“Bro pinjem uang dong, nanti minggu depan aku balikin deh….”. Begitulah kalimat yang biasa terucap dari seseorang yang ingin meminjam atau berhutang uang kepada teman nya. Sekilas kalimat tersebut teerlihat ringan tapi memiliki beban tanggungan yang sangat besar. Mungkin beberapa dari kita terkadang menyepelekan hal ini, mari kita lihat dari pandangan islam dalam menyikapi hal hutang piutang.

Islam membolehkan hutang piutang dengan beberapa catatan dan ketentuan-ketentuan yang berlaku yaitu:

  • Diperbolehkanya berhutang jika dalam keadaan benar-benar terpaksa.

Nabi Muhammad SAW bekata bahwa hutang menyebabkan kesedihan di malam hari dan kehinaan di siang hari. Di dalam point ini hutang diperbolehkan jika seseorang sedang membutuhkan sesuatu dalam keadaan darurat dan ketika itu dia tidak memiliki harta ataupun uang untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

  • Jika berhutang hendak nya diiringi dengan niat yang kuat untuk mengembalikanya.

Ketika kita berhutang kepada seseorang, kita hendaknya melihat kondisi terlebih dahulu, apakah kita mampu untuk membayarnya kembali atau tidak. Tapi terlepas dari itu dalam sebuah hadist disebutkan. Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: Barang siapa yang mengambil harta orang lain (berhutang) dengan tujuan untuk membaurnya (mengembalikan nya), maka Allah SWT akan tunaikan untuknya. Dan barang siapa yang mengambilnya untuk menghabiskanya (tidak melunasi), maka Allah SWT akan membinasakanya. (riwayat Bukhari).

Dalam pembayaranya pun bisa dipermudah dengan cara di bayar sekaligus ataupun dicicil.

  • Hutang piutang harus ditulis dan ada saksi

Dalam pelaksanaan praktek hutang-piutang haruslah ada bukti tertulis yang disepakati oleh kedua belah pihak dan juga disaksikan oleh saksi agar terhindar dari ketidakjelasan dan perilaku curang. Dalam bukti tertulis pun haruslah tertulis jumlah hutang, waktu dan tempat transaksi.

  • Pemberi hutang dilarang keras untuk mengambil keuntungan.

Piutang didasari untuk membantu si peminjam dari kesulitan. Tidak dibenarkan dalam islam jika piutang digunakan untuk mencari keuntungan. Bahkan dalam dianjurkan memberi penangguhan waktu pembayaran jika penerima hutang masih mengalami kesulitan dalam perekonomian. Dasar dari hukum ini tertera pada sabda Nabi Muhammad SAW yang berbunyi: Barang siapa ingin dinaungi Allah dengan naunganya (pada hari kiamat), maka hendaklah ia menangguhkan waktu pelunasan hutang bagi orang yang sedang mengalami kesulitan, atau hendaklah ia menggugurkan hutang nya (Riwayat Ibnu Majah).

  • Menyegerakan pelunasan hutang jika sudah mampu untuk membayar nya.

Dalam sabda nya Nabi Muhammad SAW berkata: Menunda (pembayaran) bagi orang yang mampu merupakan suatu kezaliman (Riwayat Bukhari). Maka jika si penerima hutang sudah memiliki cukup uang atau mampu dalam membayar hutang nya maka diharuskan padanya untuk segera melunasi hutang tersebut walaupun jatuh tempo pembayaran masih lama.

Itulah beberapa ketentuan-ketentuan dalam islam dalam hal hutang-piutang, jadi hutang piutang bukanlah suatu hal yang sepele. Salah dalam praktek ini dapat membuat kita terjerumus ke dalam jurang kezaliman yang nantinya akan di pertanggungjawabkan di akhirat, semoga kita diberikan rezeki agar terhindar dari terlilit hutang dan kezaliman.

Rayhan Ahmad Zaki
Mahasiswa Program Studi Ekonomi Islam
Universitas Darussalam Gontor

1 Comment

  1. Menarik judul dan isinya dengan bahasa yang mudah dipahami untuk anak muda.
    Koreksi sedikit, ada beberapa typo… Hehehehe kereeeen !!!

Leave a Comment