Demi Mempercantik Desa Wisata Karangpatihan, Mahasiswa UNIDA Gontor Rela “Mengeruk” Gunung Beruk

Foto para peserta bakti sosial bersama ketua karangtaruna desa karangpatihan

Himpunan Mahasiswa Prodi Ekonomi Islam (HMP EKIS) Universitas Darussalam Gontor mengadakan kegiatan bakti sosial pagi tadi (Ahad, 26/01/20). Selain melibatkan seluruh komponen HMP EKIS, kegiatan bakti sosial ini juga menggandeng mahasiswa UNIDA Gontor lainnya yang secara sukarela mengajukan dirinya untuk berpartisipasi dalam kegiatan baksos ini. Keterpanggilan sosial menjadi alasan para mahasiswa tergerak untuk step up to the plate terhadap salah satu objek wisata alam di Kabupaten Ponorogo, tepatnya di Desa Karangpatihan, Gunung Beruk.

salah satu spot foto di wisata gunung beruk

Wisata Alam Gunung Beruk merupakan salah satu sumber penghasilan utama masyarakat sekitar. Dengan memanfaatkan kunjungan para wisatawan, penduduk sekitar berlomba-lomba mendirikan kios sederhana untuk sekedar memadamkan gejolak rasa lapar dan penghilang dahaga wisatawan kala menapaki tiap inci jalanan sempit gunung sembari berswafoto di spot-spot yang tersedia. Selain itu, ada juga yang menaruh perhatian lebih akan kerapian dan keindahan view di beberapa jengkal langkah jalanan gunung, sehingga memilih menjadi karyawan pembasmi rumput-rumput liar dan menghilangkan kotoran yang dapat mengurangi nilai estetika pemandangan.

Namun sayang beribu sayang, minimnya perhatian dari pengelola setempat, mengakibatkan kurang indahnya pemandangan yang disuguhkan di Wisata Alam Gunung Beruk jika dibandingkan dengan tipikal wisala alam yang serupa lainnya, seperti Batu Flower Garden di Kota Batu misalnya.

Seandainya keindahan dan penataan panorama di Gunung Beruk lebih diperhatikan dan dirawat, maka bukan isapan jempol belaka bila kelak jumlah wisatawan akan melonjak secara signifikan. Itu artinya, kans penduduk sekitar untuk mengais rupiah akan terbuka semakin lebar.

Untuk itu, sejumlah 34 mahasiswa UNIDA Gontor yang diinisiasi oleh HMP EKIS mengadakan bakti sosial pengembangkan wisata alam Gunung Beruk dengan menanam bunga hias untuk mempercantik area wisata .

Melawan Dinginnya Fajar

Sesaat usai turun dari masjid maupun bilik sembahyang di tiap asrama, para peserta baksos bergegas menuju lokasi dengan menunggangi sepeda motor. Semangat yang berkobar sudah cukup membentengi diri dari dinginnya udara fajar. Bensin yang dibakar tiap kilometer yang ditempuh seolah bertransformasi menjadi energi penyemangat dalam jiwa sekaligus memantapkan niat untuk mengabdikan diri kepada masyarakat. Bagaimana tidak, bila niat dan tekad tidak bulat mengapa para peserta rela merogoh kocek sakunya demi menyewa motor beserta membeli bensin? Terlebih, kru baksos dengan sudi meninggalkan “singgahsananya” yang empuk dan cozydemi bergegas pergi ke lokasi bakti sosial Satu tahap awal, fierce battle berhasil terlewati, walaupun ada juga pencilan kecil yang berangkatnya menyusul.

Tadabbur Alam, Mensyukuri Karya Sang Illahi

keindahan alam yang disuguhkan gunung beruk sesaat setelah mentari muncul dari peraduannya

Sang surya masih tersipu malu menampakkan keseluruhan sinarnya. Setelah memakan waktu kurang lebih 15 menit perjalanan, kru baksos UNIDA tiba di lokasi. Sembari menunggu kios makanan di kaki Beruk beroperasi, kru baksos menapaki tiap jengkal jalan setapak punggung Beruk dengan cermat. Sesekali dihadapkan dengan tanjakkan yang curam. Terkadang hal ini membuat beberapa teman bertekuk lutut. Namun, itu semuanya tidak penting. Satu hal yang substansial adalah masing-masing kru baksos dapat menikmati keindahan alam dan menghirup sejuknya udara pagi yang menyelimuti punggung Beruk. Momen seperti inilah yang menjadikan kita semakin bersyukur atas karunia-Nya dan sungguh maha sempurnalah ciptaan-Nya.

berpose di salah satu spot foto wisata gunung beruk

Setelah puas bertualang mengitari beberapa spot swafoto, para peserta bersiap untuk mengisi tenaga agar bugar saat menjalani kegiatan inti, menanam bunga hias.

Cabut, Gali, Tanam

para peserta bakti sosial sedang melakukan briefing bersama ketua karangtaruna desa Karangpatihan,

para peserta baksos tampak semangat saat mencabut rumput liar

Setelah perut terisi cukup karbohidrat dan protein, pasukan baksos UNIDA bersiap mengikuti briefing bersama mas Teguh Cahyono sebagai Karang Taruna Desa Karangpatihan. Tim baksos UNIDA dibagi menjadi 3 kelompok kecil yang ditempatkan secara terpisah. Tugas dari masing-masing kelompok adalah membersihkan rumput liar yang tumbuh lebat menyungkup bunga hias. Setelah itu, tiap kelompok menyusun bunga hias yang tumbuh tak teratur menjadi lebih rapi dan enak dipandang. Dalam proses inilah mahasiswa UNIDA “mengeruk” sedikit tanah untuk ditanami bunga-bunga hias yang akan mempercantik panorama di area wisata.

Walaupun kelihatannya remeh, tetapi kegiatan semacam ini sangat membantu para warga sekitar dalam merawat dan menghias tempat wisata ini. Terlebih, terdapat sejumlah tunagrahita (keadaaan keterbelakangan mental) yang rutinitasnya menyiangi rumput liar agar jalanan setapak gunung tampak elok. Dengan adanya kegiatan bakti sosial ini, maka mahasiswa UNIDA Gontor telah meringankan tugas para tunagrahita tersebut dalam menjalankan kewajibannya di wisata alam Gunung Beruk ini.

Selain dari itu, dengan memperelok paronama Gunung Beruk, diharapkan semakin banyak wisatawan yang attracted mengunjungi wisata alam Gunung Beruk ini. Dengan demikian, perekonomian warga setempat dapat terdongkrak seiring dengan bertambahnya wisatawan Gunung Beruk. (A.M.Muhammad)

1 Comment

Leave a Comment