Belajar dari Desa Ponggok

“Barang siapa gagal merencanakanSama dengan merencanakan kegagalan” (Andi Triyawan)

Hari sabtu yang lalu, penulis mendapat kesempatan mendampingi kepala desa Sambirejo beserta perangkat lainnya studi (ngangsu kaweruh) ke Desa Ponggok. Desa ini merupakan salah satu desa pecontohan nasional. Berkali-kali Jokowi membawa desa ini sebagai pilot project untuk ditiru desa-desa di Indonesia.

Saat memasuki gerbang desa, terasa sejuk dan nyaman karena daerahnya dengan dengan pegunungan. Lokasinya tepat di kabupaten Klaten bertetangga dengan daerah Istimewa Jogjakarta. Kantor Desa Ponggok seperti kantor bupati, sangat besar sekali, maklum  pendapatan desanya dari sekor wisata mencapai 5 milyar setiap bulannya.

Selain ini, desa ini memiliki sumber daya air yang melimpah ruah, kurang lebih 5 sumber mata air besar ada didalamnya. Sejak puluhan tahun yang lalu, perusahaan air kemasan terkenal di Indonesia telah menjalin kerjasama dengan pemdes sehingga setiap satu liter air yang diambil harus memberikan kompensasi kepada desa. Saat pertama kali harga seliter airnya adalah 1 rupiah dan sekarang sudah mencapai ratusan rupiah.

Dalam tulisan ini, saya cenderung menyoroti sosok kepala desa yang cukup inspiratif. Saat pemaparan perkembangan desa dengan segala kelebihan dan kekurangannya, mbah lurah (sebutan akrab kepala desa) terlihat mempunyai visi dan misi desa yang luar biasa. Ada yang menarik dibalik keberhasilan desa, kepala desa memiliki mimpi yang besar dan diimplementasikan dalam RPJM desa. Tidak hanya itu saja, data desa yang dimiliki oleh desa benar-benar diperhatikan kevalidannya, karena tidak banyak desa yang mengurus data desa. Kebanyakan dari kepala desa hanya menerawang data desa.

Mengambil pelajaran dari kepala desa Ponggok, sama seperti halnya dengan pemimpin-pemimpin lainnya. Seorang pemimpin hebat selalu mempunyai mimpi besar. Dari mimpi tersebut diteruskan dengan gerakan-gerakan dan perencanaan yang bertumpu dari data yang jelas. Kepala desa ponggok menggandeng beberapa ahli perencanaan dari UGM, pemerintahan daerah dan pemerintahan pusat.

Peta desa ditampilkan dalam sebuah slide dengan detail. Segala potensi desa terpetakan, dari struktur tanah, sumberdaya alam, tingkat pendapatan masyarakat, hatta bentuk bangunan rumah warga, berapa yang layak huni dan tidak layak.

Dari tahun 2005, Desa Ponggok mulai berbenah membangun desa melalui pemberdayaan masyarakat dari sektor wisata air. Terdapat 9 unit usaha Bumdes yang dikembangkan oleh pemdes, dari supermarket, wisata air, penginapan dan lain sebagainya. Ada salah satu tempat wisata desa ponggok yang sangat menarik sekali bernama Umbul sari. Wisata air yang satu ini berawal dari tempat pembuangan sampah warga desa dipinggiran sungai, yang kemudian dirubah 180 derajat menjadi aliran sungai yang jernih dengan ikan dan beberapa rumah indah dipinggirannya.

Ada sisi lain saat kepada Desa Ponggok memaparkan perkembangan desa, tercatat hampir 30 somasi hukum yang dihadapi selama memimpin desa Ponggok. Dan yang terbesar adalah fitnah korupsi 11 miliar yang ditujukan kepada kepala desa. Tidak ada satupun dari tuduhan tersebut yang terbukti. Semakin tinggi pohon, maka semakin besar hembusan angin yang dihadapi. Melihat besarnya tantangan yang dihadapi oleh kepala desa ponggok tersebut, alih-alih banyak dari kepala desa di Indonesia yang tidak memiliki keinginan untuk mengembangkan desa. Bekerjanya hanya bersifat minimalis dan cenderung pasif.

Namun dari semua itu, kepala desa Ponggok sebenarnya membuat harapan kepada semua warganya. Sehingga dari harapan tersebut lahirlah program-program hebat yang mensejahterakan masyarakat. Sun-Tsu (ahli perang china) pernah berkata sebuah harapan itu lebih penting daripada makanan dan senjata. Jika sekelompok pasukan hanya memiliki makanan dan harapan sehingga ia harus memberikannya kepada pihak musuh, sebenarnya ia masih punya kesempatan untuk menang karena senjata bisa mereka produksi. Begitu juga makanan, memiliki potensi yang sama dengan senjata. Namun jika mempunyai makanan dan senjata yang banyak, tetapi tidak memiliki harapan, maka pasukan tersebut tidak akan bisa menang selamanya. Terbukti dinasti Abbasiyah terakhir diluluhlantakkan oleh pasukan tartar mongol dikarenakan mereka tidak memiliki harapan untuk menang, meskipun makanan dan senjata yang mereka miliki. 

Dilain sisi saat nabi Muhammad menggali parit dalam perang khandaq. Dengan situasi para sahabat yang kekurangan dan kelaparan, rasulullah memberikan harapan berupa wahyu langsung dari Allah SWT, bahwa para sahabat akan membebaskan Persia dan romawi. Sehingga terbukti kekurangan dari makanan dan senjata itu bukan merupakan indikator kekalahan. Begitu juga kekurangan fasilitas bukan berarti menjadikan sebuah desa itu tidak berkembang. Telah terbukti bahwa seorang pemimpin desa yang punya mimpi besar mampu memberdayakan masyarakatnya. Milikilah mimpi yang besar, lalu buatlah perencanaan yang matang berbasis data yang valid, maka separuh kesuksesan sudah ditangan. Wallahua’lam 

Leave a Comment