Fikih Kurban 2; Berkurban Kambing atau Sapi?

Telah disepakati oleh mayoritas ulama fikih bahwa hewan ternak yang bisa dikurbankan adalah unta, sapi, kerbau, domba, dan kambing. Hal ini mengacu pada jenis-jenis hewan ternak yang dikeluarkan zakat atasnya. Adapun tentang hewan ternak (secara umum) itu sendiri disebutkan dalam Al-Quran, Allah Swt berfirman:

لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ

Artinya: “supaya mereka menyebut Asma Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikanNya kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh” (QS. Al-Hajj: 34)

IKHLASKAH ANDA DISEMBELIH ALLAH? | Pesantren Seni Rupa dan ...

Dalam melakukan ibadah kurban, layaknya ibadah sedekah atau infak yang mana ajaran Islam menganjurkan umatnya untuk memberikan yang terbaik dari harta yang telah diterimanya dariNya, sebagaimana dalam friman Allah Swt:

لَن تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ

Artinya: “Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan , sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai” (QS. Al-Imran: 92)

Dalam hal kurban, hendaknya hewan yang akan disembelih memiliki kreteria yang baik dan bernilai. Ciri-cirinya adalah (kalau) kambing yang memiliki tanduk, bulunya lebih banyak berwarna putih dari pada hitamnya. Dalam riwayat lain disebutkan Rasulullah Saw berkurban dengan kibas yang gemuk serta memiliki nilai harga. Dalam sebuah hadis riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim:

عن أنس رضي الله عنه: أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلـم ضَحَّى بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ

Artinya: Dari Anas ra; sesungguhnya Rasulullah Saw berkurban dengan domba yang keduanya berwarna campuran putih hitam lagi bertanduk (HR. Bukhari: 5558 dan Muslim: 1966).

Dengan demikian, dilarang berkurban dengan hewan yang pincang terlihat tulangnya, rusak matanya secara jelas, sakit yang tampak sakitnya, hewan yang tidak bergajih lagi, hewan yang telinganya/salah satu darinya sobek atau tergunting, atau telinganya digunting sebelah kanan. Dalam hal ini Rasulullah saw bersabda:

عَنِ الْبَرَاءِ بنِ عَازِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَامَ فِينَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ:”أَرْبَعٌ لا تَجُوزُ فِي الضَّحَايَا: اَلْعَوْرَاءُ الْبَيِّنُ عَوَرُهَا, وَالْمَرِيضَةُ الْبَيِّنُ مَرَضُهَا, وَالْعَرْجَاءُ الْبَيِّنُ ظَلْعُهَا   وَالْكَسِيرَةُ الَّتِي لا تُنْقِي” (رَوَاهُ الْخَمْسَة) وَصَحَّحَهُ التِّرْمِذِيُّ, وَابْنُ حِبَّان

Artinya: ”Empat macam hewan yang tidak boleh dijadikan kurban,  yaitu: hewan yang tampak jelas butanya, tampak jelas sakitnya, tampak jelas pincangnya, dan hewan tua yang tidak bersumsum.” (Diriwayatkan oleh 5, dan nyatakan kuat oleh Tirmidzi dan Ibnu Hibban)

Terkait Hewan Sapi atau Kambing yang Utama, ulama fikih berbeda pendapat dalam hal ini. Menurut Imam Malik, urutan keutamaan hewan kurban adalah kambing kibas, sapi, lalu unta. Sedangkan hadyu haji, diutamakan unta, sapi, lalu kambing kibas. Adapun alasan adalah bahwa Rasulullah Saw setiap kali berkurban selalu berupa kambing. Sehingga kurban hewan kambing lebih utama.

Menurut Imam Syafi’I dan Ibnu Sya’ban, urutannya kebalikan dari pendapat Imam Malik; yaitu unta, sapi (kerbau), lalu kambing. Adapun dasar pendapat Imam Syafi’I ini adalah:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ غُسْلَ الْجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا أَقْرَنَ وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ دَجَاجَةً وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الْخَامِسَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَيْضَةً فَإِذَا خَرَجَ الْإِمَامُ حَضَرَتْ الْمَلَائِكَةُ يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ

Artinya: dari [Abu Hurairah], bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Barangsiapa mandi pada hari Jum’at sebagaimana mandi janabah, lalu berangkat menuju Masjid, maka dia seolah berkurban seekor unta. Dan barangiapa datang pada kesempatan (saat) kedua maka dia seolah berkurban seekor sapi. Dan barangiapa datang pada kesempatan (saat) ketiga maka dia seolah berkurban seekor kambing yang bertanduk. Dan barangiapa datang pada kesempatan (saat) keempat maka dia seolah berkurban seekor ayam. Dan barangiapa datang pada kesempatan (saat) kelima maka dia seolah berkurban sebutir telur. Dan apabila imam sudah keluar (untuk memberi khuthbah), maka para Malaikat hadir mendengarkan dzikir (khuthbah tersebut).”(HR. Bukhari: 832, Muslim: 1403)

Hadis tersebut di atas menunjukkan bahwa keutamaan kurban adalah hewan unta paling besar pahalanya, karena pahala terbesar adalah bagi yang mendapatkan posisi pertama di masjid saat shalat jumat. Sedangkan posisi atau urutan kedua adalah mendapatkan pahala kurban sapi, dan begitu seterusnya.

Menurut hemat penulis, dengan mengacu pada pendapatnya Sayyid Sabiq (dalam fikih sunnah), mana saja yang lebih banyak bermanfaat bagi orang-orang miskin diwilayahnya, itulah yang utama.

wallaahu a’lam bish shawab

Leave a Comment