Hari Kedua Diklat Kewirausahaan: Sampai di Pondok ‘Negeri 5 Menara’

Diklat kewirausahaan pesantren memasuki hari kedua, Ahad (13 Oktober 2019). Semua peserta masih semangat dan antusias mendengarkan pemaparan dari Drs. H. Y. Suyoto Arief, M.S.I. terkait strategi sukses manajemen kewirausahaan pondok pesantren.

Bentuk pemberdayaan yang dilakukan Gontor untuk mengoptimalkan sumber daya wakaf yang dimiliki ialah dengan melakukan pemberdayaan Sumber Daya Manusia (SDM) melalui pendidikan dan pelatihan dengan tujuan menghasilkan para kader wirausaha yang siap untuk mengelola unit-unit usaha Ponpes Gontor maupun hidup mandiri di masyarat.

Ust Suyoto Memberikan Materi Diklat

Selanjutnya, Gontor juga melakukan pemberdayaan aset wakaf yang berada di bawah Badan Wakaf melalui pendirian unit-unit usaha. Pendirian tersebut telah berjalan sejak tahun 1970 berupa usaha penggilingan padi dan pada masa kini telah memiliki cukup banyak usaha. Saat ini Gontor sudah memiliki 32 unit usaha. Terdapat unit usaha yang diluar koperasi yaitu perseroan. Beberapa pengembangan kopontren Gontor antara lain SPBU yang dikelola oleh Pondok Modern Gontor di Wonosobo.

Staf BMT La Tansa Memberikan Penjelasan kepada Peserta Diklat

Baitul Maal wat Tamwil (BMT) La Tansa Gontor menjadi destinasi pertama rombongan peserta diklat Kemenag ini. Peserta disambut hangat oleh para staf BMT La Tansa. Antusiasme peserta terlihat sangat bersemangat dalam bertanya terkait awal pembentukan BMT hingga omset dari BMT sekarang. Beberapa peserta perwakilan ponpes yang hadir berkeinginan untuk mendirikan BMT seperti Gontor, belajar dari keberhasilan Gontor dalam mengelola unit-unit usaha, sehingga harapannya ponpes memiliki kemandirian dalam hal ekonomi.

Peserta Diklat Semangat Mendengarkan Paparan dari Selep Gontor

Tidak jauh dari lokasi BMT La Tansa, rombongan peserta diklat diarahkan untuk berkunjung ke pabrik penggilingan padi (selep). Unit usaha ini merupakan unit usaha pertama yang didirikan pondok. Berangkat dari kebutuhan utama, yaitu pangan, maka lahirlah unit usaha penggilingan padi ini. Pekerja selep merupakan masyarakat sekitar pondok yang mata pencahariannya sebagai petani dan pengolah sawah.

Staf Bakery La Tansa Memberikan Penjelasan kepada Peserta Diklat

“Kami tidak mengemis bantuan dana dari pemerintah. Kami membiayai biaya pondok kami dari unit-unit usaha kami, parik roti, peternakan sapi, susu, pabrik es, sawah dan penggilingan padi, sayur, minimarket, stasiun radio dan televisi serta lain sebagainya, laba dari unit usaha itulah yang mensubsidi biaya pendidikan dan makan kami di pondok”, tukas salah seorang staf Pabrik Roti La Tansa Bakery.

Staf Toko Bangunan KUK Memberikan Penjelasan kepada Peserta Diklat

Toko Bangunan KUK Gontor yang terletak di jalan utama menuju Pondok Gontor dibangun karena unit usaha ini bertujuan untuk menunjang kebutuhan bahan material dan alat yang semakin banyak dalam rangka pembangunan Gontor serta Universitas Darussalam (UNIDA). Selain itu, unit usaha di pondok sebagai sarana pendukung pendidikan dan pembelajaran santri maupun ustadznya, tidak lepas juga kontribusi pondok Gontor dalam melayani dan membantu masyarakat sekitar pondok.

Ust Imam Muhtar Memberikan Penjelasan kepada Peserta Diklat

Bagaimana membaca peluang bisnis pondok pesantren, disampaikan oleh AL Ustadz H. Imam Mukhtar di sesi sore diklat kewirausahaan pondok pesantren. Beliau menyimpulkan bahwa pesantren itu sangat dimungkinkan mandiri dengan memberdayakan sumber daya yang dimiliki. Pesantren dapat memiliki unit usaha untuk mengembangkan keberadaannya, karena pesantren memiliki pasarnya sendiri.

Pemandangan Pondok dari Menara Gontor

Hari kedua diklat ini diakhiri dengan kunjungan ke Suargo FM, radionya Gontor. Kemudian peserta disuguhkan dengan pemandangan dari Menara Gontor setinggi 82 meter. Dari ketinggian tersebut, peserta diklat dapat melihat indahnya pemandangan kampung nan damai Darussalam Gontor sambil menikmati terbenamnya matahari sore di Gontor. [A.Rukmi]

Leave a Comment