Fikih Kurban 3; Berkurban Atas Nama Mayit/ Almarhum

Telah disepakati mayoritas ulama, bahwa hukum berkurban adalah sunnah muakkad bagi yang mampu, meskipun ada sebagian yang lain mewajibkannya karena berpegang pada perintah Allah Swt dalam QS. Al-Kautsar ayat 2 yang dimaknai perintah berkurban sejajar dengan perintah shalat. Yaitu FirmanNya “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah”. Adapaun dalil sunnah muakkad adalah sabda Rasulullah saw:

عَنْ أبِي هُرَيْرَة: َأنَّ رَسُوْل اللهِ صلى الله عليه وسلم قال : مَنْ كَانَ لهُ سَعَة وَلمْ يَضَحْ فَلا يَقْربَنَّ مُصَلَّانَا (رواه أحمد وابن ماجه)

Artinya: “Dari Abi Hurairah: Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: Barang siapa yang mempunyai kemampuan tetapi tidak berkurban, maka janganlah ia menghampiri tempat shalat kami” . (HR. Ahmad dan Ibn Majah)

Hadis di atas menunjukkan sunnah muakkad karena Rasulullah saw melarang sahabat mendekati masjid beliau jika tidak mau berkurban, sedangkan ia mampu berkurban. Sebagian ulama kontemporer menyebutkan hukumnya sunnah kifayah, yang berarti bila sudah ada yang mengerjakan kurban dari seorang anggota keluarganya maka menggugurkan sunnah muakkad bagi anggota keluarga yang lain.

dokumen kurban 2019 di kampus UNIDA putri Mantingan

Menurut Abu Yusuf hukum kurban tidak wajib. Hal ini didasarkan sabda Rasulullah Saw:

عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ تَرْفَعُهُ قَالَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ وَعِنْدَهُ أُضْحِيَّةٌ يُرِيدُ أَنْ يُضَحِّيَ فَلَا يَأْخُذَنَّ شَعْرًا وَلَا يَقْلِمَنَّ ظُفُرًا

Artinya: dari [Ummu Salamah] dan dimarfu’kan kepada Nabi Saw, beliau bersabda: “Jika (Salah seorang) telah masuk sepuluh (Dzul Hijjah), sedangkan ia memiliki hewan kurban yang ingin/hendak dikurbankan, maka jangan sekali-kali ia mencukur rambut atau memotong kuku.” (HR. Muslim: 3654)

Ungkapan kata “ingin” atau “hendak” pada hadis di atas, menunjukkan bahwa kurban tidak wajib. Karena hanya bagi yang “ingin” saja. Alasan yang lain didasarkan pada atsar sahabat Abu Bakar ra dan Umar bin Kattab ra, bahwasanya keduanya tidak berkurban selama satu tahun dan dua tahun karena takut dipandang wajib.

Sarjana Elektro di Magelang ini Sukses Beternak Kambing Berkat ...
diambil dari pencarian google

Secara umum syariat kurban dibebankan kepada kaum muslimin yang masih hidup, sehingga tidak ada beban bagi yang telah meninggal. Kecuali bila si mayit telah berwasiat untuk berkurban, yang berarti diambilkan dari 1/3 harta mayit atau mayit dulu telah bernadzar untuk melakukan kurban sehingga menjadi kewajiban atasnya untuk melaksakan nadzarnya tersebut.

Dari aspek kajian sunnah, belum ditemukan hadis ataupun riwayat yang menyatakan bahwa Rasulullah Saw berkurban atas nama kerabat dekat beliau yang telah wafat. Seperti untuk anak-anak beliau yang telah meninggal lebih dahulu (baik yang meninggal sudah mencapai baligh maupun belum), atau untuk istri tercinta beliau (yaitu Siti Khadijah ra), atau untuk paman beliah (Hamzah ra), dan sebagainya.

Artinya dari penjelasan ini, bahwa berkurban atas nama mayit tidak ada tuntunannya secara syariat. Sedangkan berkurban atas nama yang hidup tentunya pahala akan turut mengalir kepada yang sudah wafat karena yang hidup telah beramal shaleh. Di samping itu amal shaleh si anak akan mengantarkan doa-doanya untuk ke dua orang tuanya atau saudaranya yang sudah meninggal dunia sampai kepada Allah Swt (dikabulkan). Karena salah satu syarat terkabulnya doa adalah keshalehan seseorang.

Siap Gali Kubur Sebelah Kubur Ibu, Dah Kenapa?
diambil dari foto goole.com

Namun bila hal ini terjadi dan telah dipraktikkan oleh kebanyakan masyarakat di berbagai wilayah, maka urusan tersebut dikembalikan kepada Allah yang menentukan diterima/tidaknya amalan kurban tersebut. Karena manusia tidak bisa menentukan diterima atau tidaknya suatu amalan, kecuali yang telah nyata dasarnya dari Al-Quran atau Sunnah. Manusia hanya bisa berijtihad sesuai dengan kadar pengetahuan yang dimilikinya.

wallaahu a’lam bish showab

Leave a Comment