BI Institute: “Upaya Membangun Ekosistem Pembelajaran dan Riset Berbasis Teknologi Digital”

Jakarta– Seminar Nasional, TOT Kebanksentralan dan WorkShop SPEKTRO (6-8/08/2019). Pada tahun ini Bank Indonesia kembali mengadakan kegiatan Seminar Nasional, ToT Kebanksentralan, dan Workshop SPEKTRO sebagai rangkaian kegiatan BI Mengajar. Kegiatan ini ditujukan kepada 137 dari 80 perguruan tinggi di seluruh Indonesia yang telah mempunyai MoU (a memorandum of understanding) dengan Bank Indonesia. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari yang bertempat di Hotel Pullman Jakarta.

Kepala BI Institute Solihin M. Juhro

Seminar Nasional Kebanksentralan langsung dibuka oleh Kepala BI Institute Bapak Solikin M. Juhro, dalam sambutannya beliau sedikit mereview kembali semangat berdirinya BI Institute yaitu berawal dari perubahan tatanan perekonomian domestik dan global menuntut Bank Sentral untuk lebih proaktif dalam mencapai tujuan pembangunan nasional. Untuk itu diperlukan penguatan strategi kebijakan maupun kelembagaan yang didukung oleh Center of Advancement terkait riset, pendidikan, dan pengembanagan kepemimpinan. Sejalan dengan semangat dalam membentuk manusia yang profesional, kompetitif, berwawasan ekonomi, dan memiliki karaker kepemimpinan yang kuat serta mampu menghadapi tantangan kedepan.

Peserta seminar, ToT Kebanksentralan, dan Workshop SPEKTRO

Beliau juga menambahkan bahwa ada 4 pilar BI institute yang menjadi tiang penguat dalam mewujudkan apa yang telah dicita-citakan, yaitu : quality & inclusive learning, frontier & academic reseach, strategic partnership, dan public exposure. Kegiatan inipun sesuai misi yang telah dicanangkan oleh BI Institute dengan cara menghadirkan lingkungan pembelajaran, studi, dan riset yang kondusif bagi penciptaan SDM handal dibidang ekonomi dan keuangan. Materi kebanksentralan dapat dikenalkan lebih lanjut kepada seluruh peserta didik yaitu para mahasiswa khususnya dan masyarakat lingkungan sekitar pada umumnya.

Materi yang dibahas kali ini adalah Bauran Kebijakan Bank Sentral (Moneter dan Makroprudensial) oleh Bapak Solihin M. Juhro sebagai Kepala BI Institute, Koordinasi Kebijakan Makroekonomi oleh bapak Tarsidin, Strategi Nasioanl Pengembangan dan Pendalaman Pasar Keuangan oleh bapak Yoga Affandi, Kebijakan Makroprudensial dan Protokol Manajemen oleh ibu Cicilia A. Harun, Cyber Risk dan Fraud Dalam Pembayaran oleh bapak Iwan Setiawan, Pengedaran Uang: Kerangka dan Implementasi oleh bapak Hernowo Koentoadji, dan terakhir Ekonomi Digital: Peluang dan Tantangan oleh bapak Edo Lavika. Mereka semua seorang pakar dibidangnya masing-masing, selain sebagai peneliti ahli juga merangkap sebagai pelaku kebijakan. Sehingga beberapa ilmu dan pengalaman yang didapatkan di share kepada kami para pengampu kebanksentralan yang pada hakikatnya seorang akademisi. Berbagi pengalaman dan kritikan disampaikan dalam kegiatan ini.

Workshop SPEKTRO tentang e-learning, Banlit, dan iBI LIbrary

Selain daripada Training of Trainer (ToT) Kebanksentralan, terdapat pula Workshop  SPEKTRO. Pengenalan fitur-fitur baru dalam SPEKTRO seperti e-learning, Banlit, dan iBI Library, dtambah juga dengan tampilan yang terlihat baru dan tentunya menarik di dalam SPEKTRO, memberikan kemudahan bagi para pengunjung situs untuk mendapatkan informasi yang up to date tentang kebanksentralan. Peningkatan pola pembelajaran melalui digital mulai diterapkan dalam SPEKTRO. Perlu diketahui bahwasanya admin dari SPEKTRO sendiri merupakan dosen pengampu kebanksntralan. FDG (Forum Gorup Discussion) materi kebanksentralan baik itu secara penuh maupun sebagian yang diterapkan setiap universitas menjadi evaluasi dalam kegiatan ini.

Dalam hal ini Universitas Darussalam Gontor yang sudah melakukan MoU dengan Bank Indonesia tentunya berperan aktif dalam kegiatan ini, keikutsertaan UNIDA dalam kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat pengetahuan dan pengembangan sudi bidang Ekonomi Moneter. Pendalaman Kebijakan moneter secara keseluruhan merupakan salah satu jalan menuju dan memunculkan konsep Kebijakan Moneter Islam yang sampai saat ini masih dinilai sangat minim referensi, diperlukan beberapa penguatan dan strategi untuk mengenalkan lebih jauh bagaimana kebijakan moneter itu semestinya. (M.Huda)

Leave a Comment