UNIDA Gontor – Produksi merupakan proses mencari, mengalokasikan, dan mengolah sumber daya menjadi output dalam rangka meningkatkan dan memberi maslahat bagi manusia. Produksi mempunyai peranan penting dalam menentukan taraf hidup manusia dan kemakmuran suatu bangsa.

Al-Qur’an telah meletakkan landasan yang sangat kuat terhadap produksi. Sebagaimana tertulis dalam firman Allah SWT dalam al-Qur’an Surat al-Qasas ayat 73 tentang perintah untuk mencari karunia Allah SWT pada siang hari. Makna dari kandungan ayat tersebut adalah bahwa manusia diberikan kebebasan dalam mencari kebahagiaan (kesejahteraan) hidup dari karunia Allah SWT dan selalu bersyukur kepada-Nya. Kebebasan yang dimaksud bahwa manusia diberikan keleluasaan dalam mencari rezeki atau materi untuk menentukan taraf hidupnya dengan berproduksi dan memaksimalkannya.

Kegiatan produksi harus sejalan dengan syariat, yakni hanya boleh memproduksi makanan dan minuman yang halal. Memproduksi makanan dan minuman dalam lingkaran halal merupakan salah satu prinsip utama etika kegiatan produksi. Prinsip produksi yang wajib dilaksanakan oleh setiap Muslim, baik individu maupun kelompok adalah berpegang pada semua yang dihalalkan Allah SWT dan tidak melampaui batas larangan-Nya

Tujuan Produksi Menurut Ekonom Muslim

Sebelum ke topik bahasan, perlu dipahami dulu apa tujuan berproduksi menurut Ekonom Muslim?

Menurut Monzer Kahf

Tujuan produksi adalah untuk meningkatkan kesejahteraan manusia tidak hanya kondisi materialnya, tetapi juga moral sebagai sarana untuk mencapai tujuan di hari akhirat.

Menurut M. Umer Chapra

Tujuan produksi adalah untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan pokok semua individu dan menjamin setiap orang mempunyai standar hidup manusiawi, terhormat, dan sesuai dengan martabat manusia sebagai manusia yang bertanggung jawab kepada Allah (khalifah).

Menurut Afzalur Rahman

memproduksi suatu barang harus sesuai dengan kebutuhan hidup manusia, yaitu barang yang diproduksi ialah hanya untuk memenuhi kebutuhan manusia, dan tidak memproduksi barang yang tidak sesuai dengan kebutuhan manusia, karena tenaga kerja yang dikeluarkan untuk memproduksi barang tersebut dianggap tidak produktif.

1. Prinsip Etika Memilih Barang dan Jasa yang Diproduksi

Berproduksi dalam lingkaran halal

Prinsip etika dalam produksi yang wajib dilaksanakan oleh setiap Muslim, baik individu maupun kelompok adalah berpegang pada semua yang dihalalkan Allah Swt. dan tidak melampaui batas. Sementara itu, sebagai produsen Muslim wajib menghindari praktik produksi yang mengandung unsur haram atau riba, pasar gelap, dan spekulasi sebagaimana firman Allah Swt. dalam al-Qur’an Surat al-Maidah ayat 90 bahwa Allah melarang minuman memabukkan (khamar), berjudi (maysir), pasar gelap (gharar), riba, dan mengundi nasib dengan panah (spekulasi), karena termasuk perbuatan syaitan.

Islam dengan tegas mengklasifikasikan barang-barang (sil’ah) atau komoditas ke dalam dua kategori. Pertama, barang-barang yang disebut al-Qur’an dengan ṭayyibāt, yaitu barang-barang yang secara hukum halal dikonsumsi dan diproduksi. Kedua, khabāits, yaitu barang-barang yang secara hukum haram dikonsumsi dan diproduksi.

Perlindungan kekayaan alam

Etika yang terpenting adalah menjaga sumber daya alam, karena merupakan nikmat Allah Swt. kepada hamba-Nya. Setiap hamba wajib mensyukurinya dan salah satu cara mensyukuri nikmat adalah dengan menjaga sumber daya alam dari polusi, kehancuran, atau kerusakan. Kaitannya dengan etika dalam memilih barang dan jasa untuk diproduksi, hendaknya dilakukan dengan tidak merusak lingkungan (alam). Kerusakan lingkungan (alam) terdiri atas dua bentuk, yaitu kerusakan materi dan kerusakan spiritual. Berbentuk materi misalnya: sakitnya manusia, tercemarnya alam, binasanya makhluk hidup, dan lain-lain. Sedangkan yang berbentuk spiritual adalah tersebarnya kezaliman, meluasnya kebatilan, kuatnya kejahatan, dan lain-lain.

2. Prinsip Etika Proses Produksi Barang dan Jasa

Nilai-nilai dan norma dalam berproduksi, sejak dari kegiatan mengorganisasi faktor produksi, proses produksi hingga pemasaran dan pelayanan kepada konsumen, semuanya harus mengikuti moralitas Islam. Mengacu pada prinsip dasar etika produksi dalam ekonomi Islam berkaitan dengan maqāṣid al-syarī’ah, yang perlu diperhatikan dalam prinsip etika proses produksi barang dan jasa adalah:

  • Tidak memproduksi barang dan jasa yang bertentangan dengan penjagaan terhadap agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta.
  • Distribusi keuntungan yang adil antara pemilik dan pengelola, manajemen dan buruh.
  • Mengelola sumber daya alam secara optimal, namun tidak boros, tidak berlebihan, dan tidak merusak lingkungan.
  • Mengoptimalkan kemampuan akalnya, seorang Muslim harus menggunakan kemampuan akalnya (kecerdasannya), serta profesionalitas dalam mengelola sumber daya.
  • Teknik produksi diserahkan kepada keinginan dan kemampuan manusia. Nabi pernah bersabda: “Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian.”
  • Dalam berinovasi dan bereksperimen, pada prinsipnya agama Islam menyukai kemudahan, menghindari mudlarat dan memaksimalkan manfaat.

3. Prinsip Etika Penjaminan Barang dan Jasa yang Diproduksi

Penjaminan dari ketidakamanan produk

Pada prinsipnya pelaku usaha (produsen) yang lebih berhati-hati dan bukan pembeli yang berhati-hati (caveat venditor). Karena mayoritas pembeli atau konsumen tidak mengetahui kemajuan teknologi, yang berdampak pada keamanan produk yang mereka konsumsi. Adanya ketidakmampuan konsumen dalam menerima informasi akibat kemajuan teknologi dan keragaman produk yang dipasarkan, menyebabkan hal tersebut disalahgunakan oleh para pelaku usaha.

Penjaminan dari pemakaian produk haram berlabel halal

Di antaranya masih terdapat kasus penyalahgunaan logo halal di kemasan produk makanan dan minuman. Padahal, di dalam makanan dan minuman tersebut, walaupun secara kasat mata bahan utamanya berasal dari bahan-bahan halal, akan tetapi tidak jarang terdapat bahan-bahan yang haram. Seorang produsen ketika memproduksi suatu barang dan jasa hendaknya selalu mengingat keamanan barang dan jasa yang mereka tawarkan. Karena aktivitas produksi bukan hanya berkaitan dengan profit dan benefit semata, melainkan juga berkaitan dengan penegakan kemaslahatan.

Leave a Comment