Friday Night Lecture bersama Dr Taufik Qulazhar di UNIDA PUTRI

Pada acara FNL kali ini, mendatangkan pakar ushul fiqh dari jakarta. Beliau adalah alumni Al Azhar kairo dan universitas Sudan. Tema yang diangkat kali ini adalah fiqh Bid’ah. Masalah Bid’ah ini sudah merata dimasyarakat. Ada sebuah hadits mengatakan bahwa setiap bid’ah itu sesat dan setiap yang sesat itu di neraka tempatnya. Namun dilain sisi banyak dari sahabat melakukan hal baru yang tidak dilakukan oleh Rasulullah, Bahkan dalam hal Ibadah. Maka sangat menarik tema bid’ah ini untuk dikaji lebih dalam.
Banyak dari Ulama Saudi yang mengatakan bahwa hal baru dalam ibadah adalah bid’ah. Namun banyak hal juga dalam ibadah yang tidak dilakukan oleh Rasulullah. Contohnya ada amalan yaitu membaca doa khotmil Quran yang selalu dibaca di bulan Ramadhan, padahal Rasulullah tidak penah membacanya saat sholat tarawih. Dan ini dilakukan di Masjidil Haram setiap Ramadhan, maka kenapa hal ini tidak di bid’ahkan oleh ulama saudi.
Dilain sisi, ada yang mengatakan sholat nisfu sya’ban bid’ah padahal membaca doa khotmil Qur’an tidak masuk dalam kategori bid’ah. Dalam madzhab ahmad bin hambal terdapat kebiasaan berkumpul untuk membaca Al Qur’an untuk menghadiahkan kepada yang meninggal tertulis dikitab Ibnu Qudamah. Hal ini seperti yasinan yang ada di Indonesia. Padahal madzhab saudi adalah hambali, namun mereka tidak malakukannya.
Terdapat hadits “Barangsiapa yang membuat hal baru dalam urusan agama kami dan tidak ada dalilnya, maka amalannya tertolak.” Namun banyak hal baru yang dilakukan oleh sahabat namun tidak bid’ah. Ada sahabat yang melakukan 2 roka’at setelah sholat shubuh, kemudian ditanya oleh Rasulullah kenapa kamu sholat setelah sholat shubuh. Maka sahabat tersebut menjawab bahwa ia mengkhodo’ sholat qobliyah shubuh. Dan yang menarik Rasulullah tidak memvonis sahabat tersebut dengan Bid’ah.
Riwayat yang lain, terdapat amalan baru dilakukan oleh Bilal yaitu sholat wudlu. Padahal Rasulullah tidak pernah melakukan hal itu, dan Nabi tidak mengkategorikan sebagai bid’ah. Menurut Imam Nawawi Bid’ah itu dibagi 2 bid’ah hasanah dan bid’ah madzmumah.
Bid’ah sebenarnya adalah membuat hal baru tapi tidak ada landasannya. Meskipun tidak dilakukan oleh Rasulullah namun ada landasannya maka dibolehkan. Seperti amalan-amalan sahabat, yang dilakukan adalah baik dan terdapat landasannya, dan itu tidak dilakukan oleh Rasulullah maka itu tidak disebut bid’ah.
Ada hal lain dalam fiqh yang disebut Al Mustahab. Tidak dilakukan rasulullah tapi berpahala. Contohnya setiap tanggal 1 sampai 9 zulhijjah itu berpahala, meskipun Rasulullah tidak melakukan. Disisi lain ada yang disebut sholat mutlak, sholat dengan rakaatbyang sangat banyak sekali, telah dilakukan oleh Abu dzar al ghifari, namun itu tidak disebut bid’ah meskipun rasulullah tidak pernah melakukannya.
Seperti halnya peringatan Isra’ Mi’raj, tidak terdapat riwayat rasulullah melakukan, dan ini tidak bisa dijadikan hukum karena sangat lemah untuk mengharamkan. Maka tidak ada riwayat rasululllah melakukan tidak bisa dijadikan sumber hukum.
Suatu hari dimasjid ada orang yang memeriksa celana makmum, maka apakah rasulullah melakukan pemerikaaan celana makmum, apakah berarti imam tersebut melakukan hal bid’ah. Dilain sisi, Sebelum jumatan kita sering baca Al Qur’an, padahal tidak ada riwayat bahwa rasulullah baca Qur’an sebelum khotib naik mimbar. Maka apakah hal ini bid’ah. Maka teori meskipun tidak ada riwayatnya tidak bisa disebut bid’ah.wallahua’lam bisshowab. (Andi Triyawan)

Penulis bersama Dr Taufik Qulazhar

Leave a Comment