ei.unida.gontor.ac.id – Al-Qur’an dengan tegas melarang kaum Muslimin mengambil harta orang lain dengan cara yang batil (bil-bathil) atau dengan cara yang tidak benar. Sebagaimana larangan Allah SWT pada surat al-Baqarah: 188, an-Nisa’: 29, an-Nisa’: 161, dan at-taubah: 34. Salah satu prinsip Islam yang penting untuk menegakkan keadilan dan menghapuskan eksploitasi dalam transaksi bisnis adalah melarang  bentuk peningkatan penambahan secara tidak adil.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ

Apa sebenarnya pengertian yang terkandung dalam kata-kata bil-bathil itu?

Larangan Riba

Larangan riba muncul dalam al-Qur’an pada empat kali penurunan wahyu yang berbeda-beda.

Pertama, (ar-Ruum: 39), diturunkan di Mekah, menegaskan bahwa bunga akan menjauhkan keberkahan dari Allah SWT dalam kekayaan, sedangkan sedekah akan meningkatkannya berlipat ganda. Kedua, (an-Nisa’: 161), diturunkan pada masa permulaan periode Madinah, mengutuk dengan keras praktik riba, seirama dengan larangannya pada kitab-kitab terdahulu. Ketiga, (Ali-Imran: 130-132), diturunkan pada tahun kedua hijriah, menyerukan kaum Muslimin untuk menjauhi riba, jika mereka menghendaki kesejahteraan yang diinginkan. Keempat, (al-Baqarah: 275-281), diturunkan menjelang selesainya misi Rasulullah SAW, mengutuk keras mereka yang mengambil riba, menegaskan perbedaan yang jelas antara perniagaaan dan riba, dan menuntuk kaum Muslimin agar menghapuskan seluruh utang-piutang yang mengandung riba, menyerukan mereka agar mengambil pokoknya saja, dan mengikhlaskan kepada peminjam yang mengalami kesulitan.

Arti Riba

Setelah mengetahui ketegasan hukum al-Qur’an dan as-Sunnah terhadap riba, perlu kiranya menentukan apa arti sebenarnya riba itu. Riba secara literal berarti bertambah, berkembang, atau tumbuh. Akan tetapi, tidak setiap penambahan atau pertambahan itu dilarang oleh Islam. Dalam syari’ah, riba secara teknis mengacu kepada pembayaran “premi” yang harus dibayarkan oleh peminjam kepada pemberi pinjaman di samping pengembalian pokok sebagai syarat pinjaman atau perpanjangan batas jatuh tempo. Dalam pengertian ini, riba memiliki persamaan makna dengan istilah “bunga” menurut konsensus para fuqaha (ijma’) tanpa kecuali. Akan tetapi, dalam pengertian syari’ah, riba memiliki dua kategori: riba nasi’ah dan riba fadh.

1. Riba Nasi’ah

Istilah nasi’ah berasal dari akar kata “nasa’a” yang berarti menunda, menangguhkan, atau menunggu, dan mengacu pada waktu yang diberikan bagi pengutang untuk membayar Kembali utang dengan memberikan “tambahan” atau “premi”. Karena itu riba nasi’ah mengacu kepada bunga pada utang. Dalam arti inilah, istilah riba dipergunakan dalam al-Qur’an pada ayat:

“… dan Allah mengharamkan bunga (riba)…” (QS. Al-Baqarah: 275), arti ini juga yang ditunjukkan oeh sabda Rasululllah SAW Ketika beliau mengatakan, “tidak ada riba kecuali nasi’ah”. Pada intinya adalah larangan riba nasi’ah mengandung implikasi penetapan keuntungan positif di depan pada suatu pinjaman sebagai imbalan karena menunggu, menurut syariah tidak diperbolehkan.

2. Riba Fadhl

Istilah umum yang dipergunakan adalah riba fadhl, yang merupakan jenis riba kedua, yaitu riba yang dilibatkan pada transaksi pembelian dari tangan ke tangan dan penjualan komoditas. Meliputi semua transaksi di tempat yang melibatkan pembayaran kontan di satu pihak dan pengiriman komoditas segera di lain pihak.

Pembahasan riba fadhl muncul dari hadits-hadits yang menuntut bahwa jika emas, perak, gandum, jelai, kurma, dan garam dipertukarkan masing-masing dengan barang yang sama, mereka harus ditukar di tempat (spot) dan dengan (takaran, timbangan) yang sama dan serupa.

Dengan demikian, baik riba nasi’ah maupun riba fadhl sama-sama tergolong ke dalam pengertian ayat: “…dan Allah telah mengharamkan riba…” (al-Baqarah: 275). Sementara riba nasi’ah berhubungan dengan pinjaman dan dilarang pada bagian kedua ayat tersebut, riba fadhl berkaitan dengan perdagangan dan terkandung dalam implikasi bagian pada ayat tersebut.

Riba dalam konteks Moneter Islam

Ekonomi moneter merupakan salah satu bidang yang dibahas dalam ekonomi Islam. Ilmu moneter adalah bagian dari ilmu ekonomi yang mempelajari tentang sifat serta pengaruh uang terhadap kegiatan ekonomi. Banyak topik yang dibahas dalam kajian moneter dalam bidang ekonomi diantaranya peranan dan fungsi uang uang, sistem moneter dan pengaruhnya terhadap jumlah uang dan kredit, struktur dan fungsi bank, pengaruh uang dan kredit dalam prekonomian, stabilitas ekonomi, distribusi pendapatan, dan masih banyak lagi.

Namun, sesuai dengan tema yang penulis angkat kali ini sedikit fokus pada riba dalam konteks moneter Islam saja. Sebenarnya di mana letak riba dalam kebijakan moneter Islam?

Kebijakan Moneter dalam Islam akan sangat menentukan hubungan antara sektor rill dan sektor moneter, agar keduanya saling beriringan dan saling menopang sebuah perekonomian. Dalam sistem moneter konvensional, instrument moneter merupakan alat kebijakan moneter, yang pada dasarnya ditujukan untuk mengatur uang beredar di masyarakat. Instrument bunga yang dijadikan sebagai pengendali preferensi jumlah uang yang beredar di pasar keuangan. Sedangkan ekonomi Islam tidak mengenal istilah bunga (riba) dalam setiap kebijakannya, mengapa demikian ?

Al-Qur’an dan as-Sunnah telah memberikan prinsip-prinsip yang dapat diketahui atau dideduksi oleh kaum Muslimin mengenai cara-cara memperoleh kekayaan dan penghasilan yang salah benar. Salah satu sumber peningkatan kekayaan yang tidak diperbolehkan adalah menerima keuntungan moneter dalam sebuah transaksi bisnis tanpa memberikan suatu imbalan setimpal yang adil. Riba mewakili dalam sistem nilai Islam, suatu sumber keuntungan yang tidak diperbolehkan.

Dibalik pelarangan riba dan memperlihatkan bagaimana riba bukan saja menjadi salah satu sumber ketidak-adilan yang besar, melainkan juga menimbulkan miss-alokasi sumber-sumber daya, pertumbuhan yang tidak menentu, ketidak-stabilan, dan sejumlah persoalan dalam ekonomi.

Ekonomi Islam; Sektor Rill atau Sektor Moneter ?

Dalam ekonomi Islam tidak di kenal adanya pendikotomian antara sektor moneter dan sektor rill. Sektor moneter dalam definisi ekonomi Islam diartikan sebagai mekanisme pembiayaan transaksi atau produksi di pasar riil. Jadi, perekonomian Islam adalah perekonomian yang berbasis pada sektor rill, Khususnya perdagangan. Oleh karenanya, sektor moneter dan sektor rill saling berkaitan dan berhubungan. 

Sebagaimana Firman Allah SWT  dalam QS. Al-Baqarah: 275

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا ۚ

“Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan Riba”.

Dari ayat tersebut telah tergambar bahwa transaksi jual-beli atau perdagangan merupakan instrument yang ditekankan dalam ekonomi Islam. Artinya perekonomian Islam adalah perekonomian riil. Sementara yang dimaksud dengan sektor moneter dalam perekonomian Islam, hanyalah aktivitas yang lebih lebih didominasi oleh kegiatan pengaturan arus kas oleh negara sebagai penopang sektor rill. Dalam ekonomi kapitalis, bunga merupakan jantung dari sektor moneternya, sedangkan dalam ekonomi Islam, jantung dari sektor moneternya adalah sistem bagi-hasil (profit and loss sharing).

Dengan demikian, penghapusan bunga (riba) adalah bagian dari prinsip-prinsip ekonomi Islam. Baik dalam aktivitas ekonomi riilmaupun moneter, sesungguhnya tidak ada tempat untuk riba dan sejenisnya. Namun menurut M. Umer Chapra, dalam buku “Sistem Moneter Islam” hal terpenting yang dilakukan bukan hanya sebatas penghapusan riba dari sistem konvensional yang sedang berkembang saat ini, melainkan bagaimana memperkenalkan dan menerapkan sebuah sistem yang baru dan lebih tepat, yaitu sistem ekonomi Islam. Sebuah tatanan ekonomi yang baru berdasarkan pokok-pokok syari’at Islam. (Atha_MM)

Leave a Comment