EKIS GOES TO LOMBOK – MENAPAKI DARATAN LOMBOK BARAT

Para punggawa EKIS 4 bersama ustadz Nusa Dewa dan ustadz Satriyadi (Nurul Bayan) berfoto di bibir pantai Senggigi

Rabu (26/22020) pukul 14.00 WITA, 20 jam lepas perjalanan laut, tiba juga di dermaga Lembar, Lombok. Setelah terombang-ambing gelombang pasang surut air laut, akhirnya kami dapat menapakkan telapak kaki ke daratan Pulau Lombok.

Tampak seorang pria paruh baya sedang menanti kedatangan kami. Dialah mas Sofandi, pengemudi elf yang loyal membawa kami kemanapun tujuannya.

Setelah menyusun barang bawaan yang bejibun di bagasi elf, kami pun bergegas duduk di seat elf. Buru-buru kami mencari masjid terdekat untuk sekedar membilas badan yang mulai rendah pH-nya. Gesekan sabun berkadar basa yang bertarung dengan asam kulit membuat rasa nikmat nan segar badan kami. Tak lupa kami juga menggosokkan kalsium karbonat, dikalsium fosfat dihidrat, dan magnesium trisilikat untuk mengusir sisa makanan, bakteri, dan beberapa noda di gigi.

Sekalian sholat dzuhur dan ashar kami tunaikan sebelum melanjutkan perjalanan.

Sebelum kaki kami menapak ke halaman masjid itu, terlebih dahulu berdiri al-ustadz Satriyadi dari Pondok Pesantren Nurul Bayan Lombok yang setia mengawal dan menemani kami selama di Pulau Lombok.

numpang foto di “kedai selancar” yang terletak di pantai senggigi

Kami dibawanya ke sebuah pantai di daerah Senggigi untuk menikmati panorama sore hari sekaligus menyantap makan siang bercampur malam. Lambaian pohon kelapa dan goyangan rerumputan hijau benar-benar menghibur kami setelah puluhan jam terkatung-katung di tengah lautan.

menyantap kudapan siang hari di kawasan pantai Senggigi

Seusai menikmati panorama sore hari di pesisir pantai Senggigi, kembali kami disuguhi view yang tak kalah menakjubkan. Kali ini garis pantai yang amat panjang tak berujung dapat jelas kami tengok dari jendela kiri mobil. Deretan cottage bernuansa alam yang tersebar di kanan kiri jalanan gunung menambah asri pemandangan. Kemegahan dan keelokan ini seolah menghapus ingatan insiden gempa bumi yang meluluh lantahkan Pulau Lombok pada 2018 silam.

Saking puasnya memandang karya sang Illahi, kami pun tertidur pulas. Belum lama, tibalah kami di persinggahan Kampus 2 Pondok Pesantren Nurul Bayan.

Sambutan hangat oleh al-Ustadz Satriyadi di Rumah Pimpinan Pondok Nurul Bayan Kampus 2

Berbeda dengan kampus pusat, di kampus 2 ini tidak ada aktivitas santri pada malam hari. Mereka hanya melakoni kegiatan Pendidikan dan pengajaran dari pagi sampai sore hari. Selepas itu, hanya beberapa orang saja yang tinggal menginap di surau. Mereka itu yang sedang menjalankan masa khidmat sebagaimana biasa dilakukan alumni Pondok Modern Darussalam Gontor setelah tamat KMI. Maklum saja, meskipun dulunya kampus 2 merupakan sebuah Madrasah Tsanawiyah yang memiliki banyak guru, tetapi mereka tidak berjiwa pengajar dan pendidik. Dengan kenihilan ruh guru itulah menyebabkan sistem yang berlaku di MTStersebut amburadul. Baru setelah diambil alih oleh Pondok Nurul Bayan, para asatidz yang benar-benar berjiwa pendidik melakukan “babat alas”. Dengan menata, memperbaiki, serta menertibkan SOP dari para guru, lambat laun Kampus 2 yang semula MTS ini mulai dikagumi masyarakat sekitar.

Atmosfir dari “kepondokmodernan” dapat kami rasakan sehingga menentramkan jiwa. Inilah yang menyebabkan rasa lelah akibat perjalanan jauh menguap dengan sempurna setelah pulas tertidur semalaman.

[A.M.Muhammad]

Leave a Comment