Hari Pertama Diklat Kewirausahaan Pesantren: Dari Teori ke Praktik

Setelah lima hari mengikuti kelas terkait kewirausahaan yang bertempat di Pusdiklat Tenaga Teknis Pendidikan dan Keagamaan, Ciputat Jakarta, dilanjutkan dengan praktik atau studi lapangan, peserta dapat melihat langsung bagaimana strategi pengelolaan usaha pondok pesantren Gontor.

Hari pertama (Sabtu, 12 Oktober 2019) pelaksanaan Diklat Kewirausahaan Pesantren diisi oleh beberapa pemateri dan kunjungan lapangan. Materi pertama disampaikan oleh Al Ustadz K.H. Syamsul Hadi Abdan selaku Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), dengan tema Nilai-nilai Pendidikan Ponpes Gontor.

Studi Lapangan Para Peserta Diklat di Unit Usaha Konveksi PMDG

Peserta yang berasal dari seluruh perwakilan provinsi se-Indonesia ini hendak berlajar dari keberhasilan Gontor dalam mengelola unit-unit usaha, bisnis pondok serta kopontren, sehingga memiliki kemandirian dalam hal pendanaan. Antusiasme peserta diklat dalam sesi bersama Al Ustadz H. Imam Sobari, S.Ag., dengan materi Penanaman Pendidikan Kewirausahaan di Ponpes, sangat tinggi.  “Unit usaha yang ada di pondok ini dikelola sendiri oleh para santri, mudabbir, dan ustadz, hal ini menunjukkan bahwa pondok ini bisa hidup mandiri dalam pengelolaan unit usaha pondok, mereka tidak digaji, imbuhnya.

Studi Lapangan Para Peserta Diklat di Unit Usaha Percetakan PMDG

Kunjungan di hari pertama, peserta diklat melihat secara langsung beberapa unit usaha Gontor seperti percetakan Darussalam Press, pabrik Air Minum Dalam Kemasan “Amidas”, dan konveksi Gontor. Sejatinya unit usaha yang dimiliki Pondok Pesantren itu dijadikan sarana untuk membentuk kemandirian dan pengelolaan, organisasi serta menjadi media bagi pondok untuk melakukan praktik berwirausaha, sehingga terdapat keseimbangan pada pendidikan agama dan pendidikan kewirausahaan. Begitu pemaparan dari salah satu dosen UNIDA Gontor, Al Ustadz Nusa Dewa Harsoyo S.H.I , M.A.

Materi selanjutnya disampaikan oleh Al Ustadz Syamsuri, M.Sh. terkait perkembangan teknologi melalui virtual market pesantren. Pondok pesantren memiliki potensi dalam kemandirian ekonomi dengan swasembada kebutuhan pesantren. Comparative advantage antar pesantren menjadi isu penting dalam virtual market pesantren ini. Pesantren dengan produksi unggulannya, yang dapat memenuhi kebutuhan di dalam pesantren, didorong untuk mampu menerima order dari pondok pesantren lainnya. Sehingga dari pesantren, oleh pesantren dan untuk pesantren menjadi slogan dalam virtual market berbasis teknologi, yang diberi nama Tamam.id. Semoga serangkaian kegiatan diklat yang diselenggarakan di Pondok Modern Darussalam Gontor ini dapat terlaksana dengan sukses dan lancar.  [A.M.Muhammad/Nastiti]

Leave a Comment