Bagaimana Cara Allah Swt Menghidupkan Perekonomian ?

“….dan kami turunkan air hujan dari langit lalu kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuhan yang baik”  (Q.S. al-Luqman ayat 10).

Jakarta– Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah (04/03/2019). DCS adalah semacam kajian exclusive dengan beberapa tokoh penting DEKS. “Ekonomi yang hidup dapat dianalogikan seperti kehidupan di dunia. Dan salah satu tanda adanya kehidupan di alam semesta ini adalah adanya aliran atau sesuatu yang mengalir. Seperti tubuh manusia yang dapat hidup dikarenakan adanya darah yang mengalir, peralatan elektronik yang dapat hidup dikarenakan adanya sumber listrik, bumi yang dapat berevolusi dan berotasi karena adanya energi dan masih banyak lagi. Inilah yang disebut dengan aliran, salah satu tanda adanya kehidupan adalah adanya aliran yang memberikan esensi. Sama halnya dalam upaya menghidupkan perekonomian, juga harus ditandai dengan adanya upaya mengalirkan sesuatu, agar perekonomian tetap berjalan seimbang.”

Begitulah singkat materi yang disampaikan oleh Bambang Himawan sebagai Deputi Gubernur Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia dalam DCS (DEKS Considerable Studies), yang dihadiri oleh beberapa staff DEKS dan peserta magang dari UNIDA yaitu Nilam Suci dan Isna Arifa.

Isna Arifah & Nilam Suci foto bersama Deputi Direktur DEKS Bambang Himawan

Beliau menjelaskan tentang bagaimana Allah Swt menghidupkan Perekonomian melalui relasi antara penerapan zakat, pelarangan riba dan judi. Dimana jika dianalogikan, tubuh dapat terus hidup karena ada darah yang mengalir dari jantung yang menjadi pemacu, sama halnya dengan perekonomian, ia akan terus stabil karena ada uang yang beredar dengan Zakat sebagai pemacunya. Seperti yang di jelaskan Allah Saw dalam al-Quran surat al Baqarah ayat 277, yang artinya “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.

Dalam Islam, zakat diartikan lebih dari sekedar pengumpulan dana untuk distribusi, melainkan merupakan sebuah upaya pengendalian harta masyarakat agar mengalir melalui aktivitas investasi agar harta tidak menumpuk, karena dalam zakat terdapat sistem yang membuat semua kekayaan pribadi mengalami ‘Depresiasi dan ini akan mencegah penumpukan harta disalah satu pihak.

Bambang Himawan menegaskan bahwa dalam zakat bukan hanya ada fungsi Funding to Distribute atau biasa kita sebut dana sosial 2,5% sebagai penyalur bagi pihak yang defisit, melainkan didalamnya terdapat hal yang jauh lebih potensial yang jika diterapkan secara benar dan istiqomah akan menjadi tonggak kebangkitan Indonesia dan umat muslim, yaitu fungsi Effort to Flowing atau fungsi pengendalian.

Mana yang disebut dengan aspek pengendalian dalam perihal zakat?. Aspek pengendalian tersebut ada pada nilai 97,5 % dana muzakki. Fungsi ini, merupakan control yang bersifat menekan (pressure) atas kemungkinan muzakki menumpukan harta, melalui aktivitas investasi. Upaya mendorong investasi melalui pemberian disinsentif atas penumpukan harta menjadikan dunia usaha jauh lebih menarik. Karena aktivitas investasi tergantung pada sejauh mana pressure atas keberadaan harta tersebut. sehingga dua fungsi zakat tersebut dapat digambarkan seperti:

Sehingga, pengendalian perekonomian melalui zakat akan menjadikan pendapatan negara semakin meningkat. Dan seluruh masyarakat dapat merasakan konsumsi, karena harta menjadi deras mengalir ke sektor ekonomi riil, melalui aliran investasi tersebut. Inilah cara Allah menghidupkan perekonomian melalui sistem Zakat yang dapat membawa keadilan bagi seluruh umat. Wallahualam. (Nilam/ed. M.Huda)

Leave a Comment