Fikih Kurban 1; Hukum Berkurban Patungan?

Syiar (dakwah) Islam yang sangat besar dari Allah Swt untuk Rasulullah Saw dan umatnya adalah syiar berkurban. Yaitu penyembelihan hewan ternak berupa kambing, sapi, kerbau atau unta pada hari-hari idul adha atau hari tasyriq sebagai bentuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Pelaksanaan penyembelihan hewan kurban ini setelah shalat idul adha (atau dari waktu dhuha).

Disyariatkan kurban untuk memperingati kejadian Nabi Ibrahim as yang menerima wahyu untuk menyembelih putranya Nabi Ismail as yang kemudian digantikan dengan domba, sebagaimana Allah berfirman:

وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيم

Artinya: “Dan Kami tebus anak itu dengan sembelihan yang besar” (QS. Ash-Shaffat: 107)

Kemudian juga sebagai wujud syukur kepada Allah Swt, sebagaimana dalam firmanNya:

فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ كَذَلِكَ سَخَّرْنَاهَا لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُون * لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلاَ دِمَاؤُهَا وَلَكِن يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنكُمْ

Artinya: “maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya  dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah menundukkan untu-unta itu kepada kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur. Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai  Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya” (QS. Al-Hajj: 36-37)

Dn merupakan syariat bagi semua syariat umat Islam sejak Nabi Ibrahim as. Allah berfirman:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُم مِّن بَهِيمَةِ الأَنْعَامِ

Artinya: “Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan, supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka” (QS. Al-Hajj: 34)

Pada prinsipnya, perintah ibadah berkurban dibebankan pada masing-masing individu Muslim yang mampu berkurban (kambing atau sapi atau unta). Namun bila tidak mampu, tidak ada paksaan untuk berkurban.

Kurban adalah kumpulan ibadah atau syariat Allah yang mengandung tujuan untuk syiar (dakwah) agama Islam, jadi siapa yang menegakkan syiar ini maka diberikan pahala yang besar dari sisi Allah Swt. Allah berfirman:

ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

Artinya: “Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32)

Dengan demikian, diizinkan berkurban atas nama diri pribadi seseorang dan pahalanya pasti akan mengalir pada diri pribadinya serta berkontribusi mengalir ke anggota keluarganya. Karena Rasulullah Saw berkurban dengan 1 kambing untuk (atas nama) anggota keluarga, dan umatnya (HR. Bukhari: 7210). Dan di masa Nabi terdapat salah seorang sahabat berkurban untuk (atas nama) anggota keluarganya lalu dimakan sebagian dagingnya serta dibagikan untuk orang lain (Sunan Tirmidzi: 1509, berhasil hadis hasan shahih).

Untuk porsi 1 sapi lalu di atas namakan untuk 7 orang (berkelompok), hal ini bagi yang tidak mampu saja, seandainya orang kaya mampu berkurban satu sapi di atas namakan dirinya sendiri, maka tentu pahalanya sangat besar. Untuk orang berkurban sapi, dan syariat menentukan maksimum untuk 7 orang, tidak boleh lebih. Rasulullah Saw bersabda:

عَنْ جَابِرٍ قَالَ خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُهِلِّينَ بِالْحَجِّ فَأَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نَشْتَرِكَ فِي الْإِبِلِ وَالْبَقَرِ كُلُّ سَبْعَةٍ مِنَّا فِي بَدَنَةٍ

Artinya: dari [Jabir] ia berkata; “Kami pergi haji bersama Rasulullah Saw. Lalu dia menyuruh kami bersekutu tujuh orang untuk mencari unta atau mencari sapi bersekutu tujuh orang.” (Shahih Muslim: 2323)

Makna hadis di atas bukan berarti harus mencapai tujuh orang untuk berkurban sapi / unta, tetapi jika seseorang mampu melakukan sendiri atas nama dirinya untuk kurban satu sapi maka sah. Namun jika tidak mampu, tidak apa-apa berpatungan.

Menurut Madzhab Hanbali patungan tetap sah meskipun terdapat sebagian besar orang di antara mereka (yang patungan) berniat untuk mendapat daging, bukan niat untuk berkurban. Misalkan; patungan sapi 7 orang, lalu sudah ada 5 orang yang berkurban atas sapi tersebut, 2 orang berikutnya belum ditemukan, maka diisi oleh patungan siswa / siswi Sekolah Dasar yang menggantikan porsti 2 orang tadi. Sehingga mampu membeli sapi dan total ibarat 7 orang, hal ini sah menurut Imam Madzhab Hanbali.

Pada hakikatnya berpatungan dalam membeli hewan kurban diperbolehkan bila tidak mampu, karena berkurban merupakan sarana mendekatkan diri kepada Allah Swt. Dan Allah akan selalu mencatat sekecil apa pun yang dari perbuatan hambaNya. wallaahu a’lam bish showab

Leave a Comment