut padang saja, akan tetapi lihat dan di telaahlah lebih jauh lagi. Diasumsikan bila ada seseorang mengalami keuntungan sebesar 10% maka dipihak lain akan terjadi suatu kerugian sebesar 10%, artinya Allah Swt telah memberikan suatu keseimbangan yang agregat, sebagai makhluk-Nya manusia haruslah melihat secara menyeluruh. Pun sama halnya jika diasumsikan antar negara, didunia ini pasti ada negara yang miskin ada juga negara yang kaya hal ini lumrah adanya, bisa dibayangkan jika semua negara di dunia ini kaya, maka tidak akan ada negara sebagai penyuplai bukan?

Dapat disimpulkan bahwa kestabilan hanyalah milik Allah Swt, kita tidak dapat memandang atau menyimpulkan kestabilan begitu saja, karena pada hakikatnya kestabilan perekonomian hanya dapat dilihat dari kaca mata keseluruhan atau dari berbagai sisi (sisi surplus harta dan sisi defisit harta). Wallahua’lam. (Isna/ed. M.Huda)

Leave a Comment