Dosen UNIDA Gontor Peduli Pemberdayaan Ekonomi Kampung Durian Ngebel

Kampung Durian Desa Ngrogung Kecamatan Ngebel Ponorogo merupakan tempat wisata kuliner bagi penggemar buah durian. Pengunjung dapat menikmati bermacam-macam jenis durian, salah satunya durian Kanjeng.

Menurut Bambang Subagio selaku ketua Kelompok Tani Karang Asri yang merangkap ketua Pokdarwis desa Ngrogung mengatakan bahwa saat ini minat masyarakat terhadap durian kanjeng sangat banyak karena rasanya sangat lezat dan lembut. 500 hingga 600 buah durian disiapkan oleh kelompok tani pada hari libur, namun dan terkadang jumlah tersebut tidak mampu untuk memenuhi demand pasar masyarakat Ponorogo dan sekitarnya

Supply Masyarakat Terhadap Durian Sangat Tinggi

Supply durian amat bergantung pada musim panen satu tahun sekali dan tidak bisa diharapkan keberhasilannya 100%. Dalam rangka pemeliharaan dan pengoptimalan musim panen durian ini, maka tim PPPUD menawarkan solusi yaitu pemberdayaan ekonomi melalui agrowisata Kampung Durian.

Tim Asesor dari DRPM Kemenristek Meninjau Lokasi Kampung Durian

Target sasaran 3 tahun dari program ini ialah menjadikan Kampung durian menjadi kawasan agrowisata, dimana para pengunjung dapat berwisata ke daerah pertanian. Program agrowisata ini meliputi penguatan hasil pertanian, diversifikasi produk pertanian dan penguatan kelembagaan kelompok tani Karang Asri dibawah naungan kampung durian.

Penguatan hasil pertanian menjadi fokus tahun pertama. Kampung durian mengembangkan dan menggalakkan penggunaan pupuk organik. Penggunaan pupuk organik dapat memperbaiki struktur tanah, sehingga akan meningkatkan kesuburan pada lahan kebun dan memperbaiki kualitas buah.

Salah satu cara yang mudah dilakukan oleh kelompok tani untuk meningkatkan kualitas buah dan kesuburan pada lahan kebun adalah dengan mengembalikan limbah durian itu sendiri ke dalam lapisan olah tanah (top soil) sebagai bahan organik.

Limbah Durian Menumpuk

Salah satu sisi negatif dari kawasan penghasil buah durian di Ponorogo adalah volume sampah kulit durian yang menumpuk. Hal ini disebabkan karena sebagian besar pengunjung dan masyarakat sekitar, termasuk para pedagang dan pengkonsumsi durian, membuang kulit durian begitu saja.

Limbah kulit durian tersebut jika tidak dikelola secara baik dan bermanfaat, maka akan menimbulkan masalah bagi lingkungan, menimbulkan bau yang tidak sedap dan menjadikan lingkungan kotor. Untuk mengatasi masalah tersebut, perlu adanya inovasi dalam pengelolaan sampah kulit durian dengan melibatkan masyarakat luas sehingga sampah kulit durian dapat dimanfaatkan menjadi produk yang bernilai ekonomis, dalam hal ini pupuk kompos.

Proses Fermentasi Pupuk Organik dari Limbah Durian

Kulit durian untuk pembuatan pupuk kompos dikoleksi dari perkebunan di Kampung Durian, pasar buah sekitar Ngebel Ponorogo dan Madiun. Setelah itu dilakukan pencacahan dengan menggunakan mesin pencacah limbah kulit durian menjadi ukuran yang lebih kecil.

Upaya tim pengabdian kepada masyaraka UNIDA Gontor mendukung penuh dalam kemandirian mengembangkan pupuk organik, yaitu dengan memfasilitasi kegiatan pengembangan penggunaan alat pengolah pupuk organik dan rumah komposnya. Dengan fasilitas bantuan tersebut, diharapkan kelompok tani dapat memproduksi dan menggunakan pupuk organik secara optimal. Untuk keberhasilan pelaksanaan kegiatan tersebut tim PPPUD juga bekerjasama dengan Dinas Pertanian Kabupaten Ponorogo. [Atika]

Uji Coba Mesin Pencacah Limbah Kulit Durian

Leave a Comment